Blog Keywords

Keyword for Writing

  • Home
  • About
  • Template
  • Design
  • Blogger
  • Tips Tricks
Home » Archive for May 2011

5/27/11

Home Schooling or Not?

Home Schooling or Not?
Much of what I thought about home schooling was wrong. The conventional wisdom about this rapidly growing dimension of American education is too simple, too stereotyped and too stale.

For instance, the Home School Legal Defense Association, despite its energetic lawyers and many admirers, is not the leader of home schooling in this country. There is no leader, and no reigning ideology. There are instead at least a million American children - the real figure is probably twice that number - whose families want them to learn at home for many reasons, often having little to do with religion or politics.

The common image of home-schoolers as lockstep religious conservatives falls apart when you discover that some of these parents have been shunned by their fundamentalist churches for teaching their kids at home rather than sending them to the church's school. Some home-schoolers love the new for-profit online teaching programs like K12. Some think they are a corporate plot. Some parents are home-schooling because their kids were learning more quickly than their teachers could keep up with. Some are home-schooling because their kids were learning more slowly than their public school teachers had patience for. Some home-school because their children were unhappy at school. Some home-school because they could not meet their needs any other way.

Public school educators often worry that the children of such people will not learn necessary social skills. But home-schooling parents said their children learned how to deal with other people just fine, particularly with the many adults they encountered when they visited the library or went to church or did chores around the neighborhood. With their parents so often at their side, they were able to see what good manners and self-confidence looked like, rather than be forced to adopt the jungle code of the average high school corridor. In many families one parent stays at home to supervise the home schooling, although they often do some work there to pay the bills, or trade off with other home-schooling parents when they have to be away Home schooling involves a tremendous commitment from the parents. At least one parent must be willing to work closely with the child, plan lessons, keep abreast of requirements, and perhaps negotiate issues with the school district. The most common home school arrangement is for the mother to teach while the father works out of the home. There are a variety of educational materials geared for the home school, published by dozens of suppliers. Some are correspondence courses, which grade students' work, some are full curricula, and some are single topic workbooks or drill materials in areas such as math or phonics.

Many of the curriculum providers are indentifiably Christian, including several major home school publishers such as Bob Jones University Press, Alpha Omega Publications, and Home Study International. A major non-religious provider of home school materials is the Calvert School in Baltimore. Figures vary as to how many home schools use published curricula or correspondence courses, but the Department of Education estimates that it is from 25 to 50%; the rest use a curriculum the parents and/or child have devised. Education writer John Holt, a champion of home schooling, suggested that no particular area of study was essential. He advised parents to use real life activities such as work in a family business, writing letters, bookkeeping, observing nature, and talking with old people as meaningful academic lessons. Home schools might fall anywhere on this spectrum, between the tightly planned study of a formal curriculum to Holt's free-form, experiential learning.

But first, all the parents interested in teaching their children at home need to find out what laws apply to their state and school district.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
4:16 PM

5/25/11

Semua Pekerjaan Pada Dasarnya Hina

Semua Pekerjaan Pada Dasarnya Hina
Semua pekerjaan itu pada dasarnya hina, kecuali guru dan dosen (pengajar).

Coba anda perhatikan, semua pekerjaan itu hina pada dasarnya. Tidak ada pekerjaan yang lepas dari omelan, baik itu bawahan ataupun atasan. Jika kita sebagai bawahan, kita mungkin sering dimarahi oleh atasan kita karena tugas-tugas kita tidak dilaksanakan dengan baik. Namun jika seseorang sebagai atasan juga tidak terlepas dari omelan. Tapi yang memarahinya bukanlah bawahan melainkan klien yang merasa tidak puas dengan pelayanan yang ia dapatkan.

Seseorang mungkin takut kepada atasannya, sampai-sampai untuk melintas di depannya saja segan. Tapi di mata klien, atasan (Direktur) itu tidak jauh beda dengan anak kecil yang sering dimarahin.

