Blog Keywords

Keyword for Writing

  • Home
  • About
  • Template
  • Design
  • Blogger
  • Tips Tricks
Home » Archive for 2012

11/4/12

Membincang Imam

Membincang Imam

Kita sampai arketipe terakhir, yaitu: anxiety. Yaitu struktur kejiwaan yang menyimpan kegelisahan dan keraguan karena terlalu banyak misteri hidup yang nalar kita semua tidak sanggup untuk memahami dan menjelaskannya secara rasional, ilmiah.

Kegelisahan ini akan semakin dirasakan ketika seseorang sudah menginjak usia lanjut yang secara statistikal sisa umurnya bisa diprediksi. Perjalanan dan perjuangan hidup sejak tahapan orphan yang tidak berdaya sampai magician yang merasa dirinya hebat, tetap menyisakan pertanyaan dan kegelisahan. Ketika orang sudah merasa sukses dalam hal karier keduniaan, atau sebaliknya merasa gagal dan terpuruk, selalu muncul pertanyaan eksistensial; bukankah semua serial drama hidup ini nantinya akan berakhir dengankematian? Adakahkehidupan lanjut setelah mati?

Kalau ada, adakah hubungan nasib di dunia ini dengan hidup yang baru? Andaikan mati adalah akhir dari seluruh dari eksistensi dan tak ada lagi kehidupan, lalu untuk apa semua perjuangan hidup ini aku jalani? Demikianlah, pada diri setiap orang selalu menyimpan pertanyaan dan kegelisahan karena terlalu banyak pertanyaan dan ketidaktahuan terhadap realitas semesta dan kehidupan. Akumulasi pengalaman masa lalu,berbagai cerita orang tua dan ceramah keagamaan, kesemuanya mendorong pada keyakinan bahwa mati bukanlah akhir kehidupan. Ada sumber kehidupan yang tak kenal mati dalam diri setiap orang, entah itu namanya ruh, jiwa, atau ada istilah lain.

Begitu pun dalam diri setiap orang ada dorongan untuk meraih hidup bermakna baik bagi diri, keluarga, maupun masyarakat. Dinamika dan jarak antara cita-cita indah yang tak terbatas dan realitas hidup yang mengecewakan selalu memunculkan kegelisahan, kekecewaan, dan semangat untuk selalu berjuang. Adalah keyakinan dan citacita mulia yang selalu memberikan amunisi dan semangat untuk selalu melangkah maju membangun kehidupan yang lebih baik. Hasil penalaran rasional dan akumulasi pengalaman hidup tetap saja menyisakan teka-teki dan misteri hakikat kehidupan yang tak terjawab.

Maka orang pun lalu mencari jawab pada agama, yang sentralnya adalah kepercayaan dan keyakinan adanya Tuhan yang serbamaha. Semata berdasarkan penalaran rasional, baik orang yang percaya akan adanya Tuhan maupun mereka yang tidak percaya, masing-masing memiliki basis argumen yang sulit dikompromikan. Bahkan semakin maju perkembangan ilmu pengetahuan, semakin maju pula argumen orang yang mengingkari adanya Tuhan berdasarkan argumen scientific.

Namun jika berbagai teori dan argumen tentang adanya Tuhan dikumpulkan, skornya lebih tinggi dan lebih meyakinkan ketimbang yang mengingkarinya. Bahkan, dikenal pula argumen psikologis yang disebut: the will to believe. Bahwa sesungguhnya dalam diri manusia terdapat dorongan kuat untuk percaya adanya Tuhan.Dorongan ini diperkuat lagi dengan argumen kenabian yang datang dengan memperkenalkan wahyu ilahi disertai mukjizat.

Namun, sesungguhnya berbagai argumen dimaksud tetap tidak mampu mengusir anxiety, kegelisahan manusia. Maka sekalipun orang telah mengaku beragama dan yakin adanya Tuhan, aktivitas yang paling utama dari sikap keberagamaannya adalah berdoa. Di dalam doa, setidaknya terdapat dua hal.Pertama rasa gelisah, ragu, takut,khawatir, dan di sisi lain lalu datang mengadu pada Tuhan untuk mendapatkan kepastian dan ketenangan.

Secara rasional,percaya dan meyakini Tuhan yang kemudian disebut “beriman” dan orangnya disebut “mukmin”, di situ terdapat sebuah loncatan, leap of faith, untuk melenyapkan keraguan. Rasa takut pada hukuman (neraka,punishment, kesengsaraan) dan harapan pada pahala (surga, reward, kebahagiaan) membuat seseorang selalu berusaha untuk hidup hati-hati dan berprestasi. Jadi,sikap dan pilihan iman itu terdapat unsur argumen rasional, dorongan psikologis, keraguan dan ketidaktahuan.

Dalam istilah agama maka dikenal: khauf wa raja’. Ragu bercampur harap. Orang beriman memiliki keraguan, apakah doa dan amal ibadahnya diterima Tuhan? Namun juga yakin dan penuh harap,Tuhan pasti Mahakasih, Maha Pengampun, dan Maha Pemberi Pahala. Baik dalam bahasa Indonesia, bahasa Arab, maupun bahasa Inggris terdapat ungkapan yang berbeda namun berdekatan, seperti: I know, I think, I feel, I see, I understand, I guess, I perceive, I believe, I witness, dan ungkapan serupa yang menunjukkan perbedaan konsep, sikap,dan implikasinya.

Semakin lanjut usia seseorang, ketika prestasi ilmu, jabatan, dan harta telah diraih semuanya, lalu apa lagi yang hendak dicari? Di sinilah iman memberikan insentif makna hidup dan jawaban, meskipun ada unsur spekulatifnya, yaitu kembali dan menyatu kembali dengan Tuhan, sang pencipta dan pemberi kehidupan. Karena Tuhan Mahasuci dan Mahabaik maka hanya dengan kondisi suci dan bekal kebaikan, seseorang akan lebih lancar pulang kembali ke pangkuan ilahi.

Pada akhirnya iman bukanlah sekadar percaya, melainkan sebuah pengakuan, kepasrahan, keyakinan,dan jalan hidup untuk mengantarkan pada tujuan yang melewati batas-batas sejarah dan duniawi. Kita semua berasal dari Tuhan dan akan kembali pada Tuhan.

Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat  
Jumat, 02 November 2012 10:41

0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
7:23 AM

5/12/12

Beragam Persepsi tentang Indonesia

Beragam Persepsi tentang Indonesia

Ketika masih duduk di sekolah dasar dulu, saya selalu menerima penjelasan dari bapak/ibu guru bahwa Indonesia adalah negara yang sangat indah, alamnya kaya raya,terbentang bagaikan zamrud khatulistiwa.
Penduduknya ramah-tamah, rukun, jujur, senang bergotong- royong, tetapi juga gagah berani melawan penjajah. Dengan senjata bambu runcing para pemuda mampu mengalahkan Belanda. Persepsi itu masih tertanam di benak saya, tetapi secara bertahap mulai terkoreksi. Ini terjadi bisa saja karena materi pengajaran dulu yang salah atau kondisi Indonesia sudah berubah.

Setelah belajar sejarah, ternyata kekalahan Jepang di hadapan sekutu memiliki andil besar bagi peluang kemerdekaan Indonesia tanpa memperkecil peran para pemuda yang gagah berani melawan Belanda dengan senjata bambu runcing. Dan yang sangat menyedihkan adalah persepsi dan keyakinan puluhan tahun yang mengatakan bahwa kepulauan Indonesia itu sangat indah dan kaya, bagaikan zamrud khatulistiwa.
Kini yang terjadi tengah berlangsung penggundulan dan perusakan hutan. Kandungan tambang di perut bumi pun diburu dan dikeruk dengan rakusnya sehingga merusak lingkungan hidup, baik alam maupun lingkungan sosialnya. Yang paling mencolok mata tentu saja di Situbondo yang populer dengan sebutan “Lumpur Lapindo”. Belum lagi yang jauh di tengah hutan atau di lepas pantai.
Jadi, ketika di SD dulu memperoleh penjelasan bahwa Nusantara ini jadi sasaran penjarahan oleh VOC, rasanya situasi hari ini tidak jauh berubah. Kalau dahulu yang dijarah sebatas rempah-rempah, sekarang berkembang menjadi kandungan minyak bumi, emas, nikel, hutan, kelapa sawit, dan entah apa lagi. Lagi-lagi, yang menjarah adalah kekuatan asing mirip zaman VOC dulu.
Jika dahulu ada istilah komprador, yaitu pribumi yang bersekongkol dengan penjajah asing, sekarang jumlahnya juga semakin banyak. Bahkan sekarang penjarahan semakin canggih, tidak hanya hutan jati dan pohon besar yang dijarah dan ditebangi, tetapi “pohon-pohon besar” berupa lembaga keuangan dan pusat-pusat industri juga dikangkangi kekuatan asing.

