Blog Keywords

Keyword for Writing

  • Home
  • About
  • Template
  • Design
  • Blogger
  • Tips Tricks
Home » Archive for December 2011

12/31/11

banner


0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
11:02 AM

12/28/11

Garis Batas

Garis Batas

Setiap pribadi ingin mendekat, melebur, dan saling menyapa dengan yang lain.Tapi setiap pribadi juga selalu membuat batas dan sewaktu-waktu menarik diri masuk ke zona nyaman yang dibawa ke mana-mana untuk mengambil jarak dari yang lain.
Jarak, identitas, dan garis batas tak pernah lepas dari seseorang. Garis batas itu ada yang tampak dan ada yang abstrak. Garis batas itu bisa jadi jendela dan jembatan penghubung, tetapi bisa juga jadi sumber konflik. Begitu beragam dan berlapis- lapis garis batas itu seperti diilustrasikan oleh Agustinus Wibowo setelah menjelajahi lima negara pecahan Uni Soviet, yaitu Tajikistan, Kirgistan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan, sebuah petualangan yang berani, cerdas, dan nekat (Garis Batas, Gramedia, 2011).
Setiap individu membuat kurungan sebagai garis batas entah agama,etnik, profesi, jenis kelamin, dan sekian garis batas lain. Himpunan kurungan dan garis batas itu dibatasi dan dikurung lagi oleh batasan yang lebih luas,yaitu wilayah negara yang bisa jadi malah membuat pengap, memasung, memenjarakan, tetapi juga mungkin melindungi sebuah zona nyaman.
Demikianlah, penghuni planet bumi kian bertambah. Mereka hidup dalam kavlingkavling bangsa,negara,agama, dan sekian banyak lagi kavling dengan garis batasnya yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Perjumpaan dan persaingan lintas penghuni garis batas semakin intens.Tak ketinggalan persaingan mata uang untuk merebut serta menguasai pasar dan sumber daya alam di wilayah orang lain.
Mata uang seperti dolar Amerika Serikat (AS) begitu lincah dan leluasanya ibarat segerombolan belalang beterbangan mencari mangsa menjarah padi yang hendak dipanen. Begitu padi habis,gerombolan dolar itu akan terbang mencari mangsa di negara lain. Seseorang pun semakin memiliki banyak identitas dan afiliasi yang kadang saling bertabrakan.
Ada orang yang memiliki identitas dan garis batas sebagai polisi, jaksa, hakim, anggota DPR atau tokoh agama, tetapi ternyata melekat dalam dirinya identitas tersangka koruptor. Ada orang-orang yang labelnya wakil rakyat, tapi perilakunya menyengsarakan rakyat.Ada orang yang dikenal sebagai penyanyi,lalu sekarang memiliki label sebagai politisi.
