Blog Keywords

Keyword for Writing

  • Home
  • About
  • Template
  • Design
  • Blogger
  • Tips Tricks
Home » Archive for May 2012

5/12/12

Beragam Persepsi tentang Indonesia

Beragam Persepsi tentang Indonesia

Ketika masih duduk di sekolah dasar dulu, saya selalu menerima penjelasan dari bapak/ibu guru bahwa Indonesia adalah negara yang sangat indah, alamnya kaya raya,terbentang bagaikan zamrud khatulistiwa.
Penduduknya ramah-tamah, rukun, jujur, senang bergotong- royong, tetapi juga gagah berani melawan penjajah. Dengan senjata bambu runcing para pemuda mampu mengalahkan Belanda. Persepsi itu masih tertanam di benak saya, tetapi secara bertahap mulai terkoreksi. Ini terjadi bisa saja karena materi pengajaran dulu yang salah atau kondisi Indonesia sudah berubah.

Setelah belajar sejarah, ternyata kekalahan Jepang di hadapan sekutu memiliki andil besar bagi peluang kemerdekaan Indonesia tanpa memperkecil peran para pemuda yang gagah berani melawan Belanda dengan senjata bambu runcing. Dan yang sangat menyedihkan adalah persepsi dan keyakinan puluhan tahun yang mengatakan bahwa kepulauan Indonesia itu sangat indah dan kaya, bagaikan zamrud khatulistiwa.
Kini yang terjadi tengah berlangsung penggundulan dan perusakan hutan. Kandungan tambang di perut bumi pun diburu dan dikeruk dengan rakusnya sehingga merusak lingkungan hidup, baik alam maupun lingkungan sosialnya. Yang paling mencolok mata tentu saja di Situbondo yang populer dengan sebutan “Lumpur Lapindo”. Belum lagi yang jauh di tengah hutan atau di lepas pantai.
Jadi, ketika di SD dulu memperoleh penjelasan bahwa Nusantara ini jadi sasaran penjarahan oleh VOC, rasanya situasi hari ini tidak jauh berubah. Kalau dahulu yang dijarah sebatas rempah-rempah, sekarang berkembang menjadi kandungan minyak bumi, emas, nikel, hutan, kelapa sawit, dan entah apa lagi. Lagi-lagi, yang menjarah adalah kekuatan asing mirip zaman VOC dulu.
Jika dahulu ada istilah komprador, yaitu pribumi yang bersekongkol dengan penjajah asing, sekarang jumlahnya juga semakin banyak. Bahkan sekarang penjarahan semakin canggih, tidak hanya hutan jati dan pohon besar yang dijarah dan ditebangi, tetapi “pohon-pohon besar” berupa lembaga keuangan dan pusat-pusat industri juga dikangkangi kekuatan asing.

Apa dan Siapa Indonesia?
Jawaban dari pertanyaan ini pasti akan bervariasi, tergantung kepada siapa pertanyaan dikemukakan. Seorang teman pebisnis pernah sangat tersinggung ketika mendengar pandangan orang asing bahwa Indonesia lahan bisnis yang menggiurkan. Semua urusan, termasuk perizinan mudah diatur asalkan ada uang pelicinnya. Tanpa uang pelicin semua urusan akan lamban dan sulit di Indonesia.
Dengan uang semua urusan jadi lancar. Persepsi yang demikian tentu sangat menyakitkan,tetapi kebenarannya sulit ditolak mengingat kita semua mudah melihat dan mungkin punya pengalaman, misalnya ketika mengurus SIM atau KTP mesti dikenai uang pelicin. Persepsi lain yang mulai berkembang adalah Indonesia merupakan negara “pilkada”. Hitung saja, berapa ratus jumlah pemilihan kepala daerah yang berlangsung setiap tahunnya.

