Putra Nababan mengawali karirnya di Koran Merdeka yang berubah nama menjadi Rakyat Merdeka, kemudian pindah ke Metro tv dan ke RCTI. Pria kelahiran 30 Juli 1974 ini tertarik berkarir di media televisi karena pada tahun 2001 berpikir bahwa, media masa depan adalah televisi. Karena jangkauannya lebih luas dan masyarakat Indonesia lebih senang menonton televisi ketimbang membaca koran. Setelah tiga setengah tahun di Metro tv, Putra Nababan mendapat peluang di RCTI dan sekarang sudah enam tahun lebih di RCTI.
Dari kecil Putra Nababan memang bercita-cita untuk menjadi wartawan walaupun hal tersebut tidak pernah ia ungkapkan secara langsung. Keinginannya untuk menjadi wartawan muncul karena melihat figur ayahnya, Panda Nababan yang juga seorang wartawan. Dia melihat figur wartwan adalah sesuatu yang sangat heroik dan membanggakan.
Ketika SMP Putra Nababan dikenal sebagai anak yang nakal, suka berkelahi dengan temannya dan sering bolos di sekolah. Nemun dia berubah setelah masuk SMA di Amerika. “Yang membuat saya berubah karena jauh dari orang tua, kalau jauh kan jadi kangen, dan pesan-pesan orang tua jadi ingat kemudian diaplikasikan dan dijalankan. Saya juga merasa bersalah karena selama ini saya sudah terlalau banyak bermain, terlalau bandel dan saya ingin memperbaiki diri saya” ungkapnya saat ditemui di Plasa MNC Jakarta Pusat.
Untuk menjadi wartawan atau jurnalis harus diawali denagan keinginan yang kuat. Kemudian ditambah dengan rasa ingin tahu yang tinggi. “Rasa ingin tahu itu harus diasah dan dilatih dengan cara mendengarkan radio, membaca koran, mengikuti perkembangan peristiwa yang terjadi dan menanyakan hal-hal yang belum jelas”, saran Putra Nababan ketika ditanyai tentang cara-cara atau langkah yang harus diambil ketika ingin menjadi wartawan.
Adapun kendala menjadi wartawan, Putra Nababan mengaku sangat banyak, diantaranya: keterbatasan teknologi, keterbatasan ruang untuk memberitakan , kesulitan mendapatkan narasumber dan kendala bagaimana berkreasi untuk membantu menerjemahkan suatu kebijakan pemerintah kepada masyarakat. Namun Putra Nababan tidak terlalu mempermasalahkan kendala-kendala tersebut. Dia lebih kepada bagaimana mengatasi kendala-kendala itu. “Persoalannya bagaimana kita mengatasi kendala-kendala itu dan itu merupakan inti permasalahan yang harus segera di carikan solusinya, tidak hanya berputar pada kendala-kendalanya saja.” Ujar Putra Nababan yang baru-baru ini mendapat penghargaan Panassonic Awards 2011.
Sebagai wartawan yang paling penting adalah bagaimana karya seorang jurnalis bisa berdampak dan berpengaruh bagi masyarakat serta bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Putra Nababan mengumpamakan tentang wawancara kami saat itu, “jika kamu wawancara saya manfaatnya apa sih, kalau manfaatnya buat kamu doang, itu bukan manfaat. Wawancara ini gunanya untuk apa, kalau gunanya untuk nilai kamu doang, kurang baik”, papar Putra Nababan yang saat ini menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Harian Seputar Indonesia.
Putra Nababan menegaskan bahwa, “Wawancara ini harus bermanfaat bagi teman-teman mahasiswa yang lain. Sehingga teman-teman mahasiswa yang lain punya inspirasi, mempunyai keinginan, keteguhan hati, keteguhan sikap, untuk menjadi wartawan. Kalau hal ini terjadi dengan teman-teman yang lain, baru dikatakan bermanfaat dan berpengaruh”.
Mengenai tanggapan Putra Nababan melihat Mahasiswa sekarang, dia beranggapan bahwa tantangannya jauh lebih besar dibandingakan beberapa tahun yang lalu, baik secara ekonomi dan sosial sudah sangat berbeda. Putra Nababan juga mengkritik bahwa dengan adanya teknologi seperti internet, handphone, BBM (Blackberry messenger), membuat mahasiswa dan seluruh masyarakat pada umumnya menjadi generasi yang instan.
Selain itu Putra Nababan mengingatkan bahwa Mahasiswa harus melatih diri dan curiga serta bertanya-tanya pada hal-hal yang mudah dan instan. Karena dia menganggap bahwa di dunia ini tidak ada yang mudah dan instan, “setiap yang mudah dan instan itu pasti ada kekurangannya. Oleh karena itu seseorang harus bekerja keras dan bekerja cerdas” ujar Putra Nababan yang biasa dipanggil Putra oleh rekan-rekannya.
Dia menilai bahwa generasi sekarang lebih senang berada di dunia maya dibanding di dunia nyata. Dengan lebih senangnya di dunia maya (internet) seseorang sudah mulai mengurangi berbicara, bertemu, dan bersosialiasasi dengan orang lain. Dia khawatir bahwa generasi sekarang tidak akan mampu lagi bersosialisasi dengan manusia.
Adapun mengenai pengalamannya saat wawancara dengan Presiden Amerika Barack Obama, dia merasa sangat senang. Karena pengalaman tersebut sangat berharga baik untuk RCTI, masyarakat Indonesia maupun semua kalangan. Kesannya, Presiden Obama adalah sosok yang rendah hati dan cerdas yang memiliki kharisma serta pembawaannya yang sederhana. Saat itu Obama juga mengakui bagaimana sulitnya menjadi Presiden Amerika, karena untuk mengambil suatu keputusan harus melalui banyak pertimbangan dari senat-senat Amerika.
Menanggapi rumor tentang dirinya ikut di dunia politik, Putra Nababan lebih menyerahkannya kepada Tuhan. Karena menurutnya kuasa Tuhan lebih besar daripada keinginannya. Sejauh ini dia lebih senang berada di dunia jurnalis karena menganggap dunia jurnalis merupakan ladang yang masih sangat luas yang perlu digarap. “Untuk apa pindah keladang lain kalau ladang sendiri masih bisa untuk digarap, masih subur dan masih luas” ungkapnya menambahkan.
Adapun pesan Putra Nababan kepada kami adalah “Jadilah seperti diri anda sendiri, mau jadi apapun, yang terpenting berdampak baik untuk masyarakat” sarannya. Dia juga menambahkan jika ingin menjadi jurnalis maka harus fokus pada profesi wartawan karena untuk menjadi wartawan itu tantangannya tidak sedikit.
“Bagaimana saat kita ngejar-ngejar bus, naik bajaj, nungguin empat hari empat malam, berahadapan dengan orang-orang yang serba tidak jelas, makan waktu, waktu untuk keluarga dan anak-anak singkat sekali, dan tidak libur selama satu setengah bulan. Jangan melihat enaknya saya sekarang” ungkap Putra Nababan mengenang masa-masa sulitnya.
Untuk menjadi jurnalis, kita juga dituntut untuk melihat sisi lain yang susah. Karena menurutnya banyak hal-hal yang kita jalani itu luar biasa berarti. Putra Nababan menambahkan seorang jurnalis harus memiliki keteguhan hati dan konsistensi yang tinggi. Harus banyak latihan, membaca koran dan majalah, dan yang terpenting adalah dorongan rasa ingin tahu yang harus ada didalam diri seorang wartawan.
Selain itu Putra Nababan menyarankan agar mengisi waktu libur dengan magang di media-media. Dia berpesan bahwa “Maganglah karena memang ingin magang, jangan magang karena dibutuhkan oleh kampus atau untuk penyelesaian studi. Tapi maganglah karena kemauan sendiri” pesan Putra Nababan.