Blog Keywords

Keyword for Writing

  • Home
  • About
  • Template
  • Design
  • Blogger
  • Tips Tricks

6/7/13

Enam Tipe Dosen

Enam Tipe Dosen
Tulisan ini saya buat karena kekesalan saya dengan dosen yang hanya masuk dua kali dalam satu semester. Dia masuk dipertemuan pertama dan terakhir saja, sisanya hanya ngasih tugas yang nggak masuk akal lewat situs pribadinya. Berawal dari situ saya melakukan penelitian singkat dan mengelompokkan dosen dalam beberapa tipe seperti berikut. 

Dosen Militer 
Dosen ini saya sebut dosen militer bukan karena killernya tapi karena kedisiplinannya. Kalau jadwal mengajarnya setengah delapan, jam tujuh dosen ini sudah ada di dalam kelas. Pokoknya dalam satu semester, dosen ini tidak pernah telat. Cara mengajarnya pun ketat, disiplin dan sangat teratur. Absennya juga tidak kalah ketat, pokoknya dosen ini menerapkan kedisiplinan tingkat tinggi dalam mengajar. Nilai yang diberikan pun sesuai dengan kerja keras mahasiswa dan tidak pernah berpihak. Penilaiannya sangat objektif sesuai usaha mahasiswa. Pokoknya sepuluh jempol buat dosen ini. 

Dosen Narsis 
Dosen ini sangat aktif di sosial media, paling sering upload foto narsisnya dengan artis dan orang-orang besar yang terkenal. Mengajar pun hanya menceritakan pengalaman hidupnya yang tidak ada hubungannya dengan mata kuliah. Kadang kita sebagai mahasiswa menjulukinya si Bolang, karena masa kecilnya yang tidak jauh berbeda dengan kisah si Bolang si bocah petualang. Kelebihannya, dosen ini enak ngasih nilainya, yang penting kita pintar pede katenya. Kisah dosen ini walaupun kadang tidak ada hubungannya dengan mata kuliah, tapi kisahnya kadang jadi inspirasi dan motivasi tersendiri bagi kita sebagai mahasiswanya. Tiga jempol boleh deh buat dosen ini. 

Dosen Katak 
Dosen ini saya sebut katak bukan karena dia sering melompat-lompat seperti katak saat mengajar. Tapi karena jadwal kuliahnya yang sering melompat-lompat alias dipindah seenaknya dia, disesuaikan dengan aktifitasnya diluar kampus yang tidak ada hubungannya dengan mata kuliah. Dosen ini juga sering seenaknya tidak masuk dengan alasan yang tidak masuk akal. Yang paling mengesalkan, setelah jadwalnya dipindah sesuai keinginannya, dan sudah tiba di hari H, malah dia nggak masuk, trus ngasi tugas seenaknya, gedeg kan jadinya sama dosen ini. Kasian kan temen lain yang udah jauh-jauh dari Bogor pas nyampe kampus dosennya nggak masuk. 

Dosen Bayangan 
Dosen ini saya sebut dosen bayangan karena yang sering masuk kelas adalah bayangannya alias asistennya. Dosen ini biasanya dosen yang sudah punya jam terbang tinggi, dia mengajar bukan hanya di satu universitas, mengajarnya bahkan sampai keluar-luar negeri. Dosen ini biasanya yang sudah berpredikat professor, doktor dan guru besar. Dia masuk kadang-kadang aja, sesempatnya dia aja. Sebenarnya cara mengajar dosen ini bagus, saya bahkan lebih semangat kalau dosen ini yang masuk karena lebih berpengalaman, cara mengajarnya lebih asyik. Keselnya sama asistennya, selain cara mengajarnya kurang bagus, asisten itu juga tidak lebih cerdas dari mahasiswa. Tidak jarang kami meledeknya dari belakang. peace bro.. parahnya lagi asisten ini bersikap masa bodoh dengan tingkah mahasiswanya, -takut kali diee- prinsipnya mungkin yang penting saya masuk, terserah kalian mau memperhatikan atau tidak yang penting sudah menggugurkan amanah dari sang guru besar. 