Begitu hinanya seorang Direktur sebuah perusahaan ketika dia dimarahi oleh kliennya yang tidak puas dengan pelayanannya, padahal yang melakukan kesalahan sebenarnya bukan dia (Direktur) melainkan bawahannya. Semakin tinggi jabatan seseorang di sebuah perusahaan maka semakin hinalah orang itu. tapi, untuk menghormati orang itu makanya dibuat kerenlah namanya. Baik itu Direktur, Manajer, Supervisor, dan lain sejenisnya…

Lain halnya dengan Guru dan Dosen. Guru dan Dosen itu sangat mulia pekerjaannya karena dia membagi ilmunya kepada semua orang dan itu akan menjadi amal jariahnya kelak. Walaupun kita lihat di negara kita tercinta ini masih banyak guru yang belum mendapatkan fasilitas yang layak sebagai guru. Masih banyak guru yang sudah mengabdi puluhan tahun sebagai Guru honor namun belum terangkat menjadi PNS. Untuk para guru bersyukurlah karena apa yang anda kerjakan adalah suatu pekerjaan yang sangat mulia.

Untuk semua orang, yang harus diperhatikan adalah apapun pekerjaan kita terlepas dari hina mulianya suatu pekerjaan itu tidak penting. Yang terpenting adalah setiap pekerjaan yang kita lakukan haruslah dengan tulus, ikhlas, dan sungguh-sungguh dan selalu diniatkan dengan ibadah semoga mendapat berkah dari Allah lahir batin dunia akhirat.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
5:38 PM

5/22/11

Manusia Terlahir Seperti Matahari

Manusia Terlahir Seperti Matahari
Kita terlahir seperti matahari.

Setiap manuasia memiliki cahaya, seperti cahaya matahari di dalam dirinya. Namun kadang manusia itu tidak menyadari cahaya yang ada di dalam dirinya itu. Padahal Sang Maha Pemberi Cahaya telah memberikan cahaya kedalam diri manusia sama denga manusia yang lain. Walaupun manusia itu tidak diciptakan dari cahaya, namun cahaya itu ada di dalam setiap diri manusia tergantung manusianya apakah ingin memancarkan cahaya itu atau tidak. Manusia yang telah memancarkan cahayanya adalah manusia yang bersyukur dengan cahaya itu, karena memanfaatkan cahaya yang telah diberikan oleh Sang Pemilik cahaya.

Cahaya itu bisa berupa potensi yang ada di dalam diri manusia yang deberikan oleh Allah sebagai modal hidupnya menjalani hari-harinya. karena sebenarnya setiap manusia itu diberikan potensi yang sama dengan manusia lain. Maka seharusnyalah kita sebagai hewan yang berfikir mencari tahu potensi apa yang terdapat di dalam diri kita. Dengan mengetahui potensi itu, kita bisa lebih mudah untuk memanagenya dan membuat diri kita berarti telah terlahir di dunia ini.

Ibarat matahari, jika matahari itu tidak pernah terbit memancarkan cahayanya maka kita tidak akan mengenal yang namanya matahari. kita tidak akan tahu apa itu matahari, karena dia tidak terbit dan memancarkan cahaynya. sama halnya denagn manusia, jika kita ingin dunia tahu bahwa kita pernah terlahir maka kita harus mamancarkan cahaya, memanfaatkan potensi yang ada di dalam diri kita. Agar dunia tahu bahwa kita pernah lahir di dunia ini.

Salah satu cara agar dunia tahu bahwa kita pernah ada yaitu dengan membuat karya dan pengaruh. Dengan berkarya dan berpengaruh dunia bisa sadar bahwa kita pernah ada dan berkontribusi di dalamnya. Makanya tidak heran jika banyak manusia berlomba untuk mencari pengaruh di negaranya masing-masing, baik itu dengan menjadi pejabat, pengusaha, penulis, artis, tokoh, dan lain-lain.

Entah bagaimanapun caranya agar kita bisa dianggap oleh dunia, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa bermanfaat dan tidak menjadi beban bagi orang lain.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
4:30 PM

Manusia Terlahir Seperti Matahari

Manusia Terlahir Seperti Matahari
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
4:29 PM

5/20/11

PSSI Tidak Bangkit di Hari Kebangkitan

PSSI Tidak Bangkit di Hari Kebangkitan
Sungguh sangat sedih melihat organisasi sepak bola terbesar di Indonesia ini yang semakin hari semakin tidak beres. kongres yang diadakan semalam pun (20/05) di hentikan karena tidak mendapatkan titik temu di berbagai pihak. Kongres ini seakan diaduk-aduk oleh berbagai kepentingan, entah motivasi apa yang membuat berbagai pihak untuk tetap kekeh mempertahankan kepentingannya demi keuntungan pribadi.

