Blog Keywords

Keyword for Writing

  • Home
  • About
  • Template
  • Design
  • Blogger
  • Tips Tricks
Home » Archive for February 2012

2/10/12

Jilbab Masuk Ruang Pengadilan

Jilbab Masuk Ruang Pengadilan

Mengenakan jilbab itu hak asasi seseorang, sebagaimana juga orang lain berhak memberi penilaian secara diam-diam. Kejadian ini saya jumpai akhir-akhir ini ketika seorang teman berkirim pesan singkat lewat telepon genggam, mengapa beberapa wanita yang menjadi tersangka korupsi cenderung mengenakan jilbab ketika masuk ruang pengadilan?
Padahal sebelumnya mereka dikenal senang berpakaian yang modis dan bahkan seksi. Sekali lagi, berpakaian itu pilihan dan selera individu dengan mempertimbangkan tradisi dan norma sosial. Mengapa seseorang yang tersangkut korupsi dan memasuki ruang sidang pengadilan lalu memilih mengenakan jilbab, yang paling tahu dan merasakan adalah yang bersangkutan. Hanya saja bisa dimaklumi kalau orang lain lalu menafsirkan dan menduga-duga.
Mungkin saja merasa lebih nyaman dan sedikit meringankan beban batin mengingat jilbab dipahami sebagai pakaian religius. Orang berjilbab dikonotasikan sebagai orang baik-baik. Atau tengah intens mendekatkan diri pada ajaran agama, yang secara diametral berseberangan dengan tindakan korupsi. Secara lahiriah memang memunculkan pemandangan unik.
Ada orang tertuduh sebagai koruptor,tetapi penampilannya mengesankan religius karena di Indonesia ada kecenderungan menempatkan jilbab sebagai simbol kualitas keimanan dan keislaman seseorang. Jadi, jilbab di ruang pengadilan bisa menimbulkan multitafsir.Yang bersangkutan adalah orang religius yang tidak melakukan korupsi sehingga sangkaan dan tuduhan kepadanya sebagai koruptor tidaklah benar.
Itu fitnah. Atau, yang bersangkutan melakukan kekhilafan, memang melakukan korupsi, dan sekarang tengah melakukan pertobatan yang ditandai antara lain dengan mengenakan jilbab. Tafsir lain, mungkin mengenakan busana religius di ruang pengadilan membuat yang bersangkutan merasa nyaman ketimbang pakaian lain tanpa berpretensi sok agamis.
Bagi pemirsa yang belum pernah duduk di kursi terdakwa tentu tidak mudah berempati bagaimana rasanya dicecar pertanyaan yang menjebak,menggiring, membongkar pelik-pelik perkara, sementara penonton dan wartawan menyaksikan. Pasti ada beban mental sangat berat. Jadi, kalaupun seseorang lalu membawa tasbih dan mengenakan jilbab di ruang pengadilan, itu bisa dimaklumi sebagai upaya meringankan beban psikologis.
Bahkan sangat mungkin malam harinya bersembahyang dan berdoa untuk mendapatkan kemudahan dan pertolongan agar lolos dari jerat hukum. Begitulah sifat manusia. Mendekat dan mengiba kepada Tuhan di kala duka. Adapun waktu senang sering lupa, tergiur oleh nikmatnya dunia.Bagaimanapun, menjadi terdakwa korupsi lalu jadi bahan berita media massa adalah tragedi kehidupan amat pahit.
Kebanggaan diri sebagai anak, orang tua,profesional atau predikat lain tiba-tiba goyah dan ambruk. Kalau sudah begitu, baru penyesalan yang muncul. Mestinya berbagai drama dan tontonan perilaku koruptor itu menjadi pembelajaran bagi kita,terutama mereka yang tengah berkuasa dan memiliki kesempatan untuk korupsi.Warisan dan kebanggaan apa yang akan dipersembahkan kepada keluarga dan masyarakat dengan harta korupsinya itu?
Dalam bahasa agama,harta haram itu tak akan membawa berkah. Kembali ke soal jilbab. Sering kali jilbab digunakan sebagai modal untuk melakukan penipuan dengan mengesankan dirinya orang religius,baik,dan tepercaya.Padahal tak lebih kedok belaka.Tentu ini merusak citra dan norma keagamaan sehingga logis kalau ada orang yang kesal kepada mereka yang berjilbab, tetapi perilakunya tidak mencerminkan normanorma luhur keagamaan.
Ekses lebih jauh,muncul pandangan, jilbab tidak bisa dijadikan tolok ukur kesalehan seseorang. Namun sesungguhnya kasus serupa juga terjadi pada uniform militer atau polisi. Terdapat polisi atau tentara gadungan, mengenakan seragam dinas untuk menipu orang lain. Atau, bisa saja mereka polisi atau tentara beneran, tetapi perilakunya justru melawan etos dan norma kepolisian atau kemiliteran.
Misalnya, polisi terlibat pengedaran narkoba.Jadi, pakaian itu sangat penting sebagai simbol dan perangkat peradaban, tetapi selalu saja ada orang yang memanipulasi untuk tujuan pribadi. Lalu, bagaimana berjilbab di ruang pengadilan? Itu hak mereka,tak ada peraturan yang dilanggar.
Siapa tahu yang bersangkutan merasa lebih nyaman dan berharap bisa meyakinkan hakim bahwa dirinya orang baik-baik, bukan koruptor. Tapi rasanya soal pakaian tidak fundamental dalam proses pengadilan.

Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat   
Jumat, 10 Februari 2012 07:08

0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
2:07 AM

2/2/12

Senang tapi Tak Tenang

Senang tapi Tak Tenang

Saya sering memperoleh peringatan dan pencerahan hidup dari orangorang yang dianggap orang kecil, bawahan, dan awam meskipun bagi saya semua orang sama derajatnya.
Salah satunya dari tukang urut yang kadang saya panggil ke rumah setelah capai bermain golf. Namanya Mas Sabarno.Tipikal seorang Jawa, asli Solo, yang selalu mendambakan hidup tenang, damai, meski tidak kaya-raya.“Sekarang ini banyak orang mengejar kesenangan hidup, tetapi tidak tenang,”katanya.Mengejar kesenangan sesaat, tetapi ujungnya masuk tahanan. Ada tipe orang yang memang selalu ingin hidup damai, harmonis, bebas dari konflik.
Namun ada pula orang yang memandang konflik dan persaingan itu bagian dari hidup yang mengasyikkan.Tak ada kemajuan dan prestasi luar biasa tanpa sebuah risiko yang sangat menggelisahkan.Mereka yang berhasil meraih prestasi di atas rata-rata,perjuangan hidupnya juga di atas rata-rata.Yang kadang terjadi, orang kagum dan iri melihat orang lain sukses,tetapi tidak mau tahu dan meniru kerjakerasuntukmeraihkesuksesan itu.
Para atlet kelas dunia yang sekarang kaya-raya, mereka telah mengorbankan waktunya untuk bersenang-senang. Mereka mengisi waktu dengan latihan keras dan disiplin tinggi.Tapi kita hanya melihat sukses dan senangnya, tidak mau tahu perjuangan mereka sehingga sampai ke sana. Mas Sabarno mungkin mewakili budaya agraris, mental petani desa yang akrab dan damai dengan lingkungan alamnya.
Dia terkesan dengan Pak Harto yang selalu tersenyum dan bersikap kebapakan ketika berdialog dengan petani desa.“Hidup itu yang paling penting tenang dan aman. Bukan berlomba-lomba mengejar kekayaan,tidak peduli halal atau haram,”tandasnya. Untuk apa pangkat tinggi, hartamelimpahkalauyangdikejar- kejar harta haram dan mengorbankan harga diri? Mimpi indah warga desa tentang kehidupan yang tenteram, aman, dan damai tampaknya semakin jauh.
Dulu pasar-pasar tradisional di kota kecil menjadi sarana berkenalan da bersosialisasi para pengunjung dari desa yang berbeda sambil membawa dagangan hasil panennya. Orang pergi ke pasar sambil menambah kenalan.Tapi semua itu sekarang sudah berubah total. Gaya hidup dan ekonomi kota yang justru masuk ke desa. Mainan tradisional anak-anak hasil kerajinan tangan sudah tergeser oleh mainan impor.
Masuknya televisi dan telepon seluler ke desa membawa perubahan drastis dalam pola pikir dan pola hidup warga desa. Sawah kehilangan daya tarik dan keindahannya. Serial sinetron dan gemerlap iklan di televisi telah mengubah mimpi dan imajinasi orang-orang desa untuk bisa hijrah tinggal di kota atau setidaknya berperilaku seperti orang kota yang serbaglamor.Mereka tidak tahu,di kota terdapat kantong kemiskinan dan jaringan kejahatan yang mengerikan.
Ketenangan hidup terasa semakin mahal.Pejalan kaki di kota yang sudah benar mengambil posisi pun bisa tertabrak mobil karena sopirnya ugalugalan atau tengah mabuk.Pelajar yang telah bekerja keras agar lulus ujian bisa tersalip prestasi angkanya oleh mereka yang mencontek dan difasilitasi pengawasnya. Sarjana dengan IPK tinggi tidak ada jaminan lolos seleksi lamaran kerja kalau tidak memiliki koneksi dan uang sogok.
Ketika sudah bekerja, promosi tidak selalu didasarkan prestasi,melainkan pertemanan etnik,agama, partai atau almamater. Demikianlah, secara lahiriah pusat-pusat perbelanjaan di kota besar selalu ramai.Jumlah kendaraan automotif selalu bertambah. Namun ketenangan hidup malah merosot.Orang tua dan pendidik di sekolah semakin berat bebannya karena mendapat imbas kehidupan sosial yang beringas. Belum lagi beredarnya narkoba dan pornografi yang tidak selalu terdeteksi oleh orang tua dan guruguru di sekolah.
Sungguh mencengangkan, Indonesia menjadi pasar terbesar kedua sabu-sabu di dunia setelah Thailand. Adakah semua ini membuat kita pesimistis? Meminjam istilah yang sering digunakan Presiden SBY, kita semua sangat prihatin dengan keadaan ini. Tapi bagi rakyat tentu tidak cukup hanya dengan pernyataan prihatin.Mereka menuntut perbaikan nyata dan terukur. Perlu proyeksi, misalnya, antara angkatan kerja dan lowongan kerja. Perlu perencanaan matang antara jumlah kenaikan mobil dan pembangunan jalan.
Kita salut akhir-akhir ini pemerintah juga menaruh perhatian pada wilayah ”terpinggir” atau ”terdepan”yang terletak di perbatasan RI yang warganya tidak bangga dan percaya diri ketika bertemu dengan warga negara lain yang tinggal di seberang perbatasan. Namun sesungguhnya, sebelum jauh-jauh memperbaiki wilayah ”perbatasan”,yang namanya bandara internasional juga sebuah zona perbatasan yang mesti memperoleh perhatian lebih serius.
Bandara Singapura dan pesawat SQ, misalnya, adalah wajah terdepan negara dan masyarakat Singapura yang akan memberikan kesan pertama orang luar tentang negara itu. Mestinya Bandara Soekarno- Hatta didesain sedemikian rupa keindahan, ketertiban, keamanan, dan kenyamanannya mengingat bandara adalah wajah terdepan Indonesia.

Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat   
Jumat, 27 Januari 2012 11:23

0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
11:48 PM
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Comments (Atom)
Find Us :

Entri Populer

  • Kode Etik Jurnalistik
    Kode etik jurnalistik sangat penting bagi wartawan untuk mengatur etika-etika sang wartawan dan menentukan yang mana harus dilakukan dan ya...
  • TV ONLINE
    blog free download
  • Embun Pagi
    Ketika Jendela Terbuka Sinar Matahari Mencubit Manja Kulit Wajahku Membelai Halus Selembar Nyawaku Setetes Embun Ku Jilat Sejuk Mera...
  • PUTRA NABABAN SANG JURNALIS BERPRESTASI
    Putra Nababan mengawali karirnya di Koran Merdeka yang berubah nama menjadi Rakyat Merdeka, kemudian pindah ke Metro tv dan ke RCTI. Pria ...

Arsip Blog

  • ►  2013 (1)
    • ►  June (1)
  • ▼  2012 (27)
    • ►  November (1)
    • ►  May (7)
    • ►  April (5)
    • ►  March (5)
    • ▼  February (2)
      • Jilbab Masuk Ruang Pengadilan
      • Senang tapi Tak Tenang
    • ►  January (7)
  • ►  2011 (74)
    • ►  December (9)
    • ►  November (3)
    • ►  October (6)
    • ►  September (8)
    • ►  August (11)
    • ►  July (8)
    • ►  June (6)
    • ►  May (9)
    • ►  April (7)
    • ►  March (5)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2010 (27)
    • ►  December (10)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (3)
    • ►  August (10)

Pages

  • BERANDA
  • RADIO STREAMING
  • TV ONLINE
  • VIDEO
  • PICTURE

Pages

  • Home
ar_mutajalli. Powered by Blogger.
Copyright 2013 Blog Keywords - All Rights Reserved
Design by Mas Sugeng - Published by Evo Templates