Dosen Licik 
Dosen ini kenapa sebut licik karena dalam satu semester -kurang lebih lima belas kali pertemuan- dia masuk hanya dua kali, parah kan?? [dosen ini yang saya maksud dalam pengantar di atas] Masuknya hanya pertemuan pertama dan terakhir, jelang ujian. Dia sibuk diluar, entahlah.. mungkin masih kangen dengan masa-masa ketika dia masih mahasiswa bolos seenaknya, sibuk diluar, mungkin mau jadi aktivis, nerbitin buku sampai ratusan tapi tidak sadar kalau bukunya tidak pernah laku dipasaran, karena niatnya salah saat nerbitin buku. Dia hanya ngejar nilai sebagai syarat professor dan gelar guru besar. Lumayan kalau sudah dapat gelar itu otomatis gajinya naik. Makanya dia malas ngajar karena nilai mengajar jauh lebih rendah dibanding nilai nerbitin buku. Lah, trus selama tiga belas pertemuan mahasiswanya ngapain aja?? Tenang, dosen ini sudah punya jurus ampuh biar mahasiswanya ada kerjaan dan nggak bikin kerusuhan dimana-mana. Dosen ini ngasih tugas setiap minggunya yang nggak masuk akal. Yah otomatis mahasiswa juga kerjanya asal-asalan, dibaca juga sama dia nggak. Yang penting ngumpulin aja dan ada nama kita dilembaran tugas itu, copas dari temen aja juga jadi. 

Dosen Karet 
Dosen tipe ini masih lebih mending dari dosen licik, karena masih masuk, masih bertanggung jawab dikit. Dosen ini sebenarnya rajin, hanya datangnya sering terlambat aja. Makanya saya sebut dosen ini dosen karet. Dan terlambatnya itu bener-beneran terlambat, nggak tanggung-tanggung, telatnya sampai sejam bro. Alasannya sih biasa, macet. Padahal kalau di Jakarta macet bukan alasan lagi, karena budaya macet itu sudah mendarah daging dalam diri masyarakat ibukota. Kalau jadwal ngajarnya jam 07.30 dosen ini datang paling cepat jam 08.30 kadang juga datang jam 09.00. Keselnya itu, dosen ini kan udah tau kalau dirinya terlambat, seharusnya dia selesai jam 09.45 malah dia keluar jam 10.30 kadang juga jam 11.00 ngajarnya sampai ngambil jam dosen berikutnya. Jadinyakan kita telat dimata kuliah berikutnya. Tapi masih mendinglah, masih pasti masuk. Daripada dosen katak yang sering PHPin. 

Bagi kalian yang baca tulisan ini dan mungkin Anda dosen atau pernah jadi dosen atau suatu saat jadi dosen silahkan pilih akan jadi dosen tipe mana. Tidak penting bagi kami sebagai mahasiswa, Anda tipe dosen mana. Yang terpenting diakhir perkuliahan Anda ngasih nilainya enak, nilai yang memuaskan, itu sudah lebih dari cukup. 

Entahlah…
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
10:30 AM

11/4/12

Membincang Imam

Membincang Imam

Kita sampai arketipe terakhir, yaitu: anxiety. Yaitu struktur kejiwaan yang menyimpan kegelisahan dan keraguan karena terlalu banyak misteri hidup yang nalar kita semua tidak sanggup untuk memahami dan menjelaskannya secara rasional, ilmiah.

Kegelisahan ini akan semakin dirasakan ketika seseorang sudah menginjak usia lanjut yang secara statistikal sisa umurnya bisa diprediksi. Perjalanan dan perjuangan hidup sejak tahapan orphan yang tidak berdaya sampai magician yang merasa dirinya hebat, tetap menyisakan pertanyaan dan kegelisahan. Ketika orang sudah merasa sukses dalam hal karier keduniaan, atau sebaliknya merasa gagal dan terpuruk, selalu muncul pertanyaan eksistensial; bukankah semua serial drama hidup ini nantinya akan berakhir dengankematian? Adakahkehidupan lanjut setelah mati?