Hanya saja disayangkan, eksperimentasi dan praktik demokrasi ini tidak disertai penegakan hukum yang tegas dan jujur, tidak juga dibarengi dengan pendidikan politik bagi rakyat. Akibatnya, setiap ada peristiwa pilkada muncul money politic yang merusak mental rakyat dan kepala daerah yang dihasilkan juga tidak bagus. Maka logis jika sudah puluhan, bahkan di atas angka 100, mantan gubernur, bupati, wali kota, dan anggota DPR yang berurusan dengan KPK dan jadi penghuni tahanan.
Persepsi lain yang mengemuka, Indonesia termasuk tiga besar setelah India dan China yang senang mengunduh (download) foto dan gambar porno lewat internet. Hobi pornografi ini seiring dengan membengkaknya pengedar dan pengguna narkoba. Indonesia tidak saja sebagai pemakai, tetapi sudah masuk kategori produsen narkoba di kawasan Asia. Persepsi lainnya, Indonesia juga dikenal sebagai eksportir batu bara, minyak mentah, dan TKI dengan keahlian rendah.Yang terakhir ini membuat wajah Indonesia tercoreng.
Ketika bertemu teman dari Timur Tengah atau Malaysia, ketika pembicaraan masuk ke ranah TKI, saya sering tersipu malu. Apa yang dikemukakan di atas, fakta ataukah persepsi? Apa pun jawabannya, semua itu menutupi kehebatan dan kekayaan alam dan budaya Indonesia yang tak tertandingi. Rasanya nation branding kita lemah yang kemudian mengemuka dalam persepsi masyarakat dalam dan luar negeri jadi negatif.Persepsi ini sangat penting. Bukankah para politikus itu sibuk membangun opini dan persepsi bahwa dirinya hebat? Namun, persepsi pada akhirnya akan diperkuat atau terkoreksi oleh kenyataan.



Ditulis oleh Prof. Dr. Komaruddin Hidayat   
Jumat, 11 Mei 2012 08:25
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
10:21 PM

Berhalakan (Simbol) Agama?

Berhalakan (Simbol) Agama?



Tiada agama tanpa simbol-simbol. Sungguh tidak mudah menjelaskan simbolisme agama terhadap anak-anak. Namun sesungguhnya pada orang dewasa pun hampir sama saja halnya.
Orang nonmuslim Barat sering melontarkan anggapan, orang Islam itu ibadahnya menyembah Kakbah. Tak ubahnya menyembah berhala dari batu. Anggapan dan pertanyaan serupa bisa juga dialamatkan pada pemeluk agama lain. Benarkah umat Nasrani menyembah patung Bunda Maria dan Yesus? Benarkah umat Buddha menyembah patung Sidharta Gautama? Benarkah umat Hindu menyembah patung Ganesha?
Cara paling bijak, tanyakan saja langsung kepada umat beragama yang bersangkutan. Jangan menduga-duga, lalu hasil dugaan dan tafsiran itu dilekatkan kepada orang lain. Ini namanya labelisasi, satu bentuk kekerasan dalam wacana keagamaan. Objek yang menjadi sesembahan agama bersifat metafisik, transendental, tidak kasatmata, absolut, gaib, yang kemudian disebut Tuhan.
Namun kalau dikejar lebih lanjut lagi, apa dan siapa yang dimaksud dengan kata ”Tuhan”, maka diskusinya tidak pernah berakhir dari masa ke masa. Banyak kitab suci menjelaskan siapa Tuhan dan ribuan judul buku telah ditulis untuk membahas kata dan konsep Tuhan, baik berdasarkan kitab suci maupun analisis filsafat. Tiap agama memiliki konsep, doktrin, tradisi, dan tatacara beribadah bagaimana menyembah Tuhan.
Makanya setiap agama memiliki konsep tempat suci dan hari suci untuk melakukan ibadah.Tapi, lagi-lagi, kalau tiap konsep itu diperdebatkan, pasti tidak akan pernah selesai dan mungkin hanya akan menyakiti pihak lain. Ajaran dan praktik agama tidak untuk diperdebatkan, tetapi dipahami, dihayati, dan diamalkan. Kalau berbagi pengetahuan dan pengalaman antarumat beragama, itu bagus-bagus saja.
Dalam Alquran juga dianjurkan untuk berdialog dengan bijak dan baik, jangan main paksa. Adapun soal iman, Allah yang akan menimbang di akhirat nanti. Kembali pada soal simbol. Ada perbedaan antara simbol, tanda, dan ikon. Kalau perut lapar, maka melihat gambar sendok-garpu berarti tidak jauh lagi akan ada restoran. Tanda semacam ini ada yang menyebutnya indeks.

Patung Yesus dan Bunda Maria, itu masuk kategori ikon. Adapun ”salib” lebih bersifat simbolik, bukan indeks, bukan pula ikon. Islam melarang keras penggunaan ikon atau patung dalam peribadatan. Makanya di dalam masjid tidak akan ditemukan patung. Ini berbeda dari gereja, kuil atau kelenteng yang membolehkan ikon dalam upacara ritualnya. Tapi pertanyaannya, apakah mereka menyembah ikon atau patung? Tanyakan saja langsung kepada mereka.