Ada lagi politisi yang ingin dikenal sebagai pencipta lagu. Garis batas itu bukan sekadar identitas dan afiliasi sosial. Tapi ada yang berfungsi sebagai tembok penjaga nilainilai tradisional yang menjadi konsumsi dan amunisi warga komunitasnya dalam menghadapi pahit-getirnya kehidupan. Bahkan demi menjaga garis batasnya,seseorang siap hidup menderita dan bahkan mengurbankan nyawanya.
Agustinus Wibowo memaparkan secara detail, indah, dan pahit bagaimana sungai Amu Darya yang lebarnya 100 meter bisa membatasi dan memisahkan penduduk Afghanistan dan Tajikistan menjadi dunia yang sangat berbeda. Negara-negara bekas mesin penyangga Uni Soviet itu menjadi serpihan-serpihan dengan garis batasnya yang absurd, tetapi secara tajam memisahkan dari yang lain.
Ibarat sekrup-sekrup kecil yang sudah aus dan sekarang terlempar dari mesin raksasa bernama Uni Soviet. Membaca buku ini menjadi tersadar, begitu banyak wilayah di muka bumi yang seakan tidak masuk dalam peta dunia, tetapi memiliki keunikan alam, tradisi, dan mimpi serta keluh kesah warganya yang kita tidak pernah membayangkannya.
Tidak usah jauh-jauh, pikiran dan imajinasi saya pun melayang ke daerah-daerah garis batas Indonesia yang memisahkannya dari negara tetangga, baik berupa garis tanah, laut, mata uang, KTP maupun bendera. Di garis batas inilah nasionalisme akan teruji. Di garis batas inilah wajah dan harga diri serta kehormatan warga negara muncul ke permukaan.
Di garis batas Kalimantan yang memisahkan Indonesia dan Malaysia,warga Indonesia menyaksikan tingkat ekonomi dan pendidikan tetangganya jauh lebih baik, padahal mereka berbahasa yang sama, tinggal di daratan yang sama,tetapi KTP dan benderanya berbeda. Mata uangnya pun saling beradu dan berkompetisi.
Pada garis batas udara antara Indonesia dan Singapura,pesawat kita kalah bersaing,lalu pesawat tetangga dengan leluasa menikmati luasnya angkasa kita.Harga diri bertemu dan beradu di setiap garis batas. Pengetahuan kita pun mengenal garis batas.Wilayah di belakang garis batas masih jauh lebih banyak yang kita tidak tahu.
Di belakang garis batas pengetahuan itu kita sembunyi, merasa berada di zona nyaman justru karena keterbatasan dan kebodohan kita. Karena hanya sedikit pengetahuan itulah hidup menjadi merasa lebih aman, tidak terlalu banyak yang mesti dibahas, diingat, dan diketahui. Namun di situ juga muncul jebakan, lalu menjadi sombong, sok tahu, sebagai kompensasi karena kebodohannya.
Ketika kita membangun rumah yang besar,pasti kita membuat garis batas berupa pagar halaman yang menjadi pemisah dari pekarangan tetangga. Di dalam bangunan rumah itu pun dibuat lagi garis-garis batas berupa kamar-kamar agar yang tinggal merasa aman dan nyaman. Garis batas yang penuh misteri adalah kematian, kita tidak tahu apa yang ada dan terjadi di seberangnya.

Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat   
Jumat, 28 Oktober 2011 09:41

0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
10:42 PM

Pornografi di Medan Perang

Pornografi di Medan Perang

Beredarnya film dan gambar porno di medan perang, itu cerita klasik. Akan tetapi, cerita ini menjadi menarik ketika diungkapkan kembali oleh Mahmud Farazandeh, Dubes Iran di Jakarta, dalam kunjungannya ke UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pekan ini.
Untuk ke sekian kalinya, Dubes Iran berkunjung ke UIN Jakarta dan selalu saja berbagi cerita unik-unik. Saya tanyakan padanya, mengapa tentara Iran sangat militan dalam berperang dan mengapa pemerintah Iran sangat anti-Amerika Serikat? Jawaban Farazandeh membuat saya terhenyak. Tentara Iran dan penganut Syiah pada umumnya, kalau terjun ke medan perang mesti membawa Alquran. Kalau malam hari mereka salat tahajud, salat sunat malam hari, dan selalu membaca Alquran. Bahkan pagi hari sebelum ke medan perang,mereka tidak lupa salat dan membaca Alquran terlebih dahulu sebelum menghadapi musuh.
Bagi kami, tak ada kata kalah dalam berperang. Kalau tidak menang di dunia, kami pasti akan menang di akhirat sebagai syuhada,tegasnya. Farazandeh melanjutkan,semangat kesyahidan (martyrdom) ini pasti tidak dimiliki tentara Barat. Mereka kalau malam hari membaca majalah atau menonton film porno. Mereka membayangkan gaji besar dan dana pensiun tinggi setelah selesai perang. Mereka berperang demi uang. Maka itu, mental mereka lembek dibandingkan prajurit Iran.
Kekuatan kami bukan karena memiliki nuklir, melainkan karena kami punya iman dan keberanian untuk melawan Barat yang menjadikan dunia Islam sebagai mainan. Kekayaan alamnya dijarah. Lalu kalau terjadi konflik senjata, mereka menawarkan jasa bantuan sambil menghabiskan stok senjata yang sudah lama ditimbun. Namun setelah perang selesai, mereka minta ganti rugi, berapa senjata yang sudah digunakan. Dari sekian tamu diplomat yang berkunjung ke UIN, sikap diplomat Iran memang konsisten dan jelas. Mereka bersikap konfrontatif terhadap AS, yang mereka nilai menggunakan standar ganda terhadap dunia Islam.
Tak ada bantuan yang gratis, bahkan mengambilnya lebih banyak dari apa yang mereka berikan.Tanpa iman yang kuat dan ilmu pengetahuan yang seimbang, dunia Arab jangan harap bisa mengalahkan Barat, tandasnya. Dengan jumlah penduduk di bawah Indonesia,dunia Arab dipimpin lebih dari 20 kepala negara Kesamaan agama, bahasa, dan daratan ternyata tidak menjamin mereka bisa bergabung dalam satu pemerintahan. Mungkin saja faktor ini ikut menjadi penyebab betapa sulitnya mereka mengalahkan negara Israel yang kecil.
Adalah Iran dan Turki yang disegani Israel, karena kedua negara ini memiliki militer dan persenjataan yang kuat. Dari pergaulan bersama diplomat asing, perhatian mereka cukup besar terhadap pengalaman Indonesia sebagai masyarakat muslim, namun memiliki antusiasme dan tekad mengembangkan demokrasi. Indonesia bagaikan sebuah laboratorium politik baru dalam wacana negara modern yang mendahului negara-negara di Timur Tengah, kecuali pengalaman Turki yang mirip Indonesia.Turki adalah bangsa dan negara non-Arab dengan penduduk mayoritas muslim, yang sejak awal menerapkan demokrasi sekuler, namun dibayang-bayangi oleh militer.
Mirip Indonesia, baru belakangan ini saja posisi militer tergeser oleh kekuatan sipil. Perhatian diplomat asing untuk memahami hubungan dinamika politik dan agama di Indonesia cukup tinggi.Mereka menawarkan kerja sama seminar dan riset. Mereka sering mengundang makan malam bersama para aktivis LSM dan intelektual kampus untuk tukar pandangan seputar dinamika politik Indonesia. Ada lagi yang mengundang saya untuk bincang-bincang tentang Islam dan politik, namun di lapangan golf agar lebih santai dan sekalian olahraga.
Tentang golf ini, saya baru tahu jika Dubes Jepang bermain golf, dia berarti mengajukan cuti kantor setengah hari, sorenya baru masuk kantor. Kembali ke judul tulisan,hubungan perang dan pornografi tampaknya bukan berita baru. Mereka yang berada di medan perang, pasti mentalnya stres lantaran banyak faktor. Jauh dari keluarga, jiwanya terancam, istirahat tidak teratur, kondisi medan berat, bayang-bayang kematian begitu dekat,dan sebagainya.
Oleh karena itu, di mana terjadi pertempuran, muncul kebutuhan prajurit untuk melepaskan dan melampiaskan beban mentalnya, salah satunya menonton film porno dan minum sampai mabuk. Bahkan, dulu pernah populer istilah Vietnam Rose, penyakit kelamin yang muncul ketika terjadi peperangan antara Amerika dan Vietnam. Dulu ketika Jepang menjajah Indonesia, juga terjadi hal serupa. Banyak wanita muda cantik dijadikan objek pelampiasan berahi para prajurit.

Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat   
Jumat, 11 November 2011 10:00

0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
10:40 PM

Metamorfosis Beragama

Metamorfosis Beragama

Pemahaman,pengalaman, dan keyakinan beragama itu mengalami perubahan, pertumbuhan, dan bisa juga degradasi. Ini bisa terjadi pada pribadi, keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Dalam masyarakat yang kian majemuk dan konsumtif, agama mestinya menjadi tuntutan hidup yang konstruktif, bukan larut dan menjadi sumber persoalan sosial. Waktu itu umur saya sekitar enam tahun, tinggal di Desa Pabelan, dekat Candi Borobudur, Magelang. Selagi bermain-main dengan teman,saya dikagetkan suara teriakan beberapa pemuda: “Anjing... anjing....” sambil membawa tongkat untuk membunuh anjing yang masuk desa Maka orang-orang desa itu pun keluar ikut membawa tongkat, dan akhirnya anjing itu tertangkap lalu digebuk rama-iramai sampai mati.
Saya melihat dengan iba pada anjing yang tak berdaya itu. Rintihan tangis anjing sebelum mati itu tetap tersimpan di benak saya yang sekali-sekali muncul. Sore hari menjelang Magrib, para pemuda yang ikut membunuh anjing itu menceritakan ulang di serambi masjid dengan rasa bangga. Logika yang saya tangkap, anjing itu najis, tidak boleh disentuh, karena akan membatalkan salat dan mengotori halaman rumah.
Karena najis, anjing mesti dibunuh. Dengan membunuhnya, berarti telah menjaga kesucian agama dan itu berarti berjuang di jalan Tuhan. Saya tidak tahu dari mana awal mula muncul paham bahwa membunuh anjing itu berarti membela agama Allah. Namun, setelah belajar di pesantren, saya baru tahu, anjing itu hewan yang mulia, bahkan Alquran menceritakan tujuh pemuda yang tinggal di Gua Kahfi itu ditemani anjing.
Nabi Muhammad SAW pun memuji anjing yang memiliki sifat setia dan pintar diajak berburu hewan di hutan. Jika kita mencaci anjing atau babi yang tak berdosa, jangan-jangan Penciptanya juga akan marah. Cerita di atas hanyalah salah satu bagian saja dari metamorfosis pemahaman dan pengalaman keberagamaan yang sangat mungkin para pembaca juga memiliki pengalaman serupa.
Dengan bertambahnya usia dan bertemu beragam guru, saya semakin sadar dan sekaligus kadang dibuat bingung oleh kenyataan, bumi ini dihuni oleh manusia dengan ragam agama, dan di dalam satu agama pun terdapat beragam mazhab. Jadi,pemahaman dan sikap keberagamaan itu mengalami metamorfosis, dipengaruhi banyak faktor. Antara lain, buku yang dibaca, guru yang membimbing, perkembangan usia dan pergaulan, pengalaman hidup, jenjang pendidikan, kondisi ekonomi, mazhab yang diikuti, karakter seseorang, kondisi geografis, dan sistem politik pemerintahan, di mana seseorang tinggal.