Kalau ada, adakah hubungan nasib di dunia ini dengan hidup yang baru? Andaikan mati adalah akhir dari seluruh dari eksistensi dan tak ada lagi kehidupan, lalu untuk apa semua perjuangan hidup ini aku jalani? Demikianlah, pada diri setiap orang selalu menyimpan pertanyaan dan kegelisahan karena terlalu banyak pertanyaan dan ketidaktahuan terhadap realitas semesta dan kehidupan. Akumulasi pengalaman masa lalu,berbagai cerita orang tua dan ceramah keagamaan, kesemuanya mendorong pada keyakinan bahwa mati bukanlah akhir kehidupan. Ada sumber kehidupan yang tak kenal mati dalam diri setiap orang, entah itu namanya ruh, jiwa, atau ada istilah lain.

Begitu pun dalam diri setiap orang ada dorongan untuk meraih hidup bermakna baik bagi diri, keluarga, maupun masyarakat. Dinamika dan jarak antara cita-cita indah yang tak terbatas dan realitas hidup yang mengecewakan selalu memunculkan kegelisahan, kekecewaan, dan semangat untuk selalu berjuang. Adalah keyakinan dan citacita mulia yang selalu memberikan amunisi dan semangat untuk selalu melangkah maju membangun kehidupan yang lebih baik. Hasil penalaran rasional dan akumulasi pengalaman hidup tetap saja menyisakan teka-teki dan misteri hakikat kehidupan yang tak terjawab.

Maka orang pun lalu mencari jawab pada agama, yang sentralnya adalah kepercayaan dan keyakinan adanya Tuhan yang serbamaha. Semata berdasarkan penalaran rasional, baik orang yang percaya akan adanya Tuhan maupun mereka yang tidak percaya, masing-masing memiliki basis argumen yang sulit dikompromikan. Bahkan semakin maju perkembangan ilmu pengetahuan, semakin maju pula argumen orang yang mengingkari adanya Tuhan berdasarkan argumen scientific.

Namun jika berbagai teori dan argumen tentang adanya Tuhan dikumpulkan, skornya lebih tinggi dan lebih meyakinkan ketimbang yang mengingkarinya. Bahkan, dikenal pula argumen psikologis yang disebut: the will to believe. Bahwa sesungguhnya dalam diri manusia terdapat dorongan kuat untuk percaya adanya Tuhan.Dorongan ini diperkuat lagi dengan argumen kenabian yang datang dengan memperkenalkan wahyu ilahi disertai mukjizat.

Namun, sesungguhnya berbagai argumen dimaksud tetap tidak mampu mengusir anxiety, kegelisahan manusia. Maka sekalipun orang telah mengaku beragama dan yakin adanya Tuhan, aktivitas yang paling utama dari sikap keberagamaannya adalah berdoa. Di dalam doa, setidaknya terdapat dua hal.Pertama rasa gelisah, ragu, takut,khawatir, dan di sisi lain lalu datang mengadu pada Tuhan untuk mendapatkan kepastian dan ketenangan.

Secara rasional,percaya dan meyakini Tuhan yang kemudian disebut “beriman” dan orangnya disebut “mukmin”, di situ terdapat sebuah loncatan, leap of faith, untuk melenyapkan keraguan. Rasa takut pada hukuman (neraka,punishment, kesengsaraan) dan harapan pada pahala (surga, reward, kebahagiaan) membuat seseorang selalu berusaha untuk hidup hati-hati dan berprestasi. Jadi,sikap dan pilihan iman itu terdapat unsur argumen rasional, dorongan psikologis, keraguan dan ketidaktahuan.