Apa dan Siapa Indonesia?
Jawaban dari pertanyaan ini pasti akan bervariasi, tergantung kepada siapa pertanyaan dikemukakan. Seorang teman pebisnis pernah sangat tersinggung ketika mendengar pandangan orang asing bahwa Indonesia lahan bisnis yang menggiurkan. Semua urusan, termasuk perizinan mudah diatur asalkan ada uang pelicinnya. Tanpa uang pelicin semua urusan akan lamban dan sulit di Indonesia.
Dengan uang semua urusan jadi lancar. Persepsi yang demikian tentu sangat menyakitkan,tetapi kebenarannya sulit ditolak mengingat kita semua mudah melihat dan mungkin punya pengalaman, misalnya ketika mengurus SIM atau KTP mesti dikenai uang pelicin. Persepsi lain yang mulai berkembang adalah Indonesia merupakan negara “pilkada”. Hitung saja, berapa ratus jumlah pemilihan kepala daerah yang berlangsung setiap tahunnya.

Hanya saja disayangkan, eksperimentasi dan praktik demokrasi ini tidak disertai penegakan hukum yang tegas dan jujur, tidak juga dibarengi dengan pendidikan politik bagi rakyat. Akibatnya, setiap ada peristiwa pilkada muncul money politic yang merusak mental rakyat dan kepala daerah yang dihasilkan juga tidak bagus. Maka logis jika sudah puluhan, bahkan di atas angka 100, mantan gubernur, bupati, wali kota, dan anggota DPR yang berurusan dengan KPK dan jadi penghuni tahanan.
Persepsi lain yang mengemuka, Indonesia termasuk tiga besar setelah India dan China yang senang mengunduh (download) foto dan gambar porno lewat internet. Hobi pornografi ini seiring dengan membengkaknya pengedar dan pengguna narkoba. Indonesia tidak saja sebagai pemakai, tetapi sudah masuk kategori produsen narkoba di kawasan Asia. Persepsi lainnya, Indonesia juga dikenal sebagai eksportir batu bara, minyak mentah, dan TKI dengan keahlian rendah.Yang terakhir ini membuat wajah Indonesia tercoreng.
Ketika bertemu teman dari Timur Tengah atau Malaysia, ketika pembicaraan masuk ke ranah TKI, saya sering tersipu malu. Apa yang dikemukakan di atas, fakta ataukah persepsi? Apa pun jawabannya, semua itu menutupi kehebatan dan kekayaan alam dan budaya Indonesia yang tak tertandingi. Rasanya nation branding kita lemah yang kemudian mengemuka dalam persepsi masyarakat dalam dan luar negeri jadi negatif.Persepsi ini sangat penting. Bukankah para politikus itu sibuk membangun opini dan persepsi bahwa dirinya hebat? Namun, persepsi pada akhirnya akan diperkuat atau terkoreksi oleh kenyataan.



Ditulis oleh Prof. Dr. Komaruddin Hidayat   
Jumat, 11 Mei 2012 08:25
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
10:21 PM

Berhalakan (Simbol) Agama?

Berhalakan (Simbol) Agama?



Tiada agama tanpa simbol-simbol. Sungguh tidak mudah menjelaskan simbolisme agama terhadap anak-anak. Namun sesungguhnya pada orang dewasa pun hampir sama saja halnya.
Orang nonmuslim Barat sering melontarkan anggapan, orang Islam itu ibadahnya menyembah Kakbah. Tak ubahnya menyembah berhala dari batu. Anggapan dan pertanyaan serupa bisa juga dialamatkan pada pemeluk agama lain. Benarkah umat Nasrani menyembah patung Bunda Maria dan Yesus? Benarkah umat Buddha menyembah patung Sidharta Gautama? Benarkah umat Hindu menyembah patung Ganesha?
Cara paling bijak, tanyakan saja langsung kepada umat beragama yang bersangkutan. Jangan menduga-duga, lalu hasil dugaan dan tafsiran itu dilekatkan kepada orang lain. Ini namanya labelisasi, satu bentuk kekerasan dalam wacana keagamaan. Objek yang menjadi sesembahan agama bersifat metafisik, transendental, tidak kasatmata, absolut, gaib, yang kemudian disebut Tuhan.
Namun kalau dikejar lebih lanjut lagi, apa dan siapa yang dimaksud dengan kata ”Tuhan”, maka diskusinya tidak pernah berakhir dari masa ke masa. Banyak kitab suci menjelaskan siapa Tuhan dan ribuan judul buku telah ditulis untuk membahas kata dan konsep Tuhan, baik berdasarkan kitab suci maupun analisis filsafat. Tiap agama memiliki konsep, doktrin, tradisi, dan tatacara beribadah bagaimana menyembah Tuhan.
Makanya setiap agama memiliki konsep tempat suci dan hari suci untuk melakukan ibadah.Tapi, lagi-lagi, kalau tiap konsep itu diperdebatkan, pasti tidak akan pernah selesai dan mungkin hanya akan menyakiti pihak lain. Ajaran dan praktik agama tidak untuk diperdebatkan, tetapi dipahami, dihayati, dan diamalkan. Kalau berbagi pengetahuan dan pengalaman antarumat beragama, itu bagus-bagus saja.
Dalam Alquran juga dianjurkan untuk berdialog dengan bijak dan baik, jangan main paksa. Adapun soal iman, Allah yang akan menimbang di akhirat nanti. Kembali pada soal simbol. Ada perbedaan antara simbol, tanda, dan ikon. Kalau perut lapar, maka melihat gambar sendok-garpu berarti tidak jauh lagi akan ada restoran. Tanda semacam ini ada yang menyebutnya indeks.

Patung Yesus dan Bunda Maria, itu masuk kategori ikon. Adapun ”salib” lebih bersifat simbolik, bukan indeks, bukan pula ikon. Islam melarang keras penggunaan ikon atau patung dalam peribadatan. Makanya di dalam masjid tidak akan ditemukan patung. Ini berbeda dari gereja, kuil atau kelenteng yang membolehkan ikon dalam upacara ritualnya. Tapi pertanyaannya, apakah mereka menyembah ikon atau patung? Tanyakan saja langsung kepada mereka.

Adapun simbol memiliki konsep dan makna yang lebih kompleks dan filosofis. Keterkaitan antara ”simbol” dan ”subjek atau objek” yang hendak dihadirkan dihubungkan dengan makna yang dibangun dan disepakati oleh sebuah komunitas, yang tidak mudah dimengerti oleh komunitas lain. Jadi, karakter simbol beda dari ikon atau indeks yang langsung bisa dipahami oleh siapa pun, yang hampir-hampir tidak menimbulkan perbedaan penafsiran.
Kecuali ketika ke luar negeri, misalnya ke Jepang, tiba-tiba saya merasa buta huruf, tidak memahami tanda-tanda dalam huruf Kanji. Simbol yang paling dalam maknanya dan sekaligus paling sensitif dibahas adalah menyangkut eksistensi Tuhan yang berkaitan dengan format peribadatan. Ketika orang Islam berebut mendekati dan mencium Kakbah, bagaimana memahaminya? Bahkan ketika saling adu tenaga untuk mencium ”hajar aswad”, keutamaan apa sesungguhnya yang hendak dicari?
Jawabannya sangat sensitif terhadap pertanyaan ini. Adapun tentang Tuhan, di dalam Islam yang lebih populer bukannya simbol, tetapi ”nama-nama” dan ”ayat-ayat” atau tanda-tanda kebesaran Tuhan. Ibarat hubungan dalam keluarga, kita memerlukan nama sebagai panggilan dan identifikasi. Kita mencintai seseorang karena sifat atau kepribadiannya, bukan mencintai namanya, sekalipun ada korelasi antara nama dan pemilik nama.
Kita mencintai dan menyembah dzat Allah, bukan nama Allah yang terdiri dari lima huruf itu. Bahkan sebanyak 99 nama Tuhan sangat populer dan dihapal. Apakah ketika menyebut nama-nama Allah itu hati dan pikiran kita juga paham dan terhubung dengan-Nya? Jadi, dalam beragama banyak sekali simbol dan tanda-tanda.
Kita tidak menyembah simbol, tetapi melalui simbol, tanda, dan nama, kita ingin memahami dan mendekati Tuhan yang melampaui ketiganya. Subhanallah. Maha Suci Allah dari berbagai dugaan, rekaan, dan tafsiran kita yang lemah ini.


Ditulis oleh Prof. Dr. Komaruddin Hidayat   
Jumat, 04 Mei 2012 08:18


0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
10:20 PM

Tiga Pilar Kebahagiaan

Tiga Pilar Kebahagiaan


Sebuah penelitian psikologi sosial menyebutkan, terdapat tiga pilar utama kebahagiaan seseorang, yaitu having a good family life, having a good job, dan having good friends and community.
Ketika diteliti, sebagian besar umur seseorang akan dihabiskan di dalam tiga zona pergaulan dan aktivitas di atas. Tiap zona aktivitas dan pergaulan akan saling melengkapi dan menutupi kejenuhan dan kekurangan yang lain. Yang pertama dan paling dasar adalah keluarga yang baik (a good family life). Secara emosional, keluarga memiliki daya gravitasi paling besar bagi kehidupan seseorang. Apa pun yang dilakukan seseorang di luar rumah pada akhirnya akan kembali kepada keluarga sehingga rumah tangga sering diibaratkan tempat berlabuh bagi sebuah kapal setelah mengembara ke lautan lepas.
Oleh karenanya, karier seseorang yang otentik dan kokoh hanya akan mungkin diraih kalau basis keluarganya solid. Soliditas keluarga dibangun terutama oleh hubungan cinta dan iman. Cinta bagaikan pupuk atau air yang akan membuat pohon rumah tangga selalu tumbuh segar, sedangkan iman memberikan ikatan moral yang kuat bahwa rumah tangga adalah amanat suci dan sebuah bahtera yang jangkauannya sampai di akhirat nanti. Rumah tangga bukan sekadar transaksi administrasi layaknya jual-beli, melainkan juga sebuah perjalanan dan pertumbuhan moral-spiritual. Kedua, having a good job.
Seseorang bekerja tidak semata untuk mengejar uang, tetapi menyangkut harga diri, aktualisasi diri, dan bersosialisasi di luar zona keluarga. Bisa dipastikan, orang yang menganggur, meski memiliki banyak uang, tidak akan bahagia. Orang yang hidup semata mengandalkan harta warisan tidak akan bangga dengan dirinya. Begitu pun mereka yang bekerja, tetapi tidak merasa cocok dan bangga dengan pekerjaannya, hatinya akan tersiksa. Ruang kerja bagaikan ruang tahanan.
Kerja akan terasa nyaman jika sesuai dengan bakat dan minatnya serta kulturnya bagus, tidak koruptif, dengan imbalan gaji yang cukup, syukur berlebih, untuk mendukung kehidupan keluarga. Sebuah lingkungan kerja akan dianggap sehat kalau para karyawannya memiliki peluang dan dorongan untuk tumbuh, baik skill, pengetahuan maupun kepribadiannya. Apalah artinya gaji tinggi jika ternyata tidak halal dan budayanya koruptif. Semua itu akan merongrong kualitas kebahagiaan yang dibangun dalam rumah tangga. Ketiga, lingkungan pertemanan dan komunitas.
Kita semua mengalami bahwa umur kita tidak hanya dihabiskan dalam urusan rumah tangga dan kerja, tetapi juga bermasyarakat. Itu suatu kebutuhan sosial dan psikologis. Makanya muncul komunitas “alumni” di luar jaringan keluarga dan kerja. Hanya, penting dicatat bahwa lingkungan pergaulan yang tidak sehat akan menggerogoti aset kebahagiaan yang kita bangun lewat zona keluarga dan kerja.
Sering terjadi sebuah keluarga terjerat masalah oleh jaringan pertemanan yang tidak sehat. Ini paling mudah diamatipadaremaja, tetapibisa juga terjadi pada orang dewasa. Keburukan itu mudah menular, bahkan kadang lebih cepat dari kebaikan. Olehkarenanya, having good friends and community merupakan satu pilar penting untuk meraih kebahagiaan hidup seseorang. Demikianlah, tentu saja banyak pilar lain yang memengaruhi kebahagiaan seseorang. Namun ketiga aspek tadi begitu dominan.
Di atas ketiganya, menurut hasil penelitian dimaksud, adalah personal values. Nilai-nilai hidup seseorang akan sangat berpengaruh dalam memaknai hidup ini. Bagi orang yang taat beragama dan tidak, tentu akan berbeda dalam memandang keluarga, harta, dan pergaulan. Ada orang yang yakin dengan banyak bederma, bersedekah ,maka jalan rezeki akan semakin terbuka. Namun ada yang berpandangan sebaliknya. Inilah yang dimaksud dengan personal values.
Sebuah kerangka berpikir dan keyakinan hidup yang sangat berpengaruh dalam perilaku seseorang, termasuk dalam berumah tangga, bekerja,dan bermasyarakat. Sebagai pribadi saya yakin kerja dan harta yang tidak halal tidak akan mendatangkan berkah dan kebahagiaan. Jika harta haram masuk ke mulut kemudian mengalir bersama darah dalam tubuh,maka harta haram tadi akan masuk disertai energy negative (setan) sehingga perilaku seseorang juga akan seperti setan.
Pikirannya, tangannya, kakinya,mulutnya akan dikendalikan oleh setan. Makanya sebagai orang tua mesti hati-hati memberikan rezeki atau nafkah kepada keluarga. Hindari membawa barang haram ke rumah jika kita benar-benar sayang kepada keluarga. Jangan membawa racun kehidupan.


Ditulis oleh Prof. Dr. Komaruddin Hidayat   
Jumat, 27 April 2012 08:28
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
10:18 PM

Sopir Taksi yang Tercerahkan

Sopir Taksi yang Tercerahkan

Untuk kesekian kalinya saya menjadi pendengar manis sopir taksi yang memperolok-olok bupati, wali kota, dan anggota DPR yang korup dan masuk tahanan. Faiz, sopir taksi Kota Semarang ini,merasa bersyukur dan bangga menjadi sopir ketimbang pejabat negara atau wakil rakyat yang korup.
Mereka membuat rakyat sengsara dan keluarganya menanggung malu. Pertengahan April lalu, saya berkeliling naik taksi di Semarang. Rupanya dia mengenal wajah saya yang suka tampil di layarkaca, sehingga dia membuka pembicaraan seputar politik. Saya mulai dengan memberi apresiasi Kota Semarang yang tertib dan bersih. Namun, jawabannya sungguh membuat saya tercengang. Menurut Faiz,masyarakat Jawa Tengah itu religius dan mewarisi budaya luhur.
“Tetapi saya heran, mengapa pemimpinnya pada lupa diri. Banyak yang korup. Dulunya mereka miskin, hidup pas-pasan, tetapi setelah menjabat jadi berubah. Mabuk kekuasaan, yang ujung-ujungnya menyengsarakan diri, keluarga, dan rakyat. Sekarang mereka masuk penjara,” kata Faiz bersemangat. Ketika menyebut korupsi dan masuk penjara, saya menjadi penasaran, ingin tahu, siapa saja mereka itu.
Maka sopir taksi itu nyerocos: Wali Kota Semarang Soemarmo HS, status hukum tersangka, kini ditahan KPK; Ketua DPRD Jawa Tengah, Murdoko, tersangka,dan kini ditahan KPK; Akhmat Zaenuri, Sekda Kota Semarang, sedang proses Pengadilan Tipikor; Probo Yulastoro, mantan Bupati Cilacap, sedang menjalani hukuman penjara; Hendy Boedoro, mantan Bupati Kendal, terdakwa dan kini dalam penjara; Bambang Bintoro, mantan Bupati Batang, posisi tersangka; Agung Purno Sardjono dan Sumartono anggota DPRD Kota Semarang, terdakwa; Tasiman, mantan Bupati Pati, status terdakwa; Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Riza Kurniawan, status tersangka.
Demikianlah, sopir taksi tadi begitu lancar menyebut sekian nama orang penting di Jawa Tengah yang terlibat korupsi, termasuk pejabat di Tegal dan Sragen. Karena begitu meyakinkan, sementara saya tentu agak ragu dan sulit menghafal nama-nama yang dia sebut, maka saya menghubungi Saudara Nur Hidayat Sardini, dosen Undip Semarang, minta klarifikasi dan konfirmasi tentang isu tersebut.
Juga Saudara Sonya, perwakilan Kompas di Semarang.Ternyata keduanya membenarkan cerita sopir taksi tersebut.Astaghfirullah, batin saya. Mau dibawa ke mana negara dan rakyat Indonesia ini? Cerita Faiz tidak hanya berhenti di situ. “Banyak orang berambisi ingin mencalonkan diri jadi bupati atau wali kota. Mereka sudah keluar uang puluhan miliar untuk biaya kampanye, tetapi ternyata kalah.
Ujungnya mereka jatuh miskin, sakit-sakitan, keluarga berantakan, bahkan ada yang sudah meninggal, ”celotehnya berlanjut,“ dulu saya malu jadi sopir taksi. Tetapi sekarang saya bangga. Ini pilihan Tuhan yang terbaik buat saya dan keluarga,” ujarnya. Faiz sering mendapat penumpang pengusaha dan politisi yang lagi pusing. Kepalanya dipukul-pukul sendiri. Ada yang kalah judi, terkena peras, dan merasa diancam polisi atau pengadilan kalau tidak bisa melunasi utang-utangnya.
Yang membuat Faiz dilematis adalah ketika mendapatkan order dari perempuan penghibur. Dia ingin mencari rezeki yang halal dan bersih, tetapi kadang mesti mengantar tamu atau perempuan yang kerjanya begituan. “Untunglah saya sedikit-sedikit belajar hakikat hidup dan tawajjuh dari seorang ustaz,” kata Faiz, “saya merasa dekat dengan Allah, bahkan saya sering menasihati penumpang taksi yang lagi bingung, tidak punya tujuan hidup yang jelas.”
Mendengarkan obrolan sopir taksi serasa saya memperoleh kuliah dari seorang guru kehidupan yang bijak bestari. Ternyata di mata seorang sopir taksi, kejujuran, kerja keras, dan selalu mensyukuri hidup itu jauh lebih berharga ketimbang jabatan, popularitas, dan gemerlap harta. “Saya pernah mabuk harta dan ambisi jabatan, tetapi itu masa lalu,” kata Faiz, “Tuhan selalu menguji hamba-Nya, termasuk saya, yang sekarang jadi sopir taksi. Semoga saya lulus dalam ujian ini dan memperoleh kehidupan yang berkah,” doanya menutup obrolan.


Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat   
Jumat, 20 April 2012 08:34
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
10:17 PM

The Magic of Gratitude

The Magic of Gratitude

Sikap positif untuk selalu bersyukur atau terima kasih itu memiliki keajaiban di luar yang kita perhitungkan. Sungguh tepat, hampir semua kitab suci dan agama yang saya pelajari selalu mengajarkan untuk selalu bersyukur atas anugerah hidup.
Apa pun kondisinya, selalu saja ada yang pantas sekali kita syukuri. Barangsiapa bersyukur, Allah pasti akan menambah nikmat yang sudah diterimanya. Tetapi, barangsiapa yang selalu mengingkari nikmat-Nya, pasti hidupnya akan menderita (Alquran, 14:7). Sikap bersyukur dan senang mengucapkan terima kasih hanya akan muncul dari orang yang mencintai kehidupan. Nasihat suci itu mudah sekali kita amati dan buktikan dalam pengalaman hidup sehari hari.
Dalam ungkapan klasik dan populer, di alam semesta ini berlaku law of attraction. Hukum tarik-menarik antara sesama energi. Kalau seseorang selalu berpikir positif, gembira, dan mensyukuri hidup, energi dan nasib positiflah yang akan datang bergabung pada orang itu. Sebaliknya, orang yang selalu berpikir negatif dan serba mengeluh, dunia akan selalu terlihat gelap dan menyiksa. Mereka yang mempelajari teori kekuatan bawah sadar sangat percaya dengan formula ini.
Apa pun yang dibayangkan, pikirkan, dan bisikkan di hati, sesungguhnya seseorang tengah berjalan menuju apa yang dia dambakan. Lebih kuat lagi daya tarik sukses itu kalau disertai doa memohon kepada Allah untuk ikut campur tangan memudahkan jalannya. Coba amati perilaku diri kita masing-masing.Ketika hati dan pikiran jernih lalu mengalir darinya rasa syukur, menatap terbit matahari pagi pun akan terlihat indah. Pepohonan juga turut bicara.
Kehadiran mereka memberikan kesejukan mata dan berbagi oksigen yang diperlukan manusia. Belum lagi guyuran air di pagi hari yang membuat badan sehat dan segar.Semua itu menjadi hidup dan terasa melimpah hanya ketika seseorang memiliki hati dan pikiran positif untuk selalu mensyukuri anugerah kehidupan. Demikianlah selama 24 jam begitu melimpah anugerah Tuhan yang pantas kita syukuri, tanpa kehilangan sikap kritis dan peduli terhadap keadaan yang kurang nyaman.
Situasi sosialpolitik yang pengap bahkan merupakan salah satu panggilan dan peluang untuk berbuat kebajikan menolong sesama sebagai ungkapan rasa syukur utamanya bagi mereka yang memiliki ilmu, kekayaan, jabatan,serta kesehatan untuk mengisi hidup agar lebih bermakna. Pikiran itu ibarat kacamata. Jika warna kacanya hitam, pemandangan akan menjadi hitam.Tentu saja pikiran lebih dari kacamata karena pikiran akan memengaruhi kinerja organ-organ lain dalam tubuh kita, dari yang kasar sampai yang halus.
Pikiran yang sehat, kreatif, dan konstruktif akan membangun dunia imajinasi yang sehat.Pikiran negatif akan selalu mengutuk lingkungan yang dijumpai, di mana saja, kapan saja,dan siapa saja. Selalu berpikir negatif tak ubahnya mengoleksi memori negatif dalam album atau disket pikiran kita sehingga ketika muncul ke permukaan yang keluar adalah cerita dan narasi negatif.
Para nabi dan avatar telah memberikan contoh. Ibarat pohon teratai yang tumbuh di kolam yang kotor dan berlumpur, selalu saja pohon teratai memberikan bunga yang indah dan bersih. Mereka menghadapi dunia yang semrawut, amburadul, namun pikiran tetap kritis, konstruktif, dan hati jernih untuk membangun dunia baru yang beradab yang menjadi warisan dan kekayaan sejarah. Yang selalu merusak pribadi yang penuh syukur adalah sikap rakus dan sombong.
Orang yang rakus sulit mensyukuri anugerah yang sudah di tangan. Sebaliknya, dia akan selalu merasa kurang terus sehingga hatinya selalu merasa miskin dan gelisah. Inilah yang mungkin menjangkiti para politisi dan pejabat negara kita sehingga tidak mampu menahan dorongan korupsi. Berapa pun jumlah gaji dan kekayaan yang didapat akan selalu dirasakan kurang. Suasana batin ini diperparah lagi ketika bertemu dengan sikap sombong.Tidak rela, bahkan sakit hatinya, ketika melihat orang lain berlebih dari dirinya.
Karena itu, rakus, sombong, dan dengki selalu hadir dan bekerja bersamaan. Jika tiga penyakit itu bercokol pada orang yang memiliki kedudukan tinggi dalam pemerintahan, kekayaan negara dan hak rakyat akan dilibas dan dikeruknya. Berbahagialah mereka yang mampu memelihara hati dan pikiran untuk selalu bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan dan sesama mengingat nilai kekayaan dan kepintaran itu pada akhirnya bukan pada jumlahnya, melainkan pada fungsi dan manfaatnya untuk membuat kehidupan lebih bermakna.
Hidup lebih nyaman, terbebas dari perasaan salah dan dikejar dosa. Seorang koruptor bisa saja merasa menang dalam proses pengadilan.Tetapi, pengadilan nurani tak bisa dibohongi.Bagi orang yang beriman, kita semua akan menghadap pengadilan Tuhan yang tak mungkin disuap.Yang membela dan meringankan adalah amal kebajikan kita.


Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat   
Jumat, 13 April 2012 08:18
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
10:15 PM

Language is Our House of Being

Language is Our House of Being

“Kita tinggal dan tumbuh di dalam dan dengan bahasa,”kata Heidegger. Dengan bahasa,dunia manusia semakin meluas dan terstruktur. Dengan bahasa, dunia manusia menjadi terbentang melewati batas fisik,etnik,agama, kebudayaan, dan generasi.
Dengan bahasa, benda-benda serta orang-orang di sekelilingnya dirajut dengan pemberian nama atau label sehingga dengannya manusia menciptakan jaringan komunikasi dan membangun makna-makna. Seperti dikatakan Whitehead, dalam tindakan berbahasa seseorang berbicara kepada dua objek,yaitu ke dalam berbicara kepada diri sendiri dan ke luar kepada orang yang lain.
Dengan demikian, bahasa merupakan medium ekspresi dan eksternalisasi diri agar dirinya dipahami dan diterima orang lain. Sebaliknya, lewat bahasa pula seseorang melakukan identifikasi dan internalisasi nilai-nilai serta informasi yang dijumpai di sekelilingnya. Dengan kata lain, berbeda dari dunia hewan,bahasa telah memungkinkan manusia keluar dari dunia insting ke dunia refleksi dan makna.
Dengan bahasa, alam sekelilingnya diberi atribut dan klasifikasi sehingga pada gilirannya atribusi dan klasifikasi mengantarkan lahirnya ilmu pengetahuan dan teknologi. “The lore of our father is a fabric of sentences,” demikian salah satu adagium populer di kalangan filsuf bahasa. Pengetahuan dan adat-istiadat orang tua kita adalah bangunan makna-makna yang terajut dalam jaringan kalimat yang diwariskan secara turun-temurun kepada anak cucunya.
Di dalam bahasa dan melalui bahasa, peradaban diwariskansecaraturun- temurun. Catatan tentang pengalaman hidup, himpunan ilmu pengetahuan, serta nasihat bijak dari nenek moyang kita tersimpan dalam wadah bahasa sehingga generasi yang datang tidak harus membangun peradabannya mulai dari nol.Transmisi atau alih peradaban tersebut, pada mulanya,hanya mengandalkan medium atau mata rantai bahasa lisan.
Namun saat ini,bahasa lisan dan bahasa ritual diperkuat lagi dengan bahasa tulis dan teknologi video kamera. Meskipun bahasa kelihatannya bersifat nonmateri karena berupa gagasan, ekspresi perasaan dan kata-kata, ia memiliki kekuatan yang sangat besar dan berpengaruh secara riildalam kehidupan sehari-hari dan bahkan bisa menciptakan sebuah revolusi sosial.
Terlebih lagi ketika teknologi kaset,televisi, mesin cetak, dan sekarang berkembang jaringan internet melalui komputer,penyebaran informasi dan gagasan berlangsung semakincepat. Lewat buku, seorang penulis sejarah bisa merekonstruksi peristiwa masa lalu untuk dihadirkan ke forum “kini dan di sini”(now and here). Jarak ruang dan waktu bisa dipersempit dan bisa juga diperlebar oleh wawasan ilmu pengetahuan yang dikomunikasikan melalui bahasa.
Jika sejarah berhasil mendekatkan masa lalu ke masa kini,prediksi tentang masa depan pun bisa diproyeksikan sejak hari ini. Di sini, lagi-lagi semakin terlihat betapa eratnya kerja sama antara berbagai disiplin ilmu, sementara itu bahasa tampil sebagai medium dari semua wacana keilmuan dan aktivitas kehidupan. Kalau saja tak ada institusi bahasa, terlebih bahasa tulis, dunia manusia akan menjadi sempit, pendek, karena khazanah hidup masa lalu akan lenyap bersama perjalanan waktu.
Setiap peristiwa sejarah hanyalah terjadi sekali dan kemudian menghilang. Meskipun ada kalanya terjadi peristiwa serupa pada waktu yang berbeda,keduanya tetap tidak identik. Untunglah ada rekaman masa lalu sehingga kita bisa belajar untuk memperbaiki hidup hari ini dan esok. Himpunan dan akumulasi pengalaman manusia yang berlangsung dan tumbuh dalam sejarah kemudian dinamakan tradisi, termasuk di dalamnya tradisi keagamaan.
Bagi umat Islam,salah satu tiang penyangg atradisi yang paling kukuh adalah pembukuan wahyu Allah dalam Alquran yang mata rantai transmisinya secara historis ilmiah diakui paling solid dan paling autentik ketimbang wahyu yang diterima oleh nabi-nabi sebelumnya. Bahasa, sebagaimana juga agama, memiliki dimensi individual dan sosial meskipun sesungguhnya yang satu mesti mengasumsikan yang lain.
Konsep individual hanya bisa dipahami karena adanya relasi sosial dan sebaliknya konsep social tidak mungkin muncul tanpa adanya konsep individu. Bahasa dalam dimensi dan konteks individu mudah dihayati ketika misalnya kita merenung sendiri ataupun tengah bermunajat sendirian kepada Tuhan. Tapi,meskipun sendiri,kita sebenarnya berbicara terhadap yang lain (the others).
Mulutmu harimaumu, kata orang bijak.Apa yang diucapkan seseorang tidak semata ditangkap sebagai rentetan bunyi, melainkan juga ekspresi diri. Ucapan adalah sebuah jendela bagi orang lain untuk melihat ke dalam,pikiran dan perasaan apa yang tersembunyi di balik ucapan. Atau, ucapan adalah sebuah pintu untuk mengungkapkan keluar jati diri seseorang. Oleh karena itu, jika seseorang tidak bisa dipegang dan dipercaya lagi apa yang diucapkan, terlebih janjinya, maka hancurlah martabat kemanusiaannya. Bagaimana dengan janji-janji politisi?

Ditulis oleh Prof Dr KOmaruddin Hidayat   
Jumat, 30 Maret 2012 08:43

0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
10:14 PM

5/7/12

Trans 7

Trans 7
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
5:13 AM

4/30/12

Pengkambing Hitaman Umat Islam Dalam Kasus Terorisme

Pengkambing Hitaman Umat Islam Dalam Kasus Terorisme

Serangan terorisme yang sering terjadi di dalam maupun di luar negeri, kemudian umat Islam yang dituduh melakukannya, itu sama sekali tidak benar. Karena jika kita perhatikan, tindakan terorisme merupakan kasus request dari pemerintah. Misalnya di Indonesia, kasus terorisme digunakan sebagai pengalihan isu kasus-kasus yang ada kaitannya dengan kebobrokan pemerintah.
Kasus Terorisme terakhir di Indonesia yaitu pada Juli 2009, bom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton. Kasus itu bertepatan dengan kasus Bank Century. Pemerintah berusaha mengalihkan isu dengan “merequest” kasus terorisme, di situ kemudian nama umat muslim tercoreng lagi.
Padahal Islam sama sekali tidak membenarkan kasus kekerasan apalagi terorisme. Yang melakukan memang orang muslim -karena di Indonesia mayoritas muslim- tapi tidak bisa dijadikan patokan bahwa umat Islamlah dalang dibalik semua kasus terorisme. Saya tegaskan kembali bahwa terorisme merupakan kasus request, kasus yang sengaja dibuat oleh pemerintah.
Bisa kita buktikan bahwa di negara ini sudah banyak kasus request-an (Baca-pengalihan isu). Yang terakhir kemarin adalah pengalihan isu kasus korupsi yang dilakukan oleh kader partai penguasa. Pemerintah dengan cerdiknya melemparkan isu kenaikan harga BBM. Agar perhatian masyarakat teralih dari kasus korupsi ke isu kenaikan harga BBM.
Yang ingin saya tekankan, Islam hanya dijadikan kambing hitam dalam setiap kasus terorisme. Islam bukanlah agama kekerasan, Islam adalah agama yang mencintai perdamaian. Namun, Islam selalu dirusak nama baiknya dengan menyangkutpautkannya dengan berbagai kasus, khususnya kasus terorisme.
Bukan hanya di dalam negeri, di luar negeri pun demikian. Seperti kasus terorisme yang paling heboh di dunia yaitu kasus 11 September yang menghancurkan WTC, kasus ini mengakibatkan rusaknya nama Islam. Padahal sampai sekarang belum ada bukti akurat yang bisa mengaitkan Islam dengan kasus tersebut.
Negara barat hanya takut dengan Islam yang berkembang sangat pesat di Eropa dan Amerika. Sehingga mereka kemudian berpikir bagaimana caranya agar bisa merusak citra Islam di dunia, kemudian dibuatlah kasus terorisme. Mereka rela merubuhkan gedung kebanggaannya yang menjadi icon negara adidaya tersebut demi merusak citra Islam, dan itu juga dijadikan alasan agar bisa menginfasi negara-negara Arab yang kaya akan minyak bumi.
Padahal dalam sejarah, Islam tidak pernah melakukan tindak kekerasan. Seperti ketika Rasulullah melakukan penaklukan di kota mekah dan yang dilakukan Salahuddin Al-Ayyubi ketika membebaskan kota Jerussalem.
Rasulullah ketika membebaskan sebagian besar semenanjung Arab dari kekufuran, hanya menelan korban sebanyak 386 jiwa. Jumlah korban tersebut, sangat minimal jika dibandingkan dengan wilayah yang berhasil dibebaskan, dan bisa dikatakan penaklukan paling sedikit yang menelan korban dalam sejarah pertempuran umat manusia.
Selain itu, dalam Alquran juga terdapat banyak ayat yang menentang adanya kekerasan di muka bumi ini, seperti QS. Al Maidah ayat 32 :
“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israel, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya Rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi.”
Ayat ini menerangkan bahwa betapa besarnya dosa orang yang membunuh. Dengan kata lain, Islam sangat menentang adanya pembunuhan di muka bumi ini apalagi terorisme. Jadi mustahil jika umat muslim dikatakan sebagai terorisme. Islam malah sangat memberikan apresiasi bagi orang yang menciptakan kedamaian, seperti ayat di atas yang menjelaskan bahwa barang siapa yang memelihara kehidupan seseorang maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.
Kesimpulannya, secara fakta sejarah dan hukum yang tertulis di dalam Alquran, Islam sangat menjunjung tinggi cinta damai. Islam merupakan ajaran yang menyebarkan rahmat bagi seluruh alam. Seperti dalam Alquran surat Al-Anbiya ayat 107 :
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
2:26 AM

4/21/12

Blogger Kartinian, Keikhlasan Seorang Cleaning Service

Blogger Kartinian, Keikhlasan Seorang Cleaning Service

Saya menemukan seorang kartini di masjid Al-jami’ah, dia sosok ibu separuh baya, umurnya sekitar 45 tahun. Sehari-hari dia sebagai cleaning service di salah satu masjid di Universitas Islam Negeri Jakarta. setip hari dia membersihkan toilet dan tempat wudhu wanita di masjid itu. Saya belum pernah berbicara langsung dengan beliau. Sehari-hari saya hanya melihatnya sepintas dan kadang-kadang memperhatikannya.
Pagi-pagi sekali setiap saya melewati masjid itu, beliau sudah ada di sana bersih-bersih. Kadang saya melihat dia mengelus-elus dadanya karena melihat lantai yang baru dipelnya dilewati oleh mahasiswa yang lalu lalang. Lantai yang sering dia bersihkan memang sudah bukan batas suci tapi masih area masjid, dan lantai itulah yang selalu membuatnya miris karena kadang mahasiswa lewat begitu saja dengan masih memakai sepatu tanpa sadar kalau lantai itu baru saja di pel oleh beliau.
Dia juga sering menyusun sepatu-sepatu mahasiswi, merapikannya. Karena kadang mahasiswi begitu saja melepaskan sepatunya dan masuk ke tempat wudhu tanpa merapikan sepatunya, padahal di situ sudah disediakan tempat sepatu.
Saya salut dengan beliau karena kesabarannya menghadapi mahasiswa yang kadang tidak tau diri, kedisiplinannya setiap pagi membersihkan tempat itu, kesadarannya akan pentingnya kebersihan dan keikhlasannya. Kalau saya perhatikan, dia membersihkan bukan cuma pagi saja, karena kapanpun saya lewat disitu, tempat itu selalu bersih. Padahal bisa dibayangkan berapa ratus mahasiswa yang selalu melewati tempat itu.
Sepertinya, yang dilakukannya bukan cuma cleaning service belaka. Mungkin karena dia membersihkan di masjid, jadi dia merasa ikhlas dengan apa yang dia kerjakan, dan tidak menjadikannya beban. Dia sudah menganggap apa yang dia lakukan setiap hari itu sebagai sebuah ibadah yang bernilai pahala disisi-Nya. Amiiiin..!!
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
9:42 PM

4/15/12

Pesan Ayah


“Ada banyak orang di luar sana yang akan mencederaimu”

Dini hari tadi (15/04) Jakarta di landa gempa, walaupun tidak semua orang merasakan karena gempanya tidak sedahsyat gempa yang terjadi di Aceh beberapa waktu lalu. Gempa berkekuatan 6,0 Skala Richter terjadi disaat semua orang terlelap sekitar pukul 02.26 WIB.

Saya langsung membayangkan bagaimana jika gempa semalam sekuat gempa yang di Aceh atau di Jepang kemudian disusul dengan tsunami. Yang ingin saya tekankan, apakah kita semua sudah siap dengan kejadian seperti ini, karena tidak ada yang bisa menjamin bahwa kita terbebas dari musibah. Apakah kita sudah siap untuk menghadapi hal itu??

Apalagi akhir-akhir ini media sering memberitakan kejahatan, pembunuhan, perampokan, premanisme, kekerasan, semua yang bisa menyebabkan kematian. Perampokan toko emas, kejahatan geng motor, sampai pembunuhan berantai/berencana.

Pesan ayah Lee Lipsenthal, M.D. seorang penulis buku, Nikmati Hidup Setiap Hari Seolah Hari Terakhir Kita. mengatakan bahwa “Ada banyak orang di luar sana yang akan mencederaimu”. Kita tidak tau siapa orang-orang itu, yang kita tau orang-orang itu ada.

Kematian, tidak ada seorang pun di dunia ini yang mengingkarinya. Sejahat/”sekafir” apapun seseorang pasti percaya akan kematian. Semua orang percaya kalau kematian pasti akan dilewati. Tinggal bagaimana kita menghadapinya dengan hati bijaksana.

Elisabeth Kubler-Ross, M.D., dalam buku yang ditulisnya tahun 1969, yang sekarang telah menjadi klasik, On Death and Dying, memaparkan lima tahap emosi yang dihadapi orang menjelang ajal. Tahap-tahap emosi itu adalah penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. fase-fase itu datang berselang, tidak berurutan, dan bersamaan dengan emosi-emosi lain yang terjadi serentak sekaligus saling bertentangan.

Tugas kita, bagaimana membuat setiap hari itu menjadi hari terbaik kita agar jika seandainya hari itu hari terakhir kita, kita tidak menyesal. Amiiin.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
8:11 AM

4/13/12

Harapan Masa Tua

ilustrasi #diperankan oleh model#
Badannya terbungkus pakaian lusuh dibawah terik matahari, dia seorang ibu separuh baya sedang berdiri di salah satu jalan ibukota yang tidak pernah sepi, dengan tangan memelas, diantara ramainya lalu lalang kendaraan. Berharap ada seseorang yang iba melihat penampilannya dan memberikan beberapa receh. Padahal orang tidak tau kalau ketiga anaknya sedang menempuh pendidikan tinggi di luar negeri berkat kerja kerasnya mengemis untuk biaya pendidikan anaknya, dia tidak ingin anaknya seperti dirinya. Berharap suatu saat nanti bisa menikmati masa tuanya dengan bahagia ketika kelak anak-anaknya sudah sukses.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
4:56 AM

4/10/12

Embun Pagi

Ketika Jendela Terbuka

Sinar Matahari Mencubit Manja Kulit Wajahku

Membelai Halus Selembar Nyawaku

Setetes Embun Ku Jilat

Sejuk Merasuk Memberikan Satu Kedamaian

Aku Bermain Di Atas Kuntum Rindu

Yang Besarnya Tak Terkira ...
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
6:44 PM

3/18/12

Agama di Ruang Publik

Agama di Ruang Publik

Banyak ilmuwan sosial Barat tertarik meneliti hubungan agama dan negara di Asia Tenggara.Topik agama di ruang publik tidak habis-habisnya dikaji mengingat modernisasi dan demokrasi model Barat tidak serta merta cocok ketika diterapkan di benua Timur.
Asia Tenggara adalah masyarakat yang memiliki tradisi dan semangat agama kental sehingga meletakkan agama ke dalam wilayah pribadi seperti di Barat pasti sulit diterapkan. Hubungan mayoritas-minoritas pemeluk agama di Filipina, Thailand, dan Indonesia selalu menimbulkan ketegangan politik dan isu pelanggaran hak asasi manusia. Persoalan di atas mengemuka dalam konferensi internasional Religion in Public Spaces in Contemporary South East Asia dalam rangka memperingati 35 tahun persahabatan Pemerintah Kanada dan organisasi ASEAN, yang diselenggarakan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Hotel Sahid, 13–14 Maret 2012.
Filipina mayoritas penduduknya beragama Katolik, lalu Thailand mayoritas beragama Buddha, sementara Indonesia mayoritas Islam. Masing-masing memiliki problem hubungan mayoritas-minoritas, sehingga peran agama dalam wilayah publik selalu melahirkan perdebatan dan konflik antarpemeluk agama yang berbeda. Masyarakat Barat yang Nasrani memiliki tradisi agama dan sejarah yang sangat berbeda dengan dunia Islam.Merasa capai berkonflik antara tokoh gereja di satu pihak dan ilmuwan serta pejuang kebebasan di pihak lain yang berlangsung di Eropa pada abad pertengahan, Benua Amerika menawarkan kehidupan baru bagi pendukung paham liberalisme.
Di benua baru inilah paham liberalisme yang sangat menjunjung tinggi hak-hak individu diimplementasikan di bawah konstitusi negara sekuler dan sistem demokrasi. Di Amerika Serikat (AS) agama dan negara dipisah. Orang hendak beragama atau tidak beragama itu sepenuhnya urusan pribadi. Jika terjadi konflik antarwarga atau antarkomunitas,penyelesaiannya melalui meja pengadilan negara, bukan melalui tokoh dan lembaga agama.
Pengalaman di Barat, lembaga ilmu pengetahuan, industri, dan negara memiliki kepercayaan diri yang tinggi di hadapan tokoh dan lembaga agama dalam mengatur dan memajukan masyarakatnya. Agama sebatas berperan memberi layanan spiritual bagi warga negara yang berminat,tetapi semua itu merupakan hak dan pilihan pribadi. Secara teologis sikap ini memperoleh pembenaran dari Bibel yang membuat pemisahan tegas antara agama dan politik, urusan agama serahkan kepada pendeta,urusan politik serahkan kepada raja.
Doktrin, teori, dan pengalaman AS ini jelas sulit diterapkan di dunia Islam karena umat Islam memiliki ajaran, tradisi, dan pengalaman kolektif yang berbeda. Nabi Muhammad yang dijadikan model kepemimpinan agama, politik, dan sosial oleh umat Islam ketika wafat justru mewariskan kekuasaan politik yang dibangun di atas fondasi ajaran agama. Warisan tradisi ini dijaga dan bahkan dikembangkan lagi oleh khalifah berikutnya yang pada urutannya melahirkan peradaban agung yang diakui dunia.
Jadi, terdapat ingatan kolektif umat Islam yang sangat kuat bahwa agama dan negara itu tidak terpisahkan dan hubungan sinergis antara keduanya pernah melahirkan peradaban besar. Kenyataan ini jelas berbeda dari sejarah kristiani dan perkembangan modernisasi di Barat. Namun sekarang muncul persoalan baru yang mesti dipikirkan dan dipecahkan bersama, bagaimana me-mosisikan agama ketika muncul negara modern berdasarkan paham nasionalisme seperti halnya Indonesia?
Dalam konteks ini sungguh jenius ijtihad politik para pendiri bangsa yang menjembatani keduanya melalui ideologi Pancasila. Secara formal Indonesia adalah negara sekuler, dalam pengertian bukan negara teokrasi, tetapi negara memberikan proteksi dan fasilitas bagi perkembangan agama yang ada. Nilai-nilai dan norma agama boleh memasuki ruang publik, tetapi mesti melalui proses legalisasi terbuka sehingga menjadi bagian dari hukum positif. Maka muncullah produk undang-undang yang diinspirasi oleh nilai agama yang kemudian mengikat bagi warga negara.
Terdapat ruang akomodatif bagi agama untuk memperkaya hukum nasional dan etika publik sepanjang semua kelompok agama bersikap toleran, saling menghargai tradisi agama lain. Hanya saja yang tak kalah pentingnya adalah ketegasan pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada warganya, apa pun agamanya, sehingga etika, spirit, dan norma komunal tidak menggeser dan mengalahkan hukum positif yang telah disepakati.
Tanpa ketegasan pemerintah menegakkan hukum secara adil, keragaman komunitas di Indonesia akan hilang keindahannya, lalu berubah menjadi sumber konflik dan mengancam ketenteraman dan keutuhan berbangsa serta bernegara.

Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat   
Jumat, 16 Maret 2012 09:03

0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
10:07 PM

3/14/12

Sejarah, Definisi, Fungsi, dan Kendala dalam Bahasa Jurnalistik

Sejarah, Definisi, Fungsi, dan Kendala dalam Bahasa Jurnalistik

Sejarah awal lahirnya jurnalistik bermula pada masa Kekaisaran Romawi Kuno ketika Julius Caesar (100-44 SM) berkuasa. Dia memerintahkan agar hasil sidang dan kegiatan para anggota senat setiap hari diumumkan pada papan pengumuman yang disebut “Acta Diurna”. Dari kata “Acta Diurna” inilah secara harfiah kata jurnalistik berasal yakni kata “diurnal” dalam bahasa Latin berarti harian atau setiap hari (Onong U. Effendy, 1996: 24). Sejak saat itu dikenal para diurnarii yang bekerja membuat catatan-catatan hasil rapat dari papan acta diurna itu setiap hari untuk para tuan tanah dan hartawan.
            Kemudian pada abad ke-19 setelah manusia melakukan revolusi industri, manusia menyempurnakan berbagai teknologi untuk membantu kehidupannya. Antara pabrik dangan pertanian pun disambungkan, manusia tidak lagi hanya melakukan komunikasi antarpribadi dan kelompok. Teknologi komunikasi mempertemukan manusia melalui industri telepon, surat kabar, majalah, fotografi, radio, film, televisi, komputer, satelit dan internet. Manusia kini ada dalam abad informasi.
             Berita merupakan salah satu sumber informasi yang dibutuhkan oleh manusia. Dalam penulisannya, berita memerlukan ragam bahasa yaitu bahasa jurnalistik. Kenyataannya, bahasa jurnalistik memberikan tekanan akan pentingnya sifat-sifat sederhana, jelas, dan langsung dalam suatu tulisan berita. Intinya, bahasa jurnalistik itu harus ringkas, mudah dipahami, dan langsung menerangkan apa yang dimaksud.
            Perkembangan bahasa jurnalistik Indonesia dalam empat dekade terakhir sangat pesat. Kepesatannya dapat terlihat jika kita membandingkan bahasa yang dipakai oleh berbagai surat kabar empat puluh tahun yang lalu dengan bahasa yang dipakai surat kabar sekarang. Banyak istilah-istilah yang tadinya masih menggunakan bahasa asing kini sudah ada istilahnya dalam bahasa Indonesia.
            Bahasa jurnalistik sendiri merupakan salah satu variasi Bahasa Indonesia yang jelas kegunaannya bagi masyarakat yang mendengarkan informasi dari radio setiap hari, membaca berita koran, tabloid dan majalah setiap jam, menyaksikan tayangan televisi yang melaporkan berbagai peristiwa yang terjadi di  berbagai belahan bumi. Semua berita dan laporan itu disajikan dalam bahasa yang mudah dipahami oleh khalayak, mereka seolah-olah diajak untuk menyaksikan berbagai peristiwa secara langsung. Dengan demikian bahasa jurnalistik itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam karya jurnalistik.
            Rosihan Anwar, wartawan senior terkemuka menyatakan bahwa bahasa yang digunakan oleh wartawan dinamakan bahasa pers atau bahasa jurnalistik. Bahasa pers ialah bahasa yang memiliki sifat-sifat khas yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas, dan menarik. Bahasa jurnalistik harus didasarkan pada bahasa baku, dia tidak dapat menganggap sepi kaidah-kaidah tata bahasa. Dia juga harus memperhatikan ejaan yang benar. Dalam kosa kata, bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan dalam masyarakat. (Anwar, 1991:1).
            Menurut S. Wojowasito dari IKIP Malang dalam karya latihan wartawan Persatuan Wartawan Indonesia di Jawa Timur (1978), bahasa jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa seperti tertulis dalam harian-harian dan majalah-majalah. Dengan fungsi yang demikian itu bahasa tersebut haruslah jelas dan mudah dibaca oleh mereka dengan ukuran intelek yang minimal, sehingga sebagian besar masyarakat yang melek huruf dapat menikmati isinya. Walaupun demikian, bahasa jurnalistik yang baik haruslah sesuai dengan norma-norma tata bahasa yang antara lain terdiri atas susunan kalimat yang benar dan pilihan kata yang cocok (Anwar, 1991: 1-2). Bahasa jurnalistik merupakan bahasa komunikasi massa yang berfungsi sebagai penyambung lidah masyarakat dan bahasa komunikasi pengantar pemberitaan yang biasa digunakan media cetak dan elektronik. Selain itu, bahasa jurnalistik juga merupakan senjata sekaligus penengah, racun sekaligus obat, penjara sekaligus jalan keluar, dalam wacana berita.
            Bahasa jurnalistik itu hampir selalu jelas, meskipun gaya tulisannya tidak istimewa. Ia mengikuti aturan tentang bahasa yang sederhana, ringkas, dan langsung. Tetapi, sudah terlalu sering terjadi bahasa di koran terasa rutin, dangkal, atau dinodai oleh banyak kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari. Ada beberapa kendala yang menghalangi terciptanya penggunaan bahasa jurnalistik yang baik dalam karya jurnalistik. Ada desakan-desakan hati, tekanan-tekanan atau kekecewaan-kekecewaan yang membuat bahasa jurnalistik menjadi bahasa surat kabar. Kendala-kendala tersebut yang harus diwaspadai oleh setiap wartawan diantaranya menulis di bawah tekanan waktu, kemasabodohan dan kecerobohan, tidak mau mengikuti petunjuk, ikut-ikutan dan merusak arti. Pilihan kata merupakan hal yang penting dalam menulis, terutama dalam menulis berita untuk surat kabar. Harus tepat dalam memilih kata untuk kalimat yang dibuat. Misalnya, “memukul” lain daripada “meninju”. Memukul bisa dengan telapak tangan atau dengan alat pemukul, tetapi meninju hanya dengan tinju, dengan kepalan tangan.


Dirangkum oleh: Ali Rahman Mutajalli
Nim: 1110 0511 00077
Jurusan: Jurnalistik IV/C
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
9:56 AM

3/9/12

The Best Among The Worst

The Best Among The Worst

Kultur politik Indonesia persis tecermin dalam lomba panjat pohon pinang yang amat digemari rakyat tiap memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Di sana tak ada pemenang sejati karena konsep kemenangan hanyalah akibat kejatuhan yang lain, itu pun dengan cara menginjak sesama teman sendiri.
Selama kultur semacam itu masih dipertahankan, selama itu pula prestasi politik bangsa tidak akan pernah meningkat,bahkan menurun. Di sana tersedia batang pinang yang licin dan tidak begitu tinggi ukurannya, tetapi peserta lomba yang terdiri atas beberapa kelompok amat sulit mencapai puncaknya. Berulang kali tiap kelompok berjuang memanjatnya untuk meraih hadiah yang telah digantung di pucuk batang.
Tak ada pemenang yang berhasil tanpa pernah gagal, badan kotor, jatuh, bahkan ada yang terkilir. Sementara itu penonton bertepuk tangan. Dari segi pendidikan mental, permainan itu cukup bagus untuk melatih apa yang disebut adversity quotient(AQ), yaitu daya juang untuk meraih kesuksesan yang memiliki motto: how to make a challenge becomes opportunity. Namun, bila model lomba itu dipraktikkan dalam politik Indonesia, sungguh amat menyayat nurani.
Sepertinya kultur politik di Indonesia sudah macam lomba panjat pinang,yaitu sebuah perebutan dan persaingan antar kelompok partai politik untuk meraih posisi puncak dan tidak pernah menghasilkan pemanjat sejati. Kelompok yang menang semata hanya diuntungkan kelompok lain yang sudah lelah dan jatuh. Mental demikian berbeda dari mental pendaki gunung (climber) yang berjuang menaklukkan puncaknya yang tinggi,tidak sependek pohon pinang.
Tragisnya, dalam lomba panjat pinang, kelompok yang meraih kemenangan adakalanya berebut hadiah. Persis partai-partai pemenang pemilu yang berhasil masuk kabinet lalu berebut departemen yang dikategorikan “basah”. Implikasinya, karier sebagai penguasa dijalani sebagai pengusaha. Karenanya, yang kemudian dipertengkarkan adalah bagaimana membagi BUMN di antara partai politik yang duduk di kabinet.
Konsep demokrasi untuk kesejahteraan rakyat berganti menjadi kleptokrasi untuk memperkaya diri dan partainya. Mungkin sekali mental kita yang selalu ingin mencuri dipengaruhi proses pendidikan yang salah sejak kecil. Menurut teori psikologi kognitif, apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan seseorang merupakan resultante dari berbagai informasi yang diterima yang berlangsung berulang-ulang.
Dengan demikian apa yang sering dilihat dan didengar sejak kecil pada urutannya akan membentuk karakter seseorang. Dalam konteks ini, kita pantas merenung ulang berbagai tradisi yang berperan membentuk karakter bangsa. Tidak saja menggemari lomba panjat pinang, sejak kecil anak-anak sekolah sudah diracuni dongeng "Kancil Mencuri Ketimun." Kancil digambarkan sebagai hewan yang cerdas, lincah, dan licik, amat pintar mencuri dan menipu, dan selalu lihai berkelit dari hukuman.
Karena itu, di mata anak-anak, kancil merupakan sosok menarik dan dikagumi. Proses sosialisasi dan internalisasi nilai “kancil” ini pada urutannya membentuk persepsi bahwa mencuri itu seni dan kepintaran yang merupakan keunggulan seseorang. Kalau analisis psikologis itu benar, wajar bila para pemimpin bangsa ini banyak yang senang mencuri,bahkan merasa bangga jika berhasil dan pandai berkelit seperti kancil dalam cerita itu.
Karena itu, perlu dipertimbangkan untuk mengubur dongeng bagi kanak-kanak “Kancil sang Pencuri” yang dulu kira-kira dimaksudkan untuk membangkitkan keberanian dan kecerdikan kaum pribumi (yang lemah, kecil) melawan penjajah (yang jauh lebih kuat, berkuasa). Kebusukan politik sudah begitu akut sehingga perilaku politisi kita tak ubahnya seperti kepiting. Apa yang khas dari kepiting?
Jika Anda berhasil menangkap banyak kepiting lalu ditaruh di dalam panci atau keranjang, tak usah khawatir kepiting akan pergi meski tidak ditutup. Jika ada kepiting dalam keranjang yang hendak keluar memisahkan diri, kepiting lain akan menyeret dan menahannya dari belakang. Perilaku saling menyandera dan menjegal juga terlihat dalam panggung politik kita. Jadi “politisi kepiting” akan bersemboyan “kalau korupsi partaiku terbongkar, maka korupsi yang dilakukan partai lain juga harus terbongkar”.
Tentu saja saya tidak sampai hati dan tidak punya bukti administratif untuk mengatakan, teman-teman saya bagai “politisi kepiting” yang solider dalam hal korupsi.Atau menyebut mereka bagai kancil yang cerdik, tetapi suka mencuri. Tidak juga tega memberi predikat politisi kita sebagai rombongan pemanjat pohon pinang yang memperoleh kemenangan setelah diri dan kawannya babak belur dan seluruh badan kotor.Tapi rasanya tidak berlebihan, siapa pun yang menang dalam persaingan politik saat ini bukan karena pada dasarnya mereka baik secara otentik, tetapi karena yang lain jauh lebih buruk.The best among the worst.

Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat   
Jumat, 09 Maret 2012 08:36

0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
8:49 PM

3/5/12

Leadership dan Followership

Leadership dan Followership

Rakyat yang cerdas akan memilih pemimpin yang cerdas. Pemimpin yang cerdas akan membuat rakyatnya ikut cerdas. Jadi, terdapat hubungan kausalitas timbal-balik antara kualitas seorang pemimpin (leader) dan pengikutnya (follower).
Jadi, kalau ada seorang pemimpin dinilai tidak bagus, itu menunjukkan kualitas rakyat yang memilihnya juga tidak bagus. Kalau ada seorang pemimpin memenangi pertarungan karena kekuatan uang, artinya rakyatnya juga bermental mata duitan. Ustaz di kampung saya sering membuat analog hubungan antara pemimpin dan pengikut dengan sembahyang berjamaah. Di situ ada pemimpin (imam) dan ada pengikut (makmum) yang berdiri di belakangnya.
Menurut norma yang berlaku, siapa pun yang menjadi imam diutamakan yang paling baik akhlaknya, paling luas ilmunya, paling senior umurnya, paling baik bacaannya. Setelah imam terpilih, makmum harus taat mengikuti aturan yang berlaku agar prosesi salat jamaah berlangsung baik dan khusyuk.Tentu salat jamaah akan rusak suasananya kalau imamnya tidak benar bacaan dan jumlah rakaatnya atau makmumnya membuat kegaduhan.
Kualitas salat berjamaah ditentukan oleh imamnya dan makmumnya. Ketika makmum mendapati imamnya salah, makmum yang terdekat wajib memperingatkan. Jika masih juga salah berulang kali, padahal telah diperingatkan, ada dua pilihan. Makmum memisahkan diri lalu membuat jamaah sendiri atau imamnya yang menyatakan mundur, lalu makmum yang terdekat menggantikannya maju ke depan tanpa membatalkan salat jamaahnya.
Begitulah hubungan leadership dan followership dalam salat berjamaah, semuanya berlangsung damai tanpa keributan atau huru-hara. Tentu saja dalam panggung politik, variabelnya lebih banyak dan kompleks. Hubungan antara pemimpin dan pengikut terdekatnya saling memengaruhi. Bisa jadi ada seorang pemimpin yang kurang bagus, tetapi rakyatnya bagus sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara berlangsung baik-baik saja.
Atau sebaliknya, berkat pemimpinnya yang hebat dan bagus, rakyat yang semula brengsek tidak taat aturan berubah jadi bagus. Menurut cerita, Singapura berubah begitu tertib berkat kepemimpinan Lee Kuan Yew yang cerdas, berkarakter, dan tegas sehingga perilaku rakyatnya berubah drastis. Dengan pelaksanaan otonomi daerah, sesungguhnya kita memiliki peluang dan tantangan untuk membangun sinergi hubungan yang kreatif, konstruktif, dan produktif antara leadership dan followership untuk memajukan daerah.
Yang repot adalah ketika ruang demokrasi dibuka, rakyat bebas memilih pemimpinnya, tetapi kualitas rakyatnya rendah sehingga pemimpin yang tampil juga kurang bermutu. Akibatnya implementasi dan hasil demokrasi bukannya mendongkrak kesejahteraan dan kemajuan daerah, tetapi malah ramai-ramai menurunkan indeks pembangunan daerah. Pemimpin dan rakyatnya samasama mata duitan, sementara kinerjanya di bawah standar.
Bagaimana dengan kepemimpinan tingkat nasional? Hubungan leadership dan followership yang paling mudah diamati adalah pada lapisan terdekat presiden, yaitu jajaran menteri dan pembantu-pembantunya di lingkaran istana. Komunikasi seorang presiden dengan lingkaran terdekatnya tidak terbatas melalui bahasa verbal, tak kalah pentingnya adalah gestur.
Bagaimana suasana batin dan emosi seorang presiden menjadi bacaan yang lebih penting ketimbang apa yang diucapkan. Lebih dari itu,pembicaraan di luar acara resmi juga menjadi referensi penting bagi orang-orang terdekatnya. Sebaliknya, kepribadian dan mentalitas para follower di seputar presiden akan berpengaruh besar pada hasil kinerja sang leader.
Sepandai-pandai seorang presiden, jika jajaran terdekatnya tidak cepat, tangkas, terampil, dan berani menerjemahkan gagasannya dalam kebijakan dan tindakan, kepemimpinannya tidak akan banyak membawa perubahan dan perbaikan dalam kehidupan bernegara dan masyarakat. Jadi, hubungan leadership dan followership antara presiden dan rakyatnya sesungguhnya akan sangat ditentukan oleh kualitas hubungan pada lingkaran yang lebih kecil, yaitu leadership danfollowership antara presiden dan orang-orang terdekatnya di seputar istana dan dengan jajaran para menterinya.
Meminjam ungkapan Pak Jusuf Kalla, memimpin Indonesia yang demikian besar penduduknya dan luas wilayahnya sesungguhnya tak lebih dari mengatur sekitar 500 orang saja. Pegang dan jalin komunikasi yang baik dengan tokoh-tokoh kunci di Republik ini, maka rakyat yang jumlahnya puluhan atau ratusan juta itu akan ikut di belakangnya.

Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat   
Jumat, 02 Maret 2012 08:22

0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
6:29 AM
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Comments (Atom)
Find Us :

Entri Populer

  • Kode Etik Jurnalistik
    Kode etik jurnalistik sangat penting bagi wartawan untuk mengatur etika-etika sang wartawan dan menentukan yang mana harus dilakukan dan ya...
  • TV ONLINE
    blog free download
  • Embun Pagi
    Ketika Jendela Terbuka Sinar Matahari Mencubit Manja Kulit Wajahku Membelai Halus Selembar Nyawaku Setetes Embun Ku Jilat Sejuk Mera...
  • PUTRA NABABAN SANG JURNALIS BERPRESTASI
    Putra Nababan mengawali karirnya di Koran Merdeka yang berubah nama menjadi Rakyat Merdeka, kemudian pindah ke Metro tv dan ke RCTI. Pria ...

Arsip Blog

  • ►  2013 (1)
    • ►  June (1)
  • ▼  2012 (27)
    • ▼  November (1)
      • Membincang Imam
    • ►  May (7)
      • Beragam Persepsi tentang Indonesia
      • Berhalakan (Simbol) Agama?
      • Tiga Pilar Kebahagiaan
      • Sopir Taksi yang Tercerahkan
      • The Magic of Gratitude
      • Language is Our House of Being
      • Trans 7
    • ►  April (5)
      • Pengkambing Hitaman Umat Islam Dalam Kasus Terorisme
      • Blogger Kartinian, Keikhlasan Seorang Cleaning Ser...
      • Pesan Ayah
      • Harapan Masa Tua
      • Embun Pagi
    • ►  March (5)
      • Agama di Ruang Publik
      • Sejarah, Definisi, Fungsi, dan Kendala dalam Bahas...
      • The Best Among The Worst
      • Leadership dan Followership
    • ►  February (2)
    • ►  January (7)
  • ►  2011 (74)
    • ►  December (9)
    • ►  November (3)
    • ►  October (6)
    • ►  September (8)
    • ►  August (11)
    • ►  July (8)
    • ►  June (6)
    • ►  May (9)
    • ►  April (7)
    • ►  March (5)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2010 (27)
    • ►  December (10)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (3)
    • ►  August (10)

Pages

  • BERANDA
  • RADIO STREAMING
  • TV ONLINE
  • VIDEO
  • PICTURE

Pages

  • Home
ar_mutajalli. Powered by Blogger.
Copyright 2013 Blog Keywords - All Rights Reserved
Design by Mas Sugeng - Published by Evo Templates