Kita bahkan tidak sadar kalau di balik semua kejadian ini ada pihak yang sengaja mengacaukan kongres tersebut karena kepentingannya tidak dapat ia capai. Akhirnya ia mengacaukan kongres agar perjuangannya selama ini untuk mendapatkan kepentingannya tidak sia-sia. Sungguh sangat ironi melihat kenyataan ini.

Padahal jika kita perhatikan pelaksanaan kongres bertepatan dengan hari kebangkitan nasional, seharusnya kita malu dengan pahlawan-pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia ini sehingga kita bisa menikmatinya. Entah kemana semangat itu kini, di hari kebangkitan nasional yang diperingati setipa tahunnya ini seharusnya PSSI bangkit dari keterpurukan. sebuah realita yang sangat memalukan pelihat petinggi-petinggi kita yang sudah tidak memiliki semangat kebangkitan nasional.

PSSI Tidak Bangkit di Hari Kebangkitan
1
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
11:29 PM

Asal menulis, [tanpa edit]

Asal menulis, [tanpa edit]
“Untuk menjadi penulis yang baik harus menjadi pembaca yang baik”

Itu merupakan sebuah kalimat yang sering saya dengar dari kawan-kawan calon penulis namun kenapa saya merasa susah melanjutkan tulisan ini. entah saya tidak tahu kata apa lagi yang akan saya tulis selanjutnya . saya kadang bingung mencari kata-kata yang tepat untuk menempatkan kata setelah kata itu sendiri. namun saya memaksakan ketidak mampuan saya ini. karena dalam alam bawah sadar saya, saya yakin bahwa saya bisa membuat sebuah tulisan jadi saya hanya menulis apa yang ada di dalam pikiran saya. karena kata kawan saya yang pernah mengikuti pelatihan kepenulisan bahwa intinya untuk menjadi penulis adalah duduk kemudian menulis. itulah inti dari pelatihan menulisnya yang di ikutinya kurang lebih delapan bulan. menulis itu bukan berfikir tapi menulis adalah menulis. duduk di depak komputer dan kemudian mengetik apa yang ada di dalam kepala kita. atau mengambil pulpen dan kertas kemudian menulis, menuangkan semua ide-ide yang ada di dalam pikiran kita.

namun kadang yang membuat penulis susah menuangkan ide-idenya adalah karena dia tidak punya ide, tidak punya apa-apa di dalam kepalanya yang bisa ia tulis. inilah yang membuat kita biasanya malas menulis karena saat kita ingin menulis kemudian tidak tau mau menulis apa, padahal sebelumnya dalam alam bawah sadar kita sudah sepakat untuk ingin menulis, namun pada saat ingin menulis tidak tau apa yang ingin di tulis.

salah satu syarat untuk menjadi penulis yang baik menulis adalah dengan menjadi pembaca yang baik. karena dengan menjadi pembaca yang baik kita bisa menulis apa-apa yang telah kita baca dan bisa menilai yang mana tulisan yang baik dan yang mana tulisan yang bagus. selain itu wawasan kita menjadi luas dan kita bisa leluasa menulis dengan wawasan yan g kita miliki.

saya selalu ingin berusaha untuk memenuhi kepala saya dengan isi buku-buku. namun sampai saat ini saya masih merasa bahwa kepala saya masih sangat kosong dengan wawasan dan ilmu dari buku-buku. namun kendala yang biasa saya alami adalah bagaimana caranya untuk mencadi pembaca yang baik.???

tulisan ini hanya mengalir apa adanya dari pikiran saya, awalnya saya ingin membahas tentang kalimat pertama di atas. namun setelah itu saya tidak tau kalimat apa yang ingin saya tulis selanjutnya. akhirnya saya memaksakan diri saya untuk menyelesaikan tulisan ini dan beginilah jadinya. awalnya tulisan ini saya beri judul “menulis seperti membaca, membaca seperti menulis” namun karena isinya tidak sesuai akhirnya saya ganti judulnya seperti diatas.

saya selalu berharap untuk menulis setiap hari , namun entah kenapa cita-cita itu snagat sulit untuk saya wujudkan. mudah mudahan dengan ini saya bisa menulis setiap hari walaupun isinya tidak karuan. intinya saya hanya ingin menulis.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
5:40 PM

5/19/11

Article Writing Tips From Spongebob Squarepants

Article Writing Tips From Spongebob Squarepants
Wisdom can be found in the most unexpected places. Today, wisdom bubbled up from a pineapple under the sea. I suddenly realized that everything you'd want to know about writing articles for your website can be taught by SpongeBob SquarePants and his friends.