Dalam istilah agama maka dikenal: khauf wa raja’. Ragu bercampur harap. Orang beriman memiliki keraguan, apakah doa dan amal ibadahnya diterima Tuhan? Namun juga yakin dan penuh harap,Tuhan pasti Mahakasih, Maha Pengampun, dan Maha Pemberi Pahala. Baik dalam bahasa Indonesia, bahasa Arab, maupun bahasa Inggris terdapat ungkapan yang berbeda namun berdekatan, seperti: I know, I think, I feel, I see, I understand, I guess, I perceive, I believe, I witness, dan ungkapan serupa yang menunjukkan perbedaan konsep, sikap,dan implikasinya.

Semakin lanjut usia seseorang, ketika prestasi ilmu, jabatan, dan harta telah diraih semuanya, lalu apa lagi yang hendak dicari? Di sinilah iman memberikan insentif makna hidup dan jawaban, meskipun ada unsur spekulatifnya, yaitu kembali dan menyatu kembali dengan Tuhan, sang pencipta dan pemberi kehidupan. Karena Tuhan Mahasuci dan Mahabaik maka hanya dengan kondisi suci dan bekal kebaikan, seseorang akan lebih lancar pulang kembali ke pangkuan ilahi.

Pada akhirnya iman bukanlah sekadar percaya, melainkan sebuah pengakuan, kepasrahan, keyakinan,dan jalan hidup untuk mengantarkan pada tujuan yang melewati batas-batas sejarah dan duniawi. Kita semua berasal dari Tuhan dan akan kembali pada Tuhan.

Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat  
Jumat, 02 November 2012 10:41

0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
7:23 AM

5/12/12

Beragam Persepsi tentang Indonesia

Beragam Persepsi tentang Indonesia

Ketika masih duduk di sekolah dasar dulu, saya selalu menerima penjelasan dari bapak/ibu guru bahwa Indonesia adalah negara yang sangat indah, alamnya kaya raya,terbentang bagaikan zamrud khatulistiwa.
Penduduknya ramah-tamah, rukun, jujur, senang bergotong- royong, tetapi juga gagah berani melawan penjajah. Dengan senjata bambu runcing para pemuda mampu mengalahkan Belanda. Persepsi itu masih tertanam di benak saya, tetapi secara bertahap mulai terkoreksi. Ini terjadi bisa saja karena materi pengajaran dulu yang salah atau kondisi Indonesia sudah berubah.

Setelah belajar sejarah, ternyata kekalahan Jepang di hadapan sekutu memiliki andil besar bagi peluang kemerdekaan Indonesia tanpa memperkecil peran para pemuda yang gagah berani melawan Belanda dengan senjata bambu runcing. Dan yang sangat menyedihkan adalah persepsi dan keyakinan puluhan tahun yang mengatakan bahwa kepulauan Indonesia itu sangat indah dan kaya, bagaikan zamrud khatulistiwa.
Kini yang terjadi tengah berlangsung penggundulan dan perusakan hutan. Kandungan tambang di perut bumi pun diburu dan dikeruk dengan rakusnya sehingga merusak lingkungan hidup, baik alam maupun lingkungan sosialnya. Yang paling mencolok mata tentu saja di Situbondo yang populer dengan sebutan “Lumpur Lapindo”. Belum lagi yang jauh di tengah hutan atau di lepas pantai.
Jadi, ketika di SD dulu memperoleh penjelasan bahwa Nusantara ini jadi sasaran penjarahan oleh VOC, rasanya situasi hari ini tidak jauh berubah. Kalau dahulu yang dijarah sebatas rempah-rempah, sekarang berkembang menjadi kandungan minyak bumi, emas, nikel, hutan, kelapa sawit, dan entah apa lagi. Lagi-lagi, yang menjarah adalah kekuatan asing mirip zaman VOC dulu.
Jika dahulu ada istilah komprador, yaitu pribumi yang bersekongkol dengan penjajah asing, sekarang jumlahnya juga semakin banyak. Bahkan sekarang penjarahan semakin canggih, tidak hanya hutan jati dan pohon besar yang dijarah dan ditebangi, tetapi “pohon-pohon besar” berupa lembaga keuangan dan pusat-pusat industri juga dikangkangi kekuatan asing.

Apa dan Siapa Indonesia?
Jawaban dari pertanyaan ini pasti akan bervariasi, tergantung kepada siapa pertanyaan dikemukakan. Seorang teman pebisnis pernah sangat tersinggung ketika mendengar pandangan orang asing bahwa Indonesia lahan bisnis yang menggiurkan. Semua urusan, termasuk perizinan mudah diatur asalkan ada uang pelicinnya. Tanpa uang pelicin semua urusan akan lamban dan sulit di Indonesia.
Dengan uang semua urusan jadi lancar. Persepsi yang demikian tentu sangat menyakitkan,tetapi kebenarannya sulit ditolak mengingat kita semua mudah melihat dan mungkin punya pengalaman, misalnya ketika mengurus SIM atau KTP mesti dikenai uang pelicin. Persepsi lain yang mulai berkembang adalah Indonesia merupakan negara “pilkada”. Hitung saja, berapa ratus jumlah pemilihan kepala daerah yang berlangsung setiap tahunnya.

Hanya saja disayangkan, eksperimentasi dan praktik demokrasi ini tidak disertai penegakan hukum yang tegas dan jujur, tidak juga dibarengi dengan pendidikan politik bagi rakyat. Akibatnya, setiap ada peristiwa pilkada muncul money politic yang merusak mental rakyat dan kepala daerah yang dihasilkan juga tidak bagus. Maka logis jika sudah puluhan, bahkan di atas angka 100, mantan gubernur, bupati, wali kota, dan anggota DPR yang berurusan dengan KPK dan jadi penghuni tahanan.
Persepsi lain yang mengemuka, Indonesia termasuk tiga besar setelah India dan China yang senang mengunduh (download) foto dan gambar porno lewat internet. Hobi pornografi ini seiring dengan membengkaknya pengedar dan pengguna narkoba. Indonesia tidak saja sebagai pemakai, tetapi sudah masuk kategori produsen narkoba di kawasan Asia. Persepsi lainnya, Indonesia juga dikenal sebagai eksportir batu bara, minyak mentah, dan TKI dengan keahlian rendah.Yang terakhir ini membuat wajah Indonesia tercoreng.
Ketika bertemu teman dari Timur Tengah atau Malaysia, ketika pembicaraan masuk ke ranah TKI, saya sering tersipu malu. Apa yang dikemukakan di atas, fakta ataukah persepsi? Apa pun jawabannya, semua itu menutupi kehebatan dan kekayaan alam dan budaya Indonesia yang tak tertandingi. Rasanya nation branding kita lemah yang kemudian mengemuka dalam persepsi masyarakat dalam dan luar negeri jadi negatif.Persepsi ini sangat penting. Bukankah para politikus itu sibuk membangun opini dan persepsi bahwa dirinya hebat? Namun, persepsi pada akhirnya akan diperkuat atau terkoreksi oleh kenyataan.



Ditulis oleh Prof. Dr. Komaruddin Hidayat   
Jumat, 11 Mei 2012 08:25
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
10:21 PM

Berhalakan (Simbol) Agama?

Berhalakan (Simbol) Agama?



Tiada agama tanpa simbol-simbol. Sungguh tidak mudah menjelaskan simbolisme agama terhadap anak-anak. Namun sesungguhnya pada orang dewasa pun hampir sama saja halnya.
Orang nonmuslim Barat sering melontarkan anggapan, orang Islam itu ibadahnya menyembah Kakbah. Tak ubahnya menyembah berhala dari batu. Anggapan dan pertanyaan serupa bisa juga dialamatkan pada pemeluk agama lain. Benarkah umat Nasrani menyembah patung Bunda Maria dan Yesus? Benarkah umat Buddha menyembah patung Sidharta Gautama? Benarkah umat Hindu menyembah patung Ganesha?
Cara paling bijak, tanyakan saja langsung kepada umat beragama yang bersangkutan. Jangan menduga-duga, lalu hasil dugaan dan tafsiran itu dilekatkan kepada orang lain. Ini namanya labelisasi, satu bentuk kekerasan dalam wacana keagamaan. Objek yang menjadi sesembahan agama bersifat metafisik, transendental, tidak kasatmata, absolut, gaib, yang kemudian disebut Tuhan.
Namun kalau dikejar lebih lanjut lagi, apa dan siapa yang dimaksud dengan kata ”Tuhan”, maka diskusinya tidak pernah berakhir dari masa ke masa. Banyak kitab suci menjelaskan siapa Tuhan dan ribuan judul buku telah ditulis untuk membahas kata dan konsep Tuhan, baik berdasarkan kitab suci maupun analisis filsafat. Tiap agama memiliki konsep, doktrin, tradisi, dan tatacara beribadah bagaimana menyembah Tuhan.
Makanya setiap agama memiliki konsep tempat suci dan hari suci untuk melakukan ibadah.Tapi, lagi-lagi, kalau tiap konsep itu diperdebatkan, pasti tidak akan pernah selesai dan mungkin hanya akan menyakiti pihak lain. Ajaran dan praktik agama tidak untuk diperdebatkan, tetapi dipahami, dihayati, dan diamalkan. Kalau berbagi pengetahuan dan pengalaman antarumat beragama, itu bagus-bagus saja.
Dalam Alquran juga dianjurkan untuk berdialog dengan bijak dan baik, jangan main paksa. Adapun soal iman, Allah yang akan menimbang di akhirat nanti. Kembali pada soal simbol. Ada perbedaan antara simbol, tanda, dan ikon. Kalau perut lapar, maka melihat gambar sendok-garpu berarti tidak jauh lagi akan ada restoran. Tanda semacam ini ada yang menyebutnya indeks.

Patung Yesus dan Bunda Maria, itu masuk kategori ikon. Adapun ”salib” lebih bersifat simbolik, bukan indeks, bukan pula ikon. Islam melarang keras penggunaan ikon atau patung dalam peribadatan. Makanya di dalam masjid tidak akan ditemukan patung. Ini berbeda dari gereja, kuil atau kelenteng yang membolehkan ikon dalam upacara ritualnya. Tapi pertanyaannya, apakah mereka menyembah ikon atau patung? Tanyakan saja langsung kepada mereka.

Adapun simbol memiliki konsep dan makna yang lebih kompleks dan filosofis. Keterkaitan antara ”simbol” dan ”subjek atau objek” yang hendak dihadirkan dihubungkan dengan makna yang dibangun dan disepakati oleh sebuah komunitas, yang tidak mudah dimengerti oleh komunitas lain. Jadi, karakter simbol beda dari ikon atau indeks yang langsung bisa dipahami oleh siapa pun, yang hampir-hampir tidak menimbulkan perbedaan penafsiran.
Kecuali ketika ke luar negeri, misalnya ke Jepang, tiba-tiba saya merasa buta huruf, tidak memahami tanda-tanda dalam huruf Kanji. Simbol yang paling dalam maknanya dan sekaligus paling sensitif dibahas adalah menyangkut eksistensi Tuhan yang berkaitan dengan format peribadatan. Ketika orang Islam berebut mendekati dan mencium Kakbah, bagaimana memahaminya? Bahkan ketika saling adu tenaga untuk mencium ”hajar aswad”, keutamaan apa sesungguhnya yang hendak dicari?
Jawabannya sangat sensitif terhadap pertanyaan ini. Adapun tentang Tuhan, di dalam Islam yang lebih populer bukannya simbol, tetapi ”nama-nama” dan ”ayat-ayat” atau tanda-tanda kebesaran Tuhan. Ibarat hubungan dalam keluarga, kita memerlukan nama sebagai panggilan dan identifikasi. Kita mencintai seseorang karena sifat atau kepribadiannya, bukan mencintai namanya, sekalipun ada korelasi antara nama dan pemilik nama.
Kita mencintai dan menyembah dzat Allah, bukan nama Allah yang terdiri dari lima huruf itu. Bahkan sebanyak 99 nama Tuhan sangat populer dan dihapal. Apakah ketika menyebut nama-nama Allah itu hati dan pikiran kita juga paham dan terhubung dengan-Nya? Jadi, dalam beragama banyak sekali simbol dan tanda-tanda.
Kita tidak menyembah simbol, tetapi melalui simbol, tanda, dan nama, kita ingin memahami dan mendekati Tuhan yang melampaui ketiganya. Subhanallah. Maha Suci Allah dari berbagai dugaan, rekaan, dan tafsiran kita yang lemah ini.


