Blog Keywords

Keyword for Writing

  • Home
  • About
  • Template
  • Design
  • Blogger
  • Tips Tricks
Home » Archive for April 2011

4/26/11

Jurnalisme Sastrawi

Jurnalisme Sastrawi
Jurnalisme sastra adalah reportase berita yang dikemas dalam bentuk karangan naratif yang didramatisir oleh penulis untuk mengundang empati pembaca.
Jurnalisme sastra berkembang di Amerika sekitar tahun 1962. Saat itu, Thomas Kennery Wolfe, seorang Doktor di Universitas Yale, Amerika, menemukan sebuah penulisan reportase gaya baru dalam bentuk karangan naratif karya Gay Talase yang mengisahkan tentang hidup Joe Luis sebagai seorang petinju lapuk.
Dari sanalah Wolfe merasa terkesan dengan tulisan semacam itu. Dia mulai mengembangkan penulisan jurnalistik itu tidak semata-mata menghadirkan karangan eksposisi yang berupa kalimat-kalimat tunggal berupa fakta. Akan tetapi, penulisan jurnalistik akan lebih cair dan emosional ketika ditulis dengan gaya naratif deskriptif, layaknya sebuah novel, namun tetap tidak mengesampingkan fakta yang sesungguhnya.
Jika biasa tulisan jurnalistik selalu dibatasi dengan unsur What, Who, Where, When, Why, dan How dengan gaya bahasa yang eksposisi yang cenderung kaku. Tidak dalam jurnalisme sastra. Pengembangan penulisan jurnalistik dibagi menjadi empat kategori.
1. Adovcacy Journalism, yaitu mengembangkan tulisan jurnalistik untuk mengembangkan opini publik dengan penekanan objektivitas untuk mewujudkan fungsi penjaga moral.
2. Alternative Journalism, yaitu memetakan upaya jurnalisme dengan mengkhususkan targetpembaca.
3. Precision Journalism, yaitu menggunakan metode ilmiah oleh dunia akademis ke dalam teknik pencarian berita.
4. Literary Journalism, yaitu membuat berita dengan sejenis kreasi sastra yang dikemas dengan gaya baru dalam penulisan nonfiksi seperti sebuah novel, hanya saja dengan gaya jurnalistik yang berdasarkan fakta.
Ada beberapa hal yang berbeda dalam penulisan jurnalisme sastra agar tulisan lebih akrab dengan pembaca.
• Mengamati seluruh suasana.
Hal ini bisa dengan mendeskripsikan latar tempat, latar waktu, dan latar suasana yang terjadi dalam berita
• Meluaskan dialog.
Maksudnya memberi sedikit narasi singkat dalam dialog-dialog antar-tokoh dalam berita dengan atau tidak menambahkan fakta yang sebenarnya.
• Sudut pandang orang ketiga.
Sudut pandang orang ketiga ini berguna untuk menyapa pembaca agar pembaca merasa lebih akrab dengan tulisan sehingga terjalinhubungan emosional secara tidak langsung antara pembaca dan penulis berita.
• Mencari monolog interior.
Monolog interior berfungsi untuk mendramatisisr keadaan dengan fakta yang sesungguhnya dengan tidak melebih-lebihkannya.
Salah satu akar dari pengembangan jurnalistik sastra adalah featureyang dikembangkan Wolfe yang mengetengahkan sebuah berita dengan lebih kronologis dengan bahasa yang lebih naratif dan akrab. Biasaya tema yang diangkat dalam tulisan feature adalah human interest yang kerap menyimpan pengalaman sentimentil dari orang-orang yang menjadi sumber berita.
Dalam tulisan feature pun dilengkapi dengan para tokoh yang ahli di bidangnya yang dirangkaikan menjadi sebuah cerita yang utuh. Dari sinilah muncul bentuk tulisan yang disebut jurnalisme sastra.
Berikut ini adalah cara menyusun tulisan jurnalisme sastra.
• Penyusunan Adegan
Penyusunan adegan harus berdasarkan fakta yang sesungguhnya dengan alur yang kronologis, yang berdasar pada hubungan kausilitas setiap peristiwa. Setiap reka adegan dibuat sedikit sentimentil agar membaca larut dan berempati pada cerita yang ada.
• Penyusunan Dialog
Penyusunan dialog harus berdasarkan apa yang terjadi di lapangandan tidak ditambahkan-tambahkan atau dikurangi. Dengan dialog diharapkan akan terbangun watak setiap tokoh dalam sebuah peristiwa sehingga pembaca dapat menyimpulkan sendiri setiap karakter yang ada di sana.
• Penyusunan Sudut Pandang
Penyusunan sudut pandang sangat penting dalam penulisan jurnalisme sastra. Sudut pandang orang ketiga mutlak diperlukan karena si pencari berita seolah terlibat dalam semua peristiwa yang melaporkan kepada pembaca tentang apa yang terjadi. Bisa saja si pelapor itu menjadi tokoh utama dalam penulisannya agar bisa lebih akrab dengan pembaca.
• Mencatat Detail
Semua hal yang terjadi harus tercatat secara terperinci berdasarkan peristiwa yang terjadi, misalnya adat, kebiasan, latar waktu, latar tempat, latar suasana, karakter tokoh, harus tergambarkan dengan baik.
Salah satu contoh dari bentuk jurnalisme sastra yang bisa dijadikan referensi bacaan Anda adalah Luka Cinta Andrea karya Suzanne O’Malley, sebuah novel nonfiksi yang ditulis dengan gaya naratif eksploratif sastra. Mengisahkan tentang seorang ibu yang membunuh kelima anaknya dengan cara ditenggelamkan ke dalam bak mandi di rumahnya. Peristiwa ini terjadi pada 2001 dan menjadi berita terheboh di Amerika.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
7:25 PM

4/17/11

Menulis, Bicara tanpa Bunyi

Menulis, Bicara tanpa Bunyi
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
3:54 AM

I Love Writing (29): Menulis dengan Modal Nekat, Bisakah?

I Love Writing (29): Menulis dengan Modal Nekat, Bisakah?
“Saya sudah banyak menulis di buku harian, juga di blog. Tetapi, hingga kini masih saja saya nggak pede menulis untuk koran atau majalah. Bagaimana mengatasinya?”
Ada sahabat yang merasa tak percaya diri, masih ragu-ragu, masih merasa belum pantas menulis ke media cetak seperti ke koran atau majalah. Perasaan seperti itu menyebabkan ia tidak berani mengirim artikelnya. Ia khawatir, jangan-jangan tulisan itu menjadi bahan tertawaan, ditolak, dan sebagainya, sehingga jadi malu. Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan?
Menulis itu memerlukan kepercayaan diri yang besar, termasuk untuk mengirimkannya ke media cetak. Pertama, yang diperlukan adalah meningkatkan pengetahuan. Caranya, antara lain dengan secara berkesinambungan menambah pengetahuan melalui buku-buku dan sumber lainnya yang berguna. Kedua, berlatih dan berlatih menulis terus-menerus. Contoh saja balita yang belajar berdiri, ia berusaha berdiri, jatuh, berdiri lagi, jatuh lagi, berdiri lagi dan begitu seterusnya hingga pada akhir ia bisa berdiri, bahkan kemudian berjalan. Mungkin kita perlu menghayati peran seperti seorang bayi yang belajar berdiri dan berjalan tatkala tengah mengembangkan kemampuan menulis. Menulis lagi, kirim, ditolak, menulis lagi, kirim, begitu seterusnya hingga suatu saat redaksi mengalah dan memuat karya kita. Redaksi mengalah, bukan karena dia bosan atau kasihan sehingga menerima kiriman naskah kita, melainkan lantaran dia mulai melihat betapa berbobot naskah yang kita kirim kepadanya. Nah, kalau sudah seperti ini, siapa yang tidak mau?
Rasa tidak percaya diri itu adalah faktor psikologis yang dapat mengganggu perjalanan karier kita. Dia menjadi faktor penghambat/penghalang kemajuan di dalam bidang apa pun. Oleh karena itu, penting sekali mendongkrak rasa percaya diri dengan mengasah kemampuan di bidang yang diminati, bertekun di dalamnya, dan berkarya. Tidak ada pilihan lain. Tidak akan ada hasil apa-apa kalau kita tidak berkarya nyata. Mimpi menjadi penulis pun akan tinggal mimpi saja kalau kita tidak membuatnya menjadi realita. Belakangan baru akan muncul penyesalan dengan menyalahkan diri sendiri, mengapa telah menyia-nyiakan waktu hanya untuk mengkhayal menjadi penulis sukses tanpa dibarengi tindakan nyata sama sekali. Bermimpi itu penting sekali, bertindak juga penting. Mimpi memberikan arah, tindakan mewujudkannya.
Ketika pertama kali menulis untuk media cetak tahun 1984, saya tidak berpikir macam-macam. Saya tulis saja sebisa saya, lalu saya kirim. Saya tidak merasa malu kalau misalnya tulisan itu tidak dimuat. Saya juga tidak akan tersinggung kalau naskah saya ditolak. Enjoy saja, tulis saja, kirim saja. Persoalan dimuat atau tidak itu melulu urusan redaksi, bukan urusan saya. Urusan saya sebagai penulis hanya menulis dan menulis.
Saya menyadari, bagi sahabat yang belum pernah menulis untuk media cetak seperti koran, majalah, tabloid, tentu ini akan terasa berat, seperti orang yang dipaksa melewati sebuah kuburan sepi di tengah malam. Tetapi, setelah dilakukan kendati dalam kekhawatiran yang sangat, dan ternyata tak kenapa-kenapa, maka langkah selanjutnya menjadi lebih mudah, bahkan jauh lebih mudah. Pekerjaan itu, dalam banyak hal, ternyata lebih berat dipikirkan daripada dikerjakan. Yang pertama terasa berat, selanjutnya menjadi mudah, bahkan mengasyikkan, he he he.
Kalau dengan begini belum juga berani menulis, maka pakai modal nekat. Nekat? Ya, nekat menulis sebaik mungkin. Nekat mengirimkan tulisan itu ke media cetak. Nekat menulis lagi tanpa henti. Nah, senjata nekat itu dapat dipakai oleh sahabat para calon penulis atau penulis pemula. Tulis dan kirim saja. Redaksi juga manusia, kan? Jadi, tidak perlu ada yang ditakutkan.
“Suatu saat kamu perlu untuk tidak memikirkan kesuksesan atau kegagalan. Jangan biarkan hal tersebut mengganggu dirimu. Yang harus kamu kerjakan adalah menulis dan menulis hari demi hari. Kamu harus siap mental menghadapi kesalahan dalam tulisanmu yang sulit dihindari, dan siap menerima kegagalan,” nasehat Anton Chekov kepada para calon penulis.
Selamat menulis. Kabarkan kepada saya kalau Anda sudah berani mengirimkan naskah ke media, dimuat atau tidak, bukan masalah.
Sampai jumpa pada serial berikutnya. Salam.
oleh: I Ketut Suweca
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
3:34 AM