When you write for your newsletter, blog, or website, which character are you most like?

Squidward: Squidward is B-O-R-I-N-G. When writing articles, are you a Squidward? Do you just get the words down on paper or are you finding a fun twist to entertain your audience and keep them coming back for more? Take time to make your articles stand out from the thousands of other dull articles out there by including personal stories or just having fun while writing. For instance, this article could be entitled "How to Write a Good Article", but would it stand out from the hundreds of other articles about article writing? Probably not.

Mr. Krabs: This crustacean is focused on one thing and one thing only, making more and more and more money. Only a cartoon could actually have dollar signs drawn in his eyes. He thinks of no one, only how he can benefit. Are your articles focused on you or on the reader? Are you providing information or do you have blinders on, thinking only about how you can make money from the article you are writing? If your article reads like an ad or is self-serving or full of affiliate links, you might write like Mr. Krabs.

Patrick: SpongeBob's best friend, the starfish, has a good heart, but isn't the brightest creature in the sea. Do your articles make you sound like an expert? Are you providing valuable content or just pushing out sloppy articles as fast as you can? Always double check for typos and grammatical errors. If you're challenged by spelling and grammar, hire a Virtual Assistant or Copywriter to proofread and submit your article for you. Or slow down, set your article aside for a day and then reread it before you click the "submit" button.

Plankton: The smallest creature in the sea is also the sneakiest. He'll do anything and hurt anyone to steal someone else's work (the Krabby Pattie secret formula). Write your own material. Don't be Plankton. Don't copy and paste someone else's work, edit it, and try to pass it off as your own. You will be caught, and it just isn't worth it. Take the same amount of effort and work on your own thoughts and ideas. Plankton never gets away with his schemes, either. He's on Plan "Z" and is still pathetically failing at his attempts to steal the secret formula.

SpongeBob: This little guy always tries to do the right thing, and is a hard worker. He may not always end up getting the results he hoped for, but he bounces back and tackles his work with a renewed vigor. SpongeBob works very hard, he's a good friend, he always thinks of others, and tries to have fun no matter what he is faced with. Hardworking, friendly SpongeBob is the guy to be when writing articles.

Although this is a silly lesson in article writing, I hope you'll remember the important messages our underwater friends have taught us.

1. Be entertaining. Not boring.

2. Write articles to help others, not with dollar signs in your eyes.

3. Proofread your articles carefully, and provide valuable information.

4. Write your own material. Don't copy others.

5. Be a SpongeBob! Hard work and persistence pay off.

Before you know it, you'll develop a following for having informative and entertaining articles and you'll be King or Queen of the sea. 
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
12:23 AM

5/17/11

Agama Punya Seribu Nyawa

Agama Punya Seribu Nyawa

Terdapat sikap mendua terhadap agama. Agama senantiasa diyakini dan dibela keberadaan dan kebenarannya, namun dalam waktu yang sama dibenci dan dicaci.

Sejarah mencatat selalu saja muncul sekelompok pemikir dan gerakan politik yang terang-terangan membenci agama serta berusaha membasminya, tapi ternyata tidak pernah berhasil. Faham dan gerakan komunisme-ateisme, misalnya, secara terang-terangan berdiri sebagai musuh agama, dengan tokohnya seperti Lenin dan Marx.

Ada juga filsuf dan ilmuwan kontemporer seperti Richard Dawkin, Christopher Hitchens, dan Sam Haris, yang secara sistematis membangun argumen ilmiah-rasional untuk memfalsifikasi kebenaran agama. Mereka sepakat untuk menyatakan bahwa berbagai dalil, keyakinan, dan pengalaman keagamaan itu semuanya palsu.

Tetapi, lagi-lagi, serangan itu tidak membuat agama mati lalu ditinggalkan pemeluknya. Yang kini tengah berlangsung justru semangat dan militansi beragama tengah meningkat di berbagai belahan dunia. Kebencian sekelompok orang pada agama memang cukup beralasan.