Ditulis oleh Prof. Dr. Komaruddin Hidayat   
Jumat, 04 Mei 2012 08:18


0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
10:20 PM

Tiga Pilar Kebahagiaan

Tiga Pilar Kebahagiaan


Sebuah penelitian psikologi sosial menyebutkan, terdapat tiga pilar utama kebahagiaan seseorang, yaitu having a good family life, having a good job, dan having good friends and community.
Ketika diteliti, sebagian besar umur seseorang akan dihabiskan di dalam tiga zona pergaulan dan aktivitas di atas. Tiap zona aktivitas dan pergaulan akan saling melengkapi dan menutupi kejenuhan dan kekurangan yang lain. Yang pertama dan paling dasar adalah keluarga yang baik (a good family life). Secara emosional, keluarga memiliki daya gravitasi paling besar bagi kehidupan seseorang. Apa pun yang dilakukan seseorang di luar rumah pada akhirnya akan kembali kepada keluarga sehingga rumah tangga sering diibaratkan tempat berlabuh bagi sebuah kapal setelah mengembara ke lautan lepas.
Oleh karenanya, karier seseorang yang otentik dan kokoh hanya akan mungkin diraih kalau basis keluarganya solid. Soliditas keluarga dibangun terutama oleh hubungan cinta dan iman. Cinta bagaikan pupuk atau air yang akan membuat pohon rumah tangga selalu tumbuh segar, sedangkan iman memberikan ikatan moral yang kuat bahwa rumah tangga adalah amanat suci dan sebuah bahtera yang jangkauannya sampai di akhirat nanti. Rumah tangga bukan sekadar transaksi administrasi layaknya jual-beli, melainkan juga sebuah perjalanan dan pertumbuhan moral-spiritual. Kedua, having a good job.
Seseorang bekerja tidak semata untuk mengejar uang, tetapi menyangkut harga diri, aktualisasi diri, dan bersosialisasi di luar zona keluarga. Bisa dipastikan, orang yang menganggur, meski memiliki banyak uang, tidak akan bahagia. Orang yang hidup semata mengandalkan harta warisan tidak akan bangga dengan dirinya. Begitu pun mereka yang bekerja, tetapi tidak merasa cocok dan bangga dengan pekerjaannya, hatinya akan tersiksa. Ruang kerja bagaikan ruang tahanan.
Kerja akan terasa nyaman jika sesuai dengan bakat dan minatnya serta kulturnya bagus, tidak koruptif, dengan imbalan gaji yang cukup, syukur berlebih, untuk mendukung kehidupan keluarga. Sebuah lingkungan kerja akan dianggap sehat kalau para karyawannya memiliki peluang dan dorongan untuk tumbuh, baik skill, pengetahuan maupun kepribadiannya. Apalah artinya gaji tinggi jika ternyata tidak halal dan budayanya koruptif. Semua itu akan merongrong kualitas kebahagiaan yang dibangun dalam rumah tangga. Ketiga, lingkungan pertemanan dan komunitas.
Kita semua mengalami bahwa umur kita tidak hanya dihabiskan dalam urusan rumah tangga dan kerja, tetapi juga bermasyarakat. Itu suatu kebutuhan sosial dan psikologis. Makanya muncul komunitas “alumni” di luar jaringan keluarga dan kerja. Hanya, penting dicatat bahwa lingkungan pergaulan yang tidak sehat akan menggerogoti aset kebahagiaan yang kita bangun lewat zona keluarga dan kerja.
Sering terjadi sebuah keluarga terjerat masalah oleh jaringan pertemanan yang tidak sehat. Ini paling mudah diamatipadaremaja, tetapibisa juga terjadi pada orang dewasa. Keburukan itu mudah menular, bahkan kadang lebih cepat dari kebaikan. Olehkarenanya, having good friends and community merupakan satu pilar penting untuk meraih kebahagiaan hidup seseorang. Demikianlah, tentu saja banyak pilar lain yang memengaruhi kebahagiaan seseorang. Namun ketiga aspek tadi begitu dominan.
Di atas ketiganya, menurut hasil penelitian dimaksud, adalah personal values. Nilai-nilai hidup seseorang akan sangat berpengaruh dalam memaknai hidup ini. Bagi orang yang taat beragama dan tidak, tentu akan berbeda dalam memandang keluarga, harta, dan pergaulan. Ada orang yang yakin dengan banyak bederma, bersedekah ,maka jalan rezeki akan semakin terbuka. Namun ada yang berpandangan sebaliknya. Inilah yang dimaksud dengan personal values.
Sebuah kerangka berpikir dan keyakinan hidup yang sangat berpengaruh dalam perilaku seseorang, termasuk dalam berumah tangga, bekerja,dan bermasyarakat. Sebagai pribadi saya yakin kerja dan harta yang tidak halal tidak akan mendatangkan berkah dan kebahagiaan. Jika harta haram masuk ke mulut kemudian mengalir bersama darah dalam tubuh,maka harta haram tadi akan masuk disertai energy negative (setan) sehingga perilaku seseorang juga akan seperti setan.
Pikirannya, tangannya, kakinya,mulutnya akan dikendalikan oleh setan. Makanya sebagai orang tua mesti hati-hati memberikan rezeki atau nafkah kepada keluarga. Hindari membawa barang haram ke rumah jika kita benar-benar sayang kepada keluarga. Jangan membawa racun kehidupan.


Ditulis oleh Prof. Dr. Komaruddin Hidayat   
Jumat, 27 April 2012 08:28
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
10:18 PM
Older Posts Home
Subscribe to: Comments (Atom)
Find Us :

Entri Populer

  • Kode Etik Jurnalistik
    Kode etik jurnalistik sangat penting bagi wartawan untuk mengatur etika-etika sang wartawan dan menentukan yang mana harus dilakukan dan ya...
  • TV ONLINE
    blog free download
  • Embun Pagi
    Ketika Jendela Terbuka Sinar Matahari Mencubit Manja Kulit Wajahku Membelai Halus Selembar Nyawaku Setetes Embun Ku Jilat Sejuk Mera...
  • PUTRA NABABAN SANG JURNALIS BERPRESTASI
    Putra Nababan mengawali karirnya di Koran Merdeka yang berubah nama menjadi Rakyat Merdeka, kemudian pindah ke Metro tv dan ke RCTI. Pria ...

Arsip Blog

  • ▼  2013 (1)
    • ▼  June (1)
      • Enam Tipe Dosen
  • ►  2012 (27)
    • ►  November (1)
    • ►  May (7)
    • ►  April (5)
    • ►  March (5)
    • ►  February (2)
    • ►  January (7)
  • ►  2011 (74)
    • ►  December (9)
    • ►  November (3)
    • ►  October (6)
    • ►  September (8)
    • ►  August (11)
    • ►  July (8)
    • ►  June (6)
    • ►  May (9)
    • ►  April (7)
    • ►  March (5)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2010 (27)
    • ►  December (10)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (3)
    • ►  August (10)

Pages

  • BERANDA
  • RADIO STREAMING
  • TV ONLINE
  • VIDEO
  • PICTURE

Pages

  • Home
ar_mutajalli. Powered by Blogger.
Copyright 2013 Blog Keywords - All Rights Reserved
Design by Mas Sugeng - Published by Evo Templates