Adapun simbol memiliki konsep dan makna yang lebih kompleks dan filosofis. Keterkaitan antara ”simbol” dan ”subjek atau objek” yang hendak dihadirkan dihubungkan dengan makna yang dibangun dan disepakati oleh sebuah komunitas, yang tidak mudah dimengerti oleh komunitas lain. Jadi, karakter simbol beda dari ikon atau indeks yang langsung bisa dipahami oleh siapa pun, yang hampir-hampir tidak menimbulkan perbedaan penafsiran.
Kecuali ketika ke luar negeri, misalnya ke Jepang, tiba-tiba saya merasa buta huruf, tidak memahami tanda-tanda dalam huruf Kanji. Simbol yang paling dalam maknanya dan sekaligus paling sensitif dibahas adalah menyangkut eksistensi Tuhan yang berkaitan dengan format peribadatan. Ketika orang Islam berebut mendekati dan mencium Kakbah, bagaimana memahaminya? Bahkan ketika saling adu tenaga untuk mencium ”hajar aswad”, keutamaan apa sesungguhnya yang hendak dicari?
Jawabannya sangat sensitif terhadap pertanyaan ini. Adapun tentang Tuhan, di dalam Islam yang lebih populer bukannya simbol, tetapi ”nama-nama” dan ”ayat-ayat” atau tanda-tanda kebesaran Tuhan. Ibarat hubungan dalam keluarga, kita memerlukan nama sebagai panggilan dan identifikasi. Kita mencintai seseorang karena sifat atau kepribadiannya, bukan mencintai namanya, sekalipun ada korelasi antara nama dan pemilik nama.
Kita mencintai dan menyembah dzat Allah, bukan nama Allah yang terdiri dari lima huruf itu. Bahkan sebanyak 99 nama Tuhan sangat populer dan dihapal. Apakah ketika menyebut nama-nama Allah itu hati dan pikiran kita juga paham dan terhubung dengan-Nya? Jadi, dalam beragama banyak sekali simbol dan tanda-tanda.
Kita tidak menyembah simbol, tetapi melalui simbol, tanda, dan nama, kita ingin memahami dan mendekati Tuhan yang melampaui ketiganya. Subhanallah. Maha Suci Allah dari berbagai dugaan, rekaan, dan tafsiran kita yang lemah ini.


Ditulis oleh Prof. Dr. Komaruddin Hidayat   
Jumat, 04 Mei 2012 08:18


0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
10:20 PM

Tiga Pilar Kebahagiaan

Tiga Pilar Kebahagiaan


Sebuah penelitian psikologi sosial menyebutkan, terdapat tiga pilar utama kebahagiaan seseorang, yaitu having a good family life, having a good job, dan having good friends and community.
Ketika diteliti, sebagian besar umur seseorang akan dihabiskan di dalam tiga zona pergaulan dan aktivitas di atas. Tiap zona aktivitas dan pergaulan akan saling melengkapi dan menutupi kejenuhan dan kekurangan yang lain. Yang pertama dan paling dasar adalah keluarga yang baik (a good family life). Secara emosional, keluarga memiliki daya gravitasi paling besar bagi kehidupan seseorang. Apa pun yang dilakukan seseorang di luar rumah pada akhirnya akan kembali kepada keluarga sehingga rumah tangga sering diibaratkan tempat berlabuh bagi sebuah kapal setelah mengembara ke lautan lepas.
Oleh karenanya, karier seseorang yang otentik dan kokoh hanya akan mungkin diraih kalau basis keluarganya solid. Soliditas keluarga dibangun terutama oleh hubungan cinta dan iman. Cinta bagaikan pupuk atau air yang akan membuat pohon rumah tangga selalu tumbuh segar, sedangkan iman memberikan ikatan moral yang kuat bahwa rumah tangga adalah amanat suci dan sebuah bahtera yang jangkauannya sampai di akhirat nanti. Rumah tangga bukan sekadar transaksi administrasi layaknya jual-beli, melainkan juga sebuah perjalanan dan pertumbuhan moral-spiritual. Kedua, having a good job.
Seseorang bekerja tidak semata untuk mengejar uang, tetapi menyangkut harga diri, aktualisasi diri, dan bersosialisasi di luar zona keluarga. Bisa dipastikan, orang yang menganggur, meski memiliki banyak uang, tidak akan bahagia. Orang yang hidup semata mengandalkan harta warisan tidak akan bangga dengan dirinya. Begitu pun mereka yang bekerja, tetapi tidak merasa cocok dan bangga dengan pekerjaannya, hatinya akan tersiksa. Ruang kerja bagaikan ruang tahanan.
Kerja akan terasa nyaman jika sesuai dengan bakat dan minatnya serta kulturnya bagus, tidak koruptif, dengan imbalan gaji yang cukup, syukur berlebih, untuk mendukung kehidupan keluarga. Sebuah lingkungan kerja akan dianggap sehat kalau para karyawannya memiliki peluang dan dorongan untuk tumbuh, baik skill, pengetahuan maupun kepribadiannya. Apalah artinya gaji tinggi jika ternyata tidak halal dan budayanya koruptif. Semua itu akan merongrong kualitas kebahagiaan yang dibangun dalam rumah tangga. Ketiga, lingkungan pertemanan dan komunitas.
Kita semua mengalami bahwa umur kita tidak hanya dihabiskan dalam urusan rumah tangga dan kerja, tetapi juga bermasyarakat. Itu suatu kebutuhan sosial dan psikologis. Makanya muncul komunitas “alumni” di luar jaringan keluarga dan kerja. Hanya, penting dicatat bahwa lingkungan pergaulan yang tidak sehat akan menggerogoti aset kebahagiaan yang kita bangun lewat zona keluarga dan kerja.
Sering terjadi sebuah keluarga terjerat masalah oleh jaringan pertemanan yang tidak sehat. Ini paling mudah diamatipadaremaja, tetapibisa juga terjadi pada orang dewasa. Keburukan itu mudah menular, bahkan kadang lebih cepat dari kebaikan. Olehkarenanya, having good friends and community merupakan satu pilar penting untuk meraih kebahagiaan hidup seseorang. Demikianlah, tentu saja banyak pilar lain yang memengaruhi kebahagiaan seseorang. Namun ketiga aspek tadi begitu dominan.
Di atas ketiganya, menurut hasil penelitian dimaksud, adalah personal values. Nilai-nilai hidup seseorang akan sangat berpengaruh dalam memaknai hidup ini. Bagi orang yang taat beragama dan tidak, tentu akan berbeda dalam memandang keluarga, harta, dan pergaulan. Ada orang yang yakin dengan banyak bederma, bersedekah ,maka jalan rezeki akan semakin terbuka. Namun ada yang berpandangan sebaliknya. Inilah yang dimaksud dengan personal values.
Sebuah kerangka berpikir dan keyakinan hidup yang sangat berpengaruh dalam perilaku seseorang, termasuk dalam berumah tangga, bekerja,dan bermasyarakat. Sebagai pribadi saya yakin kerja dan harta yang tidak halal tidak akan mendatangkan berkah dan kebahagiaan. Jika harta haram masuk ke mulut kemudian mengalir bersama darah dalam tubuh,maka harta haram tadi akan masuk disertai energy negative (setan) sehingga perilaku seseorang juga akan seperti setan.
Pikirannya, tangannya, kakinya,mulutnya akan dikendalikan oleh setan. Makanya sebagai orang tua mesti hati-hati memberikan rezeki atau nafkah kepada keluarga. Hindari membawa barang haram ke rumah jika kita benar-benar sayang kepada keluarga. Jangan membawa racun kehidupan.


Ditulis oleh Prof. Dr. Komaruddin Hidayat   
Jumat, 27 April 2012 08:28
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
10:18 PM

Sopir Taksi yang Tercerahkan

Sopir Taksi yang Tercerahkan

Untuk kesekian kalinya saya menjadi pendengar manis sopir taksi yang memperolok-olok bupati, wali kota, dan anggota DPR yang korup dan masuk tahanan. Faiz, sopir taksi Kota Semarang ini,merasa bersyukur dan bangga menjadi sopir ketimbang pejabat negara atau wakil rakyat yang korup.
Mereka membuat rakyat sengsara dan keluarganya menanggung malu. Pertengahan April lalu, saya berkeliling naik taksi di Semarang. Rupanya dia mengenal wajah saya yang suka tampil di layarkaca, sehingga dia membuka pembicaraan seputar politik. Saya mulai dengan memberi apresiasi Kota Semarang yang tertib dan bersih. Namun, jawabannya sungguh membuat saya tercengang. Menurut Faiz,masyarakat Jawa Tengah itu religius dan mewarisi budaya luhur.
“Tetapi saya heran, mengapa pemimpinnya pada lupa diri. Banyak yang korup. Dulunya mereka miskin, hidup pas-pasan, tetapi setelah menjabat jadi berubah. Mabuk kekuasaan, yang ujung-ujungnya menyengsarakan diri, keluarga, dan rakyat. Sekarang mereka masuk penjara,” kata Faiz bersemangat. Ketika menyebut korupsi dan masuk penjara, saya menjadi penasaran, ingin tahu, siapa saja mereka itu.
Maka sopir taksi itu nyerocos: Wali Kota Semarang Soemarmo HS, status hukum tersangka, kini ditahan KPK; Ketua DPRD Jawa Tengah, Murdoko, tersangka,dan kini ditahan KPK; Akhmat Zaenuri, Sekda Kota Semarang, sedang proses Pengadilan Tipikor; Probo Yulastoro, mantan Bupati Cilacap, sedang menjalani hukuman penjara; Hendy Boedoro, mantan Bupati Kendal, terdakwa dan kini dalam penjara; Bambang Bintoro, mantan Bupati Batang, posisi tersangka; Agung Purno Sardjono dan Sumartono anggota DPRD Kota Semarang, terdakwa; Tasiman, mantan Bupati Pati, status terdakwa; Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Riza Kurniawan, status tersangka.
Demikianlah, sopir taksi tadi begitu lancar menyebut sekian nama orang penting di Jawa Tengah yang terlibat korupsi, termasuk pejabat di Tegal dan Sragen. Karena begitu meyakinkan, sementara saya tentu agak ragu dan sulit menghafal nama-nama yang dia sebut, maka saya menghubungi Saudara Nur Hidayat Sardini, dosen Undip Semarang, minta klarifikasi dan konfirmasi tentang isu tersebut.
Juga Saudara Sonya, perwakilan Kompas di Semarang.Ternyata keduanya membenarkan cerita sopir taksi tersebut.Astaghfirullah, batin saya. Mau dibawa ke mana negara dan rakyat Indonesia ini? Cerita Faiz tidak hanya berhenti di situ. “Banyak orang berambisi ingin mencalonkan diri jadi bupati atau wali kota. Mereka sudah keluar uang puluhan miliar untuk biaya kampanye, tetapi ternyata kalah.
Ujungnya mereka jatuh miskin, sakit-sakitan, keluarga berantakan, bahkan ada yang sudah meninggal, ”celotehnya berlanjut,“ dulu saya malu jadi sopir taksi. Tetapi sekarang saya bangga. Ini pilihan Tuhan yang terbaik buat saya dan keluarga,” ujarnya. Faiz sering mendapat penumpang pengusaha dan politisi yang lagi pusing. Kepalanya dipukul-pukul sendiri. Ada yang kalah judi, terkena peras, dan merasa diancam polisi atau pengadilan kalau tidak bisa melunasi utang-utangnya.
Yang membuat Faiz dilematis adalah ketika mendapatkan order dari perempuan penghibur. Dia ingin mencari rezeki yang halal dan bersih, tetapi kadang mesti mengantar tamu atau perempuan yang kerjanya begituan. “Untunglah saya sedikit-sedikit belajar hakikat hidup dan tawajjuh dari seorang ustaz,” kata Faiz, “saya merasa dekat dengan Allah, bahkan saya sering menasihati penumpang taksi yang lagi bingung, tidak punya tujuan hidup yang jelas.”
Mendengarkan obrolan sopir taksi serasa saya memperoleh kuliah dari seorang guru kehidupan yang bijak bestari. Ternyata di mata seorang sopir taksi, kejujuran, kerja keras, dan selalu mensyukuri hidup itu jauh lebih berharga ketimbang jabatan, popularitas, dan gemerlap harta. “Saya pernah mabuk harta dan ambisi jabatan, tetapi itu masa lalu,” kata Faiz, “Tuhan selalu menguji hamba-Nya, termasuk saya, yang sekarang jadi sopir taksi. Semoga saya lulus dalam ujian ini dan memperoleh kehidupan yang berkah,” doanya menutup obrolan.


Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat   
Jumat, 20 April 2012 08:34
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
10:17 PM

The Magic of Gratitude

The Magic of Gratitude

Sikap positif untuk selalu bersyukur atau terima kasih itu memiliki keajaiban di luar yang kita perhitungkan. Sungguh tepat, hampir semua kitab suci dan agama yang saya pelajari selalu mengajarkan untuk selalu bersyukur atas anugerah hidup.
Apa pun kondisinya, selalu saja ada yang pantas sekali kita syukuri. Barangsiapa bersyukur, Allah pasti akan menambah nikmat yang sudah diterimanya. Tetapi, barangsiapa yang selalu mengingkari nikmat-Nya, pasti hidupnya akan menderita (Alquran, 14:7). Sikap bersyukur dan senang mengucapkan terima kasih hanya akan muncul dari orang yang mencintai kehidupan. Nasihat suci itu mudah sekali kita amati dan buktikan dalam pengalaman hidup sehari hari.
Dalam ungkapan klasik dan populer, di alam semesta ini berlaku law of attraction. Hukum tarik-menarik antara sesama energi. Kalau seseorang selalu berpikir positif, gembira, dan mensyukuri hidup, energi dan nasib positiflah yang akan datang bergabung pada orang itu. Sebaliknya, orang yang selalu berpikir negatif dan serba mengeluh, dunia akan selalu terlihat gelap dan menyiksa. Mereka yang mempelajari teori kekuatan bawah sadar sangat percaya dengan formula ini.
Apa pun yang dibayangkan, pikirkan, dan bisikkan di hati, sesungguhnya seseorang tengah berjalan menuju apa yang dia dambakan. Lebih kuat lagi daya tarik sukses itu kalau disertai doa memohon kepada Allah untuk ikut campur tangan memudahkan jalannya. Coba amati perilaku diri kita masing-masing.Ketika hati dan pikiran jernih lalu mengalir darinya rasa syukur, menatap terbit matahari pagi pun akan terlihat indah. Pepohonan juga turut bicara.
Kehadiran mereka memberikan kesejukan mata dan berbagi oksigen yang diperlukan manusia. Belum lagi guyuran air di pagi hari yang membuat badan sehat dan segar.Semua itu menjadi hidup dan terasa melimpah hanya ketika seseorang memiliki hati dan pikiran positif untuk selalu mensyukuri anugerah kehidupan. Demikianlah selama 24 jam begitu melimpah anugerah Tuhan yang pantas kita syukuri, tanpa kehilangan sikap kritis dan peduli terhadap keadaan yang kurang nyaman.
Situasi sosialpolitik yang pengap bahkan merupakan salah satu panggilan dan peluang untuk berbuat kebajikan menolong sesama sebagai ungkapan rasa syukur utamanya bagi mereka yang memiliki ilmu, kekayaan, jabatan,serta kesehatan untuk mengisi hidup agar lebih bermakna. Pikiran itu ibarat kacamata. Jika warna kacanya hitam, pemandangan akan menjadi hitam.Tentu saja pikiran lebih dari kacamata karena pikiran akan memengaruhi kinerja organ-organ lain dalam tubuh kita, dari yang kasar sampai yang halus.
Pikiran yang sehat, kreatif, dan konstruktif akan membangun dunia imajinasi yang sehat.Pikiran negatif akan selalu mengutuk lingkungan yang dijumpai, di mana saja, kapan saja,dan siapa saja. Selalu berpikir negatif tak ubahnya mengoleksi memori negatif dalam album atau disket pikiran kita sehingga ketika muncul ke permukaan yang keluar adalah cerita dan narasi negatif.
Para nabi dan avatar telah memberikan contoh. Ibarat pohon teratai yang tumbuh di kolam yang kotor dan berlumpur, selalu saja pohon teratai memberikan bunga yang indah dan bersih. Mereka menghadapi dunia yang semrawut, amburadul, namun pikiran tetap kritis, konstruktif, dan hati jernih untuk membangun dunia baru yang beradab yang menjadi warisan dan kekayaan sejarah. Yang selalu merusak pribadi yang penuh syukur adalah sikap rakus dan sombong.
Orang yang rakus sulit mensyukuri anugerah yang sudah di tangan. Sebaliknya, dia akan selalu merasa kurang terus sehingga hatinya selalu merasa miskin dan gelisah. Inilah yang mungkin menjangkiti para politisi dan pejabat negara kita sehingga tidak mampu menahan dorongan korupsi. Berapa pun jumlah gaji dan kekayaan yang didapat akan selalu dirasakan kurang. Suasana batin ini diperparah lagi ketika bertemu dengan sikap sombong.Tidak rela, bahkan sakit hatinya, ketika melihat orang lain berlebih dari dirinya.
Karena itu, rakus, sombong, dan dengki selalu hadir dan bekerja bersamaan. Jika tiga penyakit itu bercokol pada orang yang memiliki kedudukan tinggi dalam pemerintahan, kekayaan negara dan hak rakyat akan dilibas dan dikeruknya. Berbahagialah mereka yang mampu memelihara hati dan pikiran untuk selalu bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan dan sesama mengingat nilai kekayaan dan kepintaran itu pada akhirnya bukan pada jumlahnya, melainkan pada fungsi dan manfaatnya untuk membuat kehidupan lebih bermakna.
Hidup lebih nyaman, terbebas dari perasaan salah dan dikejar dosa. Seorang koruptor bisa saja merasa menang dalam proses pengadilan.Tetapi, pengadilan nurani tak bisa dibohongi.Bagi orang yang beriman, kita semua akan menghadap pengadilan Tuhan yang tak mungkin disuap.Yang membela dan meringankan adalah amal kebajikan kita.


Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat   
Jumat, 13 April 2012 08:18
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
10:15 PM

Language is Our House of Being

Language is Our House of Being

“Kita tinggal dan tumbuh di dalam dan dengan bahasa,”kata Heidegger. Dengan bahasa,dunia manusia semakin meluas dan terstruktur. Dengan bahasa, dunia manusia menjadi terbentang melewati batas fisik,etnik,agama, kebudayaan, dan generasi.
Dengan bahasa, benda-benda serta orang-orang di sekelilingnya dirajut dengan pemberian nama atau label sehingga dengannya manusia menciptakan jaringan komunikasi dan membangun makna-makna. Seperti dikatakan Whitehead, dalam tindakan berbahasa seseorang berbicara kepada dua objek,yaitu ke dalam berbicara kepada diri sendiri dan ke luar kepada orang yang lain.
Dengan demikian, bahasa merupakan medium ekspresi dan eksternalisasi diri agar dirinya dipahami dan diterima orang lain. Sebaliknya, lewat bahasa pula seseorang melakukan identifikasi dan internalisasi nilai-nilai serta informasi yang dijumpai di sekelilingnya. Dengan kata lain, berbeda dari dunia hewan,bahasa telah memungkinkan manusia keluar dari dunia insting ke dunia refleksi dan makna.
Dengan bahasa, alam sekelilingnya diberi atribut dan klasifikasi sehingga pada gilirannya atribusi dan klasifikasi mengantarkan lahirnya ilmu pengetahuan dan teknologi. “The lore of our father is a fabric of sentences,” demikian salah satu adagium populer di kalangan filsuf bahasa. Pengetahuan dan adat-istiadat orang tua kita adalah bangunan makna-makna yang terajut dalam jaringan kalimat yang diwariskan secara turun-temurun kepada anak cucunya.
Di dalam bahasa dan melalui bahasa, peradaban diwariskansecaraturun- temurun. Catatan tentang pengalaman hidup, himpunan ilmu pengetahuan, serta nasihat bijak dari nenek moyang kita tersimpan dalam wadah bahasa sehingga generasi yang datang tidak harus membangun peradabannya mulai dari nol.Transmisi atau alih peradaban tersebut, pada mulanya,hanya mengandalkan medium atau mata rantai bahasa lisan.
Namun saat ini,bahasa lisan dan bahasa ritual diperkuat lagi dengan bahasa tulis dan teknologi video kamera. Meskipun bahasa kelihatannya bersifat nonmateri karena berupa gagasan, ekspresi perasaan dan kata-kata, ia memiliki kekuatan yang sangat besar dan berpengaruh secara riildalam kehidupan sehari-hari dan bahkan bisa menciptakan sebuah revolusi sosial.
Terlebih lagi ketika teknologi kaset,televisi, mesin cetak, dan sekarang berkembang jaringan internet melalui komputer,penyebaran informasi dan gagasan berlangsung semakincepat. Lewat buku, seorang penulis sejarah bisa merekonstruksi peristiwa masa lalu untuk dihadirkan ke forum “kini dan di sini”(now and here). Jarak ruang dan waktu bisa dipersempit dan bisa juga diperlebar oleh wawasan ilmu pengetahuan yang dikomunikasikan melalui bahasa.
Jika sejarah berhasil mendekatkan masa lalu ke masa kini,prediksi tentang masa depan pun bisa diproyeksikan sejak hari ini. Di sini, lagi-lagi semakin terlihat betapa eratnya kerja sama antara berbagai disiplin ilmu, sementara itu bahasa tampil sebagai medium dari semua wacana keilmuan dan aktivitas kehidupan. Kalau saja tak ada institusi bahasa, terlebih bahasa tulis, dunia manusia akan menjadi sempit, pendek, karena khazanah hidup masa lalu akan lenyap bersama perjalanan waktu.
Setiap peristiwa sejarah hanyalah terjadi sekali dan kemudian menghilang. Meskipun ada kalanya terjadi peristiwa serupa pada waktu yang berbeda,keduanya tetap tidak identik. Untunglah ada rekaman masa lalu sehingga kita bisa belajar untuk memperbaiki hidup hari ini dan esok. Himpunan dan akumulasi pengalaman manusia yang berlangsung dan tumbuh dalam sejarah kemudian dinamakan tradisi, termasuk di dalamnya tradisi keagamaan.
Bagi umat Islam,salah satu tiang penyangg atradisi yang paling kukuh adalah pembukuan wahyu Allah dalam Alquran yang mata rantai transmisinya secara historis ilmiah diakui paling solid dan paling autentik ketimbang wahyu yang diterima oleh nabi-nabi sebelumnya. Bahasa, sebagaimana juga agama, memiliki dimensi individual dan sosial meskipun sesungguhnya yang satu mesti mengasumsikan yang lain.
Konsep individual hanya bisa dipahami karena adanya relasi sosial dan sebaliknya konsep social tidak mungkin muncul tanpa adanya konsep individu. Bahasa dalam dimensi dan konteks individu mudah dihayati ketika misalnya kita merenung sendiri ataupun tengah bermunajat sendirian kepada Tuhan. Tapi,meskipun sendiri,kita sebenarnya berbicara terhadap yang lain (the others).
Mulutmu harimaumu, kata orang bijak.Apa yang diucapkan seseorang tidak semata ditangkap sebagai rentetan bunyi, melainkan juga ekspresi diri. Ucapan adalah sebuah jendela bagi orang lain untuk melihat ke dalam,pikiran dan perasaan apa yang tersembunyi di balik ucapan. Atau, ucapan adalah sebuah pintu untuk mengungkapkan keluar jati diri seseorang. Oleh karena itu, jika seseorang tidak bisa dipegang dan dipercaya lagi apa yang diucapkan, terlebih janjinya, maka hancurlah martabat kemanusiaannya. Bagaimana dengan janji-janji politisi?

Ditulis oleh Prof Dr KOmaruddin Hidayat   
Jumat, 30 Maret 2012 08:43

0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
10:14 PM

5/7/12

Trans 7

Trans 7
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
5:13 AM
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Comments (Atom)
Find Us :

Entri Populer

  • Kode Etik Jurnalistik
    Kode etik jurnalistik sangat penting bagi wartawan untuk mengatur etika-etika sang wartawan dan menentukan yang mana harus dilakukan dan ya...
  • TV ONLINE
    blog free download
  • Embun Pagi
    Ketika Jendela Terbuka Sinar Matahari Mencubit Manja Kulit Wajahku Membelai Halus Selembar Nyawaku Setetes Embun Ku Jilat Sejuk Mera...
  • PUTRA NABABAN SANG JURNALIS BERPRESTASI
    Putra Nababan mengawali karirnya di Koran Merdeka yang berubah nama menjadi Rakyat Merdeka, kemudian pindah ke Metro tv dan ke RCTI. Pria ...

Arsip Blog

  • ►  2013 (1)
    • ►  June (1)
  • ▼  2012 (27)
    • ►  November (1)
    • ▼  May (7)
      • Beragam Persepsi tentang Indonesia
      • Berhalakan (Simbol) Agama?
      • Tiga Pilar Kebahagiaan
      • Sopir Taksi yang Tercerahkan
      • The Magic of Gratitude
      • Language is Our House of Being
      • Trans 7
    • ►  April (5)
    • ►  March (5)
    • ►  February (2)
    • ►  January (7)
  • ►  2011 (74)
    • ►  December (9)
    • ►  November (3)
    • ►  October (6)
    • ►  September (8)
    • ►  August (11)
    • ►  July (8)
    • ►  June (6)
    • ►  May (9)
    • ►  April (7)
    • ►  March (5)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2010 (27)
    • ►  December (10)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (3)
    • ►  August (10)

Pages

  • BERANDA
  • RADIO STREAMING
  • TV ONLINE
  • VIDEO
  • PICTURE

Pages

  • Home
ar_mutajalli. Powered by Blogger.
Copyright 2013 Blog Keywords - All Rights Reserved
Design by Mas Sugeng - Published by Evo Templates