4/14/11

Kode Etik Jurnalistik


Kode etik jurnalistik sangat penting bagi wartawan untuk mengatur etika-etika sang wartawan dan menentukan yang mana harus dilakukan dan yang harus dihindari. Mengingat bahwa dunia jurnalistik adalah dunia profesi yang harus independen dan bebas dari segala bentuk tekanan-tekanan yang bisa mengganggu wartawan dalam menuliskan berita, maka berbekal idealisasi dan pengalaman empirik selama ratusan tahun, akhirnya para jurnalis telah mengembangkan metode kerja dan aturan main yang disebut kode etik jurnalistik dan menjadi pegangan universal bagi para wartawan.
Kode etik jurnalistik sendiri adalah acuan moral yang mengatur tindak tanduk seorang jurnalis dalam menjalani profesinya. Bertujuan agar setiap jurnalis memiliki pegangan dan tetap bekerja dalam koridor profesionalnya demi kepentingan umum dan tegaknya martabat kejurnalistikan. Kode etik jurnalistik itu sendiri bagi seorang jurnalis harus dipatuhi demi terciptanya tatanan yang ideal dan sebagai perisai dari jeratan hukum.
Adapun di Indonesia, setiap organisasi jurnalis, wartawan, pers dan penerbitan pers biasanya merumuskan sendiri kode etiknya. Dan kode etik jurnalistik di Indonesia yang berlaku secara umum bagi jurnalis Indonesia dibuat berdasarkan hasil rumusan bersama dari berbagai organisasi jurnalis, wartawan, pers dan kemudian disahkan oleh dewan pers.
Secara umum seorang jurnalis harus memiliki enam elemen sifat yang harus melekat di dalam dirinya agar tidak terganggu dalam menjalani profesinya. Yang pertama Tanggung Jawab yaitu, seorang jurnalis harus bertanggung jawab atas tugas dan kewajibannya sebagai seorang jurnalis dengan mengabdikan diri atas profesinya demi tegaknya kesejahtaraan umum dengan memberikan informasi yang memungkinkan masyarakat membuat penilaian terhadap suatu masalah yang mereka hadapi.
Yang kedua bebas yaitu, seorang jurnalis bebas berbicara, berpendapat, dan melaporkan peristiwa sesuai dengan yang ia liput tanpa ada tekanan dari berbagai pihak. Jurnalis juga harus menjamin bahwa urusan publik harus diselenggarakan secara publik, dan seorang jurnalis harus berjuang melawan siapapun yang mengeksploitasi pers untuk kepentingan pribadi atau kelompok.
Ketiga independensi yaitu, jurnalis harus mencegah terjadinya benturan kepentingan dalam dirinya dan tidak boleh menerima apapun dari sumber berita atau terlibat dalam aktivitas yang bisa melemahkan integritasnya sebagai penyampai informasi dan kebenaran. Selanjutnya kebenaran yaitu, seorang jurnalis adalah mata, telinga dan indera para pembacanya yang harus senantiasa berjuang untuk memelihara kepercayaan pembaca dengan meyakinkan bahwa berita yang ditulisnya akurat, berimbang dan bebas dari kepentingan apapun.
Yang kelima Tidak Memihak yaitu, seorang jurnalis harus sadar bahwa berita bukanlah opini ataupun gosip dan produk tulisannya harus memenuhi semua unsur dan syarat sebuah berita. Yang terakhir adalah Adil yaitu, harus enghormati hak-hak orang yang terlibat dalam beritanya serta mempertanggunag jawabkan kepada publik bahwa berita itu akurat dan fair. Tidak ada pihak yang merasa dipojokkan oleh suatu berita, dan kalaupun ada maka hal yang pertama yang harus dilakukan adalah memberikan hak jawab secara adil.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
3:27 AM

DASAR-DASAR MANAJEMEN


Pada intinya manajemen adalah suatu kegiatan atau seni dalam perencanaan, pengorganisasian dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
Adapun fungsi manajemen adalah:
Perencanaan (planning)
Yaitu proses terpenting dari semua fungsi manajemen. Merumuskan serangkaian tindakan untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan.
Pengorganisasian (organizing)
Membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil.
Pelaksanaan (activating)
Melaksanakan rencana kerja yang telah disusun dan harus dioptimalkan untuk mencapai visi, misi yang direncanakan
Pengawasan (controling)
Pengendalian serta melakukan koreksi dalam menilai suatu tindakan
Semua fungsi manajemen ini biasa disingkat POAC

Adapun sarana pendukung manajemen adalah, Manusia (man), uang (money), bahan-bahan (material), mesin (machines), metode (methods), pasar (markets) atau biasa disebut 6M.

Teori pendukung manajemen ada dua yaitu model kontingensi Fiedler dan teori alur tujuan Robert House.
Prinsip dasar manajemenada 14 yaitu, pembagian kerja, wewenang dan tanggung jawab, disiplin, kesatuan komando, kesatuan arah, mengabaikan kepentingan pribadi untuk kepentingan umum, pemusatan wewenang, balas jasa/pemberian upah, hierarki, keteraturan, keadilan dan kejujuran, stabilitas kondisi, inisiatif, dan semangat korps.

Pengertian organisasi
Organisasi adalah system kerja sama antara dua orang atau lebih atau bentuk kerja sama untuk pencapaian tujuan bersama. Struktur pembagian kerja dan struktur tata hubungan kerja antara sekelompok orang pemegang posisi yang bekerja sama secara tertentu untuk bersama-sama mencapai tujuan.

Hubungan dan manfaat manajemen dengan organisasi adalah memberikan kemungkinan bagi pelaku yaitu manusia dalam menentukan tujuan bersama bergerak dalam batasan tertentu.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
3:21 AM

BAHASA JURNALISTIK


Bahasa jurnalistik adalah gaya bahasa yang digunakan wartawan dalam menulis beita. Cirinya, singkat, padat dan mudah dipahami. Bahasa jurnalistik dapat dibedakan menurut bentuknya: bahasa jurnalistik majalah, bahasa jurnalistik televisi, bahasa jurnalistik radio dan lain-lain. Menurut KBBI bahasa jurnalistik adalah salah satu ragam bahasaIndonesia, selain tiga lainnya, ragam bahasa undang-undang, ragam bahasa ilmiah, dan ragam bahasa sastra. Menurut Rosihan Anwar, bahasa jurnalistik didasarkan pada bahasa baku, tidak menganggap sepi kaidah-kaidah tata bahasa, memperhatikan ejaan yang benar, dalam kosa kata bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan dalam masyarakat.
Menurut JS Badudu, bahasa jurnalistik harus singkatg, padat, sederhana, jelas, lugas, tetapi selalu menarik. Sifat-sifat itu harus dipenuhi oleh media cetak mengingat ia dibaca oleh lapisan-lapisan masyarakat yang tidak sama pengetahuannya. Orang tidak perlu mengulang-ulang apa yang dibacanya karena ketidakjelasan bahasa yang digunakan dalam media cetak. Menurut Asep Syamsul M. Romli, sifat bahasa jurnalistik ada dua yaitu, pertama komunikatif yakni langsung menjamah materi atau ke pokok persoalan (straight to the point) tidak berbung-bunga dan tanpa basa-basi. Yang kedua spesifik, yakni jelas atau mudah dipahami orang banyak, hemat kata, menghindarkan penggunaan kata mubazir dan kata jenuh, menaati kaidah-kaidah bahasa yang berlaku (ejaan yang disempurnakan), dan kalimatnya singkat-singkat.
Adapun teknis bahasa jurnalistik yaitu tulisannya mudah dimengerti, jelas nama subjek, predikat, dan objeknya, serta sebisa mungkin menggunakan kalimat aktif agar daya dorongnya lebih kuat. Contohnya, kalimat pertama “suami istri ditabrak mobil (pasif)” kalimat kedua “truk tronton tabrak suami istri (aktif)” kalimat kedua (aktif) lebih menarik dibanding kalimat pertama. Sebab penekanan kalimat ada pada truk tronton yang besar, sementara suami istri hanyalah objek yang kecil. Namun ada kalanya harus menggunakan kalimat pasif jika penekanannya ada pada objek.
Bahasa jurnalistik harus singkat, tulisan yang bersahabat biasanya tidak mengandung kalimat dan alinea yang panjang. Satu kalimat biasanya terdiri atas 10-20 kata. Sedang satu alinea cukup 2-3 kalimat. Selain singkat, bahasa jurnalistik juga harus sederahana. Hindari pengulangan kata dalam satu kalimat. Hindari pemakaian kata-kata asing (ilmiah), dan konsisten dalam menulis.
Akurat, keakuratan menjadi keharusan sebuah tulisan yang baik. Nama orang, jumlah bilangan, waktu, tidak boleh salah. Lebih baik diperiksa kembali sebelum tulisan dipublikasikan. Sebab ketidak akuratan akan menurunkan kepercayaan pembaca. Gramatikal juga harus diperhatikan dalam bahasa jurnalistik. Sebaiknya menggunakan EYD (ejaan yang disempurnakan). Namun jika bingung membuat ejaan yang benaruntuk satu kata, cobalah memilih salah satu yang dianggap paling benar dan umum. Kemudian konsistenlah menulis kata tersebut. Artinya jangan sampai di awal cerita kita menulis “praktek” lalu di tengah cerita kita menulis “praktek”. Ini tidak konsisten.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
3:01 AM

4/10/11

PUTRA NABABAN SANG JURNALIS BERPRESTASI

PUTRA NABABAN SANG JURNALIS BERPRESTASI
Putra Nababan mengawali karirnya di Koran Merdeka yang berubah nama menjadi Rakyat Merdeka, kemudian pindah ke Metro tv dan ke RCTI. Pria kelahiran 30 Juli 1974 ini tertarik berkarir di media televisi karena pada tahun 2001 berpikir bahwa, media masa depan adalah televisi. Karena jangkauannya lebih luas dan masyarakat Indonesia lebih senang menonton televisi ketimbang membaca koran. Setelah tiga setengah tahun di Metro tv, Putra Nababan mendapat peluang di RCTI dan sekarang sudah enam tahun lebih di RCTI.

Dari kecil Putra Nababan memang bercita-cita untuk menjadi wartawan walaupun hal tersebut tidak pernah ia ungkapkan secara langsung. Keinginannya untuk menjadi wartawan muncul karena melihat figur ayahnya, Panda Nababan yang juga seorang wartawan. Dia melihat figur wartwan adalah sesuatu yang sangat heroik dan membanggakan.

Ketika SMP Putra Nababan dikenal sebagai anak yang nakal, suka berkelahi dengan temannya dan sering bolos di sekolah. Nemun dia berubah setelah masuk SMA di Amerika. “Yang membuat saya berubah karena jauh dari orang tua, kalau jauh kan jadi kangen, dan pesan-pesan orang tua jadi ingat kemudian diaplikasikan dan dijalankan. Saya juga merasa bersalah karena selama ini saya sudah terlalau banyak bermain, terlalau bandel dan saya ingin memperbaiki diri saya” ungkapnya saat ditemui di Plasa MNC Jakarta Pusat.

Untuk menjadi wartawan atau jurnalis harus diawali denagan keinginan yang kuat. Kemudian ditambah dengan rasa ingin tahu yang tinggi. “Rasa ingin tahu itu harus diasah dan dilatih dengan cara mendengarkan radio, membaca koran, mengikuti perkembangan peristiwa yang terjadi dan menanyakan hal-hal yang belum jelas”, saran Putra Nababan ketika ditanyai tentang cara-cara atau langkah yang harus diambil ketika ingin menjadi wartawan.

Adapun kendala menjadi wartawan, Putra Nababan mengaku sangat banyak, diantaranya: keterbatasan teknologi, keterbatasan ruang untuk memberitakan , kesulitan mendapatkan narasumber dan kendala bagaimana berkreasi untuk membantu menerjemahkan suatu kebijakan pemerintah kepada masyarakat. Namun Putra Nababan tidak terlalu mempermasalahkan kendala-kendala tersebut. Dia lebih kepada bagaimana mengatasi kendala-kendala itu. “Persoalannya bagaimana kita mengatasi kendala-kendala itu dan itu merupakan inti permasalahan yang harus segera di carikan solusinya, tidak hanya berputar pada kendala-kendalanya saja.” Ujar Putra Nababan yang baru-baru ini mendapat penghargaan Panassonic Awards 2011.

Sebagai wartawan yang paling penting adalah bagaimana karya seorang jurnalis bisa berdampak dan berpengaruh bagi masyarakat serta bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Putra Nababan mengumpamakan tentang wawancara kami saat itu, “jika kamu wawancara saya manfaatnya apa sih, kalau manfaatnya buat kamu doang, itu bukan manfaat. Wawancara ini gunanya untuk apa, kalau gunanya untuk nilai kamu doang, kurang baik”, papar Putra Nababan yang saat ini menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Harian Seputar Indonesia.

Putra Nababan menegaskan bahwa, “Wawancara ini harus bermanfaat bagi teman-teman mahasiswa yang lain. Sehingga teman-teman mahasiswa yang lain punya inspirasi, mempunyai keinginan, keteguhan hati, keteguhan sikap, untuk menjadi wartawan. Kalau hal ini terjadi dengan teman-teman yang lain, baru dikatakan bermanfaat dan berpengaruh”.

Mengenai tanggapan Putra Nababan melihat Mahasiswa sekarang, dia beranggapan bahwa tantangannya jauh lebih besar dibandingakan beberapa tahun yang lalu, baik secara ekonomi dan sosial sudah sangat berbeda. Putra Nababan juga mengkritik bahwa dengan adanya teknologi seperti internet, handphone, BBM (Blackberry messenger), membuat mahasiswa dan seluruh masyarakat pada umumnya menjadi generasi yang instan.

Selain itu Putra Nababan mengingatkan bahwa Mahasiswa harus melatih diri dan curiga serta bertanya-tanya pada hal-hal yang mudah dan instan. Karena dia menganggap bahwa di dunia ini tidak ada yang mudah dan instan, “setiap yang mudah dan instan itu pasti ada kekurangannya. Oleh karena itu seseorang harus bekerja keras dan bekerja cerdas” ujar Putra Nababan yang biasa dipanggil Putra oleh rekan-rekannya.

Dia menilai bahwa generasi sekarang lebih senang berada di dunia maya dibanding di dunia nyata. Dengan lebih senangnya di dunia maya (internet) seseorang sudah mulai mengurangi berbicara, bertemu, dan bersosialiasasi dengan orang lain. Dia khawatir bahwa generasi sekarang tidak akan mampu lagi bersosialisasi dengan manusia.

Adapun mengenai pengalamannya saat wawancara dengan Presiden Amerika Barack Obama, dia merasa sangat senang. Karena pengalaman tersebut sangat berharga baik untuk RCTI, masyarakat Indonesia maupun semua kalangan. Kesannya, Presiden Obama adalah sosok yang rendah hati dan cerdas yang memiliki kharisma serta pembawaannya yang sederhana. Saat itu Obama juga mengakui bagaimana sulitnya menjadi Presiden Amerika, karena untuk mengambil suatu keputusan harus melalui banyak pertimbangan dari senat-senat Amerika.

Menanggapi rumor tentang dirinya ikut di dunia politik, Putra Nababan lebih menyerahkannya kepada Tuhan. Karena menurutnya kuasa Tuhan lebih besar daripada keinginannya. Sejauh ini dia lebih senang berada di dunia jurnalis karena menganggap dunia jurnalis merupakan ladang yang masih sangat luas yang perlu digarap. “Untuk apa pindah keladang lain kalau ladang sendiri masih bisa untuk digarap, masih subur dan masih luas” ungkapnya menambahkan.

Adapun pesan Putra Nababan kepada kami adalah “Jadilah seperti diri anda sendiri, mau jadi apapun, yang terpenting berdampak baik untuk masyarakat” sarannya. Dia juga menambahkan jika ingin menjadi jurnalis maka harus fokus pada profesi wartawan karena untuk menjadi wartawan itu tantangannya tidak sedikit.
“Bagaimana saat kita ngejar-ngejar bus, naik bajaj, nungguin empat hari empat malam, berahadapan dengan orang-orang yang serba tidak jelas, makan waktu, waktu untuk keluarga dan anak-anak singkat sekali, dan tidak libur selama satu setengah bulan. Jangan melihat enaknya saya sekarang” ungkap Putra Nababan mengenang masa-masa sulitnya.

Untuk menjadi jurnalis, kita juga dituntut untuk melihat sisi lain yang susah. Karena menurutnya banyak hal-hal yang kita jalani itu luar biasa berarti. Putra Nababan menambahkan seorang jurnalis harus memiliki keteguhan hati dan konsistensi yang tinggi. Harus banyak latihan, membaca koran dan majalah, dan yang terpenting adalah dorongan rasa ingin tahu yang harus ada didalam diri seorang wartawan.

Selain itu Putra Nababan menyarankan agar mengisi waktu libur dengan magang di media-media. Dia berpesan bahwa “Maganglah karena memang ingin magang, jangan magang karena dibutuhkan oleh kampus atau untuk penyelesaian studi. Tapi maganglah karena kemauan sendiri” pesan Putra Nababan.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
8:33 AM
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Comments (Atom)
Find Us :

Entri Populer

  • Kode Etik Jurnalistik
    Kode etik jurnalistik sangat penting bagi wartawan untuk mengatur etika-etika sang wartawan dan menentukan yang mana harus dilakukan dan ya...
  • TV ONLINE
    blog free download
  • Embun Pagi
    Ketika Jendela Terbuka Sinar Matahari Mencubit Manja Kulit Wajahku Membelai Halus Selembar Nyawaku Setetes Embun Ku Jilat Sejuk Mera...
  • PUTRA NABABAN SANG JURNALIS BERPRESTASI
    Putra Nababan mengawali karirnya di Koran Merdeka yang berubah nama menjadi Rakyat Merdeka, kemudian pindah ke Metro tv dan ke RCTI. Pria ...

Arsip Blog

  • ►  2013 (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2012 (27)
    • ►  November (1)
    • ►  May (7)
    • ►  April (5)
    • ►  March (5)
    • ►  February (2)
    • ►  January (7)
  • ▼  2011 (74)
    • ►  December (9)
    • ►  November (3)
    • ►  October (6)
    • ►  September (8)
    • ►  August (11)
    • ►  July (8)
    • ►  June (6)
    • ►  May (9)
    • ▼  April (7)
      • Jurnalisme Sastrawi
      • Menulis, Bicara tanpa Bunyi
      • I Love Writing (29): Menulis dengan Modal Nekat, B...
      • Kode Etik Jurnalistik
      • DASAR-DASAR MANAJEMEN
      • BAHASA JURNALISTIK
      • PUTRA NABABAN SANG JURNALIS BERPRESTASI
    • ►  March (5)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2010 (27)
    • ►  December (10)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (3)
    • ►  August (10)

Pages

  • BERANDA
  • RADIO STREAMING
  • TV ONLINE
  • VIDEO
  • PICTURE

Pages

  • Home
ar_mutajalli. Powered by Blogger.
Copyright 2013 Blog Keywords - All Rights Reserved
Design by Mas Sugeng - Published by Evo Templates