Antara lain disebabkan oleh perilaku sebagian umat beragama yang dengan dalih membela Tuhan dan menyebarkan agama justru telah menciptakan perpecahan di tengah masyarakat, bahkan mengeras jadi peperangan.Tak ada konflik dan perang yang paling panjang dan berdarahdarah selain perang antarkelompok agama.

Keyakinan dan nama Tuhan dibawa-bawa untuk memenangkan peperangan. Serunya lagi, perang itu mereka yakini sebagai perang suci (holy war). Sebuah sikap menyucikan dan memuliakan pertumpahan darah antarsesama hamba Tuhan, disebabkan perbedaan doktrin, pemahaman, dan keyakinan agama.

Yang juga menarik para pemerhati sejarah agama, fenomena keyakinan pada Tuhan dan ritual keagamaan tak pernah hilang dan mati dari kehidupan masyarakat dari zaman ke zaman, dengan berbagai ragamnya.

Padahal beberapa pemikir modern memperkirakan bahwa agama akan mati dengan sendirinya, sekalipun tanpa dibasmi, ketika ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sudah maju.Mereka berargumen, ketika semua persoalan hidup bisa dijawab dan diselesaikan oleh jasa iptek, maka Tuhan tak lagi diperlukan.

Tapi, lagi-lagi, ramalan itu meleset. Sampai-sampai muncul ungkapan, agama itu memiliki seribu nyawa. Kalaupun sepuluh mati,s isanya masih lebih banyak lagi. Ungkapan ini mau menegaskan bahwa jangan membayangkan agama akan lenyap dari panggung sejarah manusia. Banyak persoalan hidup yang tidak bisa dijawab oleh iptek modern, lalu dilimpahkan pada agama.

Para ahli memang tidak memiliki definisi tunggal tentang apa itu agama. Namun jika puluhan definisi agama dikumpulkan, terdapat beberapa elemen agama yang dianggap fundamental yang disepakati bersama: keyakinan terhadap eksistensi Tuhan, rasul utusan Tuhan, kitab suci,ajaran ritual keagamaan, dan keyakinan terhadap keabadian jiwa serta balasan baik-buruk di akhirat kelak.

Agama dalam pengertian di atas ditemukan hampir di semua bangsa,meski tidak persis sama. Jika disarikan, terdapat tiga aspek menonjol dalam agama, yaitu meyakini adanya Tuhan, meyakini kehidupan setelah kematian, dan aktivitas ritual untuk berdoa pada Tuhan.

Dari tiga aspek pokok itu muncul konsep amal saleh, tempat suci, kitab suci, etika sosial keagamaan, surga-neraka, dan berbagai aspek lain. Di tengah masyarakat Barat yang katanya sekuler pun ternyata keyakinan kepada Tuhan dan surge-neraka cukup berakar kuat.

Hal yang mungkin terjadi adalah dinamika perkembangan dan perubahan dalam memahami dan melaksanakan doktrin keagamaan dari zaman ke zaman. Misalnya bagaimana hubungan agama dan politik, terjadi pergeseran pemahaman dan sikap dibanding generasi awal ketika agama lahir.

Begitu pun hubungan kitab suci dan ilmu pengetahuan,terjadi dinamika penafsiran. Bahkan masyarakat mulai membedakan secara kritis antara institusi agama,substansi ajaran agama, dan perilaku pemeluk agama.

Orang mudah sepakat bahwa substansi semua ajaran agama adalah baik, datang dari Tuhan yang sama, yaitu Pencipta dan Pemilik semesta ini. Namun ketika masuk pada ranah sejarah doktrin, pemahaman dan perilaku pemeluknya, mulailah perbedaan bermunculan dan mudah sekali menggiring pada perdebatan emosional.

Tak ada debat keagamaan yang tidak mendorong munculnya sikap emosional. Jika nalar sehat, cinta kasih, dan ketulusan hati tidak menyertainya,maka tidak berlebihan mengatakan bahwa agama memang sumber konflik dan pertengkaran.

Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat
Jumat, 29 Juli 2011 08:58
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
6:03 PM

5/16/11

Top Ten Online Shopping Security Tips.