Semakin Plural
Ketika seseorang lahir dan tumbuh dalam sebuah komunitas homogen dari segi bahasa, agama,dan adat,istilah dan konsep kemajemukan agama itu tidak populer. Namun, ketika penduduk Indonesia dan dunia kian bertambah, perjumpaan lintas pemeluk agama yang berbeda semakin intens,masyarakat tidak bisa lagi mengelak untuk menerima kenyataan, perbedaan mazhab dan agama itu suatu keniscayaan sosial.
Universitas di kota besar khususnya merupakan miniatur masyarakat Indonesia yang pada dasarnya sudah plural dan kini semakin plural.Kenyataan ini bisa memperkaya wawasan beragama, namun bisa juga membuat bingung. Di sini mulai terjadi konflik antara etika komunal dan etika publik, antara ideologi agama dan ideologi negara. Semakin lemah etika publik dan ideologi negara, semakin menguat etika komunal dan ideologi keagamaan.
Gejala ini cukup fenomenal dengan munculnya beragam partai dan ormas keagamaan yang dijadikan kendaraan mobilitas politik dan senjata tawar-menawar dalam penyusunan kabinet. Kalau saja etika publik dan etika bernegara sudah kokoh, kemunculan kelompok-kelompok keagamaan merupakan kekayaandan warna-warni demokrasi.
Tetapi jika negara lemah, kemajemukan komunitas agama, etnis, dan parpol justru akan merongrong bangunan demokrasi dan kemajemukan bukan lagi sebuah mozaik yang indah, melainkan menjadi hirukpikuk dan kekacauan. Proses perubahansosial, ekonomi, dan politik yang berlangsung begitu cepat yang tidak disertai kemajuan pendidikan dan kesejahteraan yang seimbang telah membuat identitas agama menjadi rumah-rumah kecil yang kian eksklusif di tengah rumah Indonesia yang semakin samar-samar sosoknya.
Negara digugat karena tidak memberi rasa aman tenteram bagi warganya. Sosok negara semakin abstrak, yang terlihat dan terasakan adalah hirukpikuk ormas dan parpol yang ramai-ramai mencari dukungan massa rakyat sebagai penyangga dan barter untuk merebut kekuasaan politik dan materi yang melekat pada negara. Negara tak ubahnya sumber tambang berupa uang tunai melalui APBN, bukan lagi bahan mentahseperti di Papua.
Jangan sampai parpol itu nantinya dianalogikan dengan perusahaan tambang. Komunitas keagamaan ini akan selalu mengemuka dalam berbagai format institusi dan gerakan mengingat agama telah menyatu dengan karakter masyarakat Nusantara yang bahkan sekarang semakin menguat karena memperoleh amunisi dan stimulasi dari para politisi untuk dijadikan penyangganya.
Tidak hanya di Indonesia, pada tingkat global pun semarak dan konflik antarkomunitas agama semakin intens. Terjadinya migrasi antarwarga negara sangat berpengaruh terhadap konflik bernuansa etnis dan agama, khususnya di Eropa. Lemahnya negara dalam memberantas korupsi dan dalam menciptakan pemerataan lapangan kerja serta kesejahteraan bagi warga negara akan membuka peluang lebih besar bagi munculnya konflik horizontal dengan dalih etnis dan agama.
Bagi pemerintah daerah yang gigih dan bangga menerapkan perda syariah (Islam) harus lapang dada menerima jika ada beberapa daerah lain yang juga ingin menerapkan perda syariah berdasarkan keyakinan dan ajaran di luar Islam. Perlu diingat, tidak semua kepala daerah adalah Muslim. Dan di mata hukum, semua warga negara, apa pun etnis dan agamanya, memiliki hak dan kedudukan yang sama.
Bayangkan saja, andaikan sentimen agama dan etnis ini semakin menguat dan menjurus ke konflik, sangat mungkin tragedi Balkanisasi akan juga terjadi di Indonesia. Alam Indonesia yang indah ini akan berubah jadi medan perang atas nama Tuhan. Jadi, pemahaman agama – terutama dalam konteks sosial dan bernegara – itu tumbuh mengalami perkembangan dan penyesuaian dengan kondisi objektif setempat. Umat Islam yang tinggal di AS, Eropa, Timur Tengah, dan Indonesia pasti berbeda dalam mengembangkan etika komunal dan etika publik, meski kitab suci dan ritual pokoknya tetap sama.

Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat   
Jumat, 25 November 2011 09:02

0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
10:36 PM

Kembalikan Martabat Politik

Kembalikan Martabat Politik

Politik berada di puncak semua ilmu, karena peran utama politik adalah menyelenggarakan kehidupan bernegara dengan tujuan untuk menciptakan kehidupan yang baik bagi individu dan masyarakat.
Semua ilmu, oleh karenanya, melayani kepentingan politik dengan tujuannya yang begitu mulia (Aristoteles dalam Nichomachean Ethics). Karena politik, baik sebagai ilmu maupun praksis,memikirkan dan mengurusi nasib kehidupan warga negara, jabatan politik dalam sebuah birokrasi negara sangatlah mulia. Seseorang yang memiliki legalitas dan otoritas kekuasaan terbuka lebar peluangnya untuk berbuat kebajikan membantu rakyat agar memiliki kehidupan yang lebih baik.
Karena itu, mereka yang tertarik dan berambisi terjun ke dunia politik sebaiknya digerakkan oleh dorongan cinta dan cita-cita mulia untuk membahagiakan sesama.Bukankah kualitas dan kebahagiaan hidup seseorang terletak dalam memberi dan menolong, bukan dalam posisi menerima dan mengambil? Terlebih lagi tindakan korupsi, mengambil yang bukan haknya, sesungguhnya seseorang tengah merendahkan martabat dirinya dan merusak etika dan sistem politik yang pada dasarnya mulia dan terhormat. Dalam sejarahnya, realitas panggung politik berjalan tidak seindah dan semulia yang dibayangkan Aristoteles.
Orang berebut jabatan politik bukan didorong untuk berbakti pada negara dan bangsa, melainkan untuk memenuhi tuntutan egonya mendapatkan self-glory. Beruntunglah panggung sejarah pernah mencatat tampilnya sosok-sosok nabi yang mendermakan seluruh hidupnya untuk membangun peradaban dan membawa pencerahan bagi zamannya. Sosok para nabi itu mewariskan ajaran moral yang fundamental dan kokoh yang menghunjam dalam hati terdalam para pengikutnya yang kemudian diwariskan dari generasi ke generasi sebagai sumber pencerahan dan rujukan moralitas agung.
Sepak terjang para nabi menjadi acuan moral-historis ketika kita hendak berbicara tentang politik yang bermartabat. Sistem pemerintahan bisa saja berubah-ubah. Namun, nilai-nilai moral yang fundamental berlaku sepanjang zaman.Seperti nilai kejujuran, keadilan, kasih sayang, kerja keras, saling menghormati, kesemuanya itu tak lekang oleh zaman dan perubahan sistem pemerintahan. Setiap orang yang beriman yakin sekali,apa pun yang dilakukan akan dituntut pertanggungjawaban di hadapan Tuhan.
Karena nilainilai tersebut universal dan fundamental, pemerintahan yang mengabaikannya akan selalu jadi sasaran kritik nalar sehat dan hati nurani serta akan terkena hukum besi sejarah. Panggung dan kultur politik Indonesia saat ini benar-benar dalam proses degradasi dan devaluasi. Mimpi dan cita-cita mulia para pejuang kemerdekaan telah dikhianati.Yang bermunculan bukan negarawan yang mengemban cita-cita kemerdekaan dan semangat mewujudkan Indonesia yang cerdas, adil, dan sejahtera, melainkan banyak politisi instan dengan kendaraan parpol yang tidak jelas ideologinya.
Tak jelas distingsi dan diferensiasinya antara yang satu dan yang lain. Banyak politisi yang tidak memiliki akar ke masyarakat, tidak pula menunjukkan prestasi dan sikap negarawan dalam percaturan bernegara. Dalam situasi krisis negarawan dan tokoh yang menjadi panutan masyarakat,uang yang kemudian tampil secara agresif membajak proses demokrasi dan politik. Dalam pilkada dan pemilu peran uang melebihi kekuatan moral dan gagasan.
Mimpi-mimpi besar para pejuang kemerdekaan akan hadirnya bangsa dan negara Indonesia yang bermartabat dan berdaulat dibajak oleh kapitalis lokal, nasional, dan global yang hanya memburu keuntungan materi dengan mengorbankan semangat solidaritas dan idealisme berbangsa serta menghancurkan lingkungan alam. Alih-alih terjadi kontestasi gagasan besar, seperti pernah ditunjukkan oleh politisi-negarawan kita di awal kemerdekaan, yang menonjol sekarang adalah baliho dan iklan di televisi yang menonjolkan foto politisi dan simbol parpol dengan kekuatan uangnya untuk bertanding memperebutkan jabatan.
Dari manakah uang itu? Sebuah koran Ibu Kota melaporkan, putaran uang parpol mencapai Rp300 triliun selama 2007-2010 yang diambil dari APBN yang masuk dalam alokasi hibah dan bantuan sosial. Ini jelas sebuah korupsi kebijakan dan uang yang sangat parah. Saking parahnya, melihat korupsi yang sudah akut, sampai-sampai Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi, mengusulkan dibuat semacam ”Kebun Koruptor” agar masyarakat bