Bahasa jurnalistik adalah gaya bahasa yang digunakan wartawan dalam menulis beita. Cirinya, singkat, padat dan mudah dipahami. Bahasa jurnalistik dapat dibedakan menurut bentuknya: bahasa jurnalistik majalah, bahasa jurnalistik televisi, bahasa jurnalistik radio dan lain-lain. Menurut KBBI bahasa jurnalistik adalah salah satu ragam bahasaIndonesia, selain tiga lainnya, ragam bahasa undang-undang, ragam bahasa ilmiah, dan ragam bahasa sastra. Menurut Rosihan Anwar, bahasa jurnalistik didasarkan pada bahasa baku, tidak menganggap sepi kaidah-kaidah tata bahasa, memperhatikan ejaan yang benar, dalam kosa kata bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan dalam masyarakat.
Menurut JS Badudu, bahasa jurnalistik harus singkatg, padat, sederhana, jelas, lugas, tetapi selalu menarik. Sifat-sifat itu harus dipenuhi oleh media cetak mengingat ia dibaca oleh lapisan-lapisan masyarakat yang tidak sama pengetahuannya. Orang tidak perlu mengulang-ulang apa yang dibacanya karena ketidakjelasan bahasa yang digunakan dalam media cetak. Menurut Asep Syamsul M. Romli, sifat bahasa jurnalistik ada dua yaitu, pertama komunikatif yakni langsung menjamah materi atau ke pokok persoalan (straight to the point) tidak berbung-bunga dan tanpa basa-basi. Yang kedua spesifik, yakni jelas atau mudah dipahami orang banyak, hemat kata, menghindarkan penggunaan kata mubazir dan kata jenuh, menaati kaidah-kaidah bahasa yang berlaku (ejaan yang disempurnakan), dan kalimatnya singkat-singkat.
Adapun teknis bahasa jurnalistik yaitu tulisannya mudah dimengerti, jelas nama subjek, predikat, dan objeknya, serta sebisa mungkin menggunakan kalimat aktif agar daya dorongnya lebih kuat. Contohnya, kalimat pertama “suami istri ditabrak mobil (pasif)” kalimat kedua “truk tronton tabrak suami istri (aktif)” kalimat kedua (aktif) lebih menarik dibanding kalimat pertama. Sebab penekanan kalimat ada pada truk tronton yang besar, sementara suami istri hanyalah objek yang kecil. Namun ada kalanya harus menggunakan kalimat pasif jika penekanannya ada pada objek.
Bahasa jurnalistik harus singkat, tulisan yang bersahabat biasanya tidak mengandung kalimat dan alinea yang panjang. Satu kalimat biasanya terdiri atas 10-20 kata. Sedang satu alinea cukup 2-3 kalimat. Selain singkat, bahasa jurnalistik juga harus sederahana. Hindari pengulangan kata dalam satu kalimat. Hindari pemakaian kata-kata asing (ilmiah), dan konsisten dalam menulis.
Akurat, keakuratan menjadi keharusan sebuah tulisan yang baik. Nama orang, jumlah bilangan, waktu, tidak boleh salah. Lebih baik diperiksa kembali sebelum tulisan dipublikasikan. Sebab ketidak akuratan akan menurunkan kepercayaan pembaca. Gramatikal juga harus diperhatikan dalam bahasa jurnalistik. Sebaiknya menggunakan EYD (ejaan yang disempurnakan). Namun jika bingung membuat ejaan yang benaruntuk satu kata, cobalah memilih salah satu yang dianggap paling benar dan umum. Kemudian konsistenlah menulis kata tersebut. Artinya jangan sampai di awal cerita kita menulis “praktek” lalu di tengah cerita kita menulis “praktek”. Ini tidak konsisten.