Top Ten Online Shopping Security Tips.
Every year billions of dollars are spent by consumers on line; and as the trend is growing rapidly, shopping security is still the number one factor in which a person may choose not to buy from a website.

This is particularly true if you are new to the internet or starting to buy on-line for the first time.

Shopping security has always been a touchy subject and is so important that most reliable companies go to a great deal of trouble to protect their customers rights, privacy and security.

So can people feel safe when shopping on-line?

The answer to this is yes, if shoppers follow simple guidelines. If you are new to the Internet or a regular shopper online, the following guidelines should apply.


1. Make sure you know the exchange rate; if you are not sure of the current rates, find out before you buy an item.

2. Find out the cost of delivery before placing your order and how long the delivery will take. Most shopping sites use couriers to deliver the goods and when delivering overseas can become quite expensive.

3. If you are bidding on E-bay check out the buyers and sellers feedback. This should become standard before you ever place a bid.

4. Always read the FAQ section if you are new to the site.

5. If someone demands cash for a payment, 'say no'. Use your credit card to make your payment; this will protect you against fraud. Credit card companies refund accounts where fraudulent activity transpires.

6. Check the buyers contact page. Make sure their postal address is posted on it. If not, don't deal with them.

7. Don't be afraid to ask the seller lots of questions, genuine sellers should be very helpful, some online shopping sites have forms where you can see customer feed back.

8. Check, and read in full the terms and conditions, and the privacy policy of the site.

9. If you are unsure about a site, try doing a search with Google or any of the other search engines. You may find comments posted about the shopping site from other customers.

10. If you are still not sure after reading the above it may be time to go shopping elsewhere.

These simple guidelines should also apply when bidding online.

If you do make the occasional bid in one of the many online auction sites, the same safety guidelines should become standard. Part of the appeal of buying or bidding online is that you tap into the global markets at a click of your finger. Buying through auction sites on the web can be very exciting and for most people enjoyable, but remember they can also be very addictive.

Most of the well-known auction sites are based in the United States; so overseas bidders should follow proper, but simple guidelines when placing their bids.

We should not shy away from the worthwhile experience of online shopping. Shopping on-line can bring you great savings, and will also take away the burden of going shopping.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
9:35 AM
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Comments (Atom)
Find Us :

Entri Populer

  • Kode Etik Jurnalistik
    Kode etik jurnalistik sangat penting bagi wartawan untuk mengatur etika-etika sang wartawan dan menentukan yang mana harus dilakukan dan ya...
  • TV ONLINE
    blog free download
  • Embun Pagi
    Ketika Jendela Terbuka Sinar Matahari Mencubit Manja Kulit Wajahku Membelai Halus Selembar Nyawaku Setetes Embun Ku Jilat Sejuk Mera...
  • PUTRA NABABAN SANG JURNALIS BERPRESTASI
    Putra Nababan mengawali karirnya di Koran Merdeka yang berubah nama menjadi Rakyat Merdeka, kemudian pindah ke Metro tv dan ke RCTI. Pria ...

Arsip Blog

  • ►  2013 (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2012 (27)
    • ►  November (1)
    • ►  May (7)
    • ►  April (5)
    • ►  March (5)
    • ►  February (2)
    • ►  January (7)
  • ▼  2011 (74)
    • ►  December (9)
    • ►  November (3)
    • ►  October (6)
    • ►  September (8)
    • ►  August (11)
    • ►  July (8)
    • ►  June (6)
    • ▼  May (9)
      • Home Schooling or Not?
      • Semua Pekerjaan Pada Dasarnya Hina
      • Manusia Terlahir Seperti Matahari
      • Manusia Terlahir Seperti Matahari
      • PSSI Tidak Bangkit di Hari Kebangkitan
      • Asal menulis, [tanpa edit]
      • Article Writing Tips From Spongebob Squarepants
      • Agama Punya Seribu Nyawa
      • Top Ten Online Shopping Security Tips.
    • ►  April (7)
    • ►  March (5)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2010 (27)
    • ►  December (10)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (3)
    • ►  August (10)

Pages

  • BERANDA
  • RADIO STREAMING
  • TV ONLINE
  • VIDEO
  • PICTURE

Pages

  • Home
ar_mutajalli. Powered by Blogger.
Copyright 2013 Blog Keywords - All Rights Reserved
Design by Mas Sugeng - Published by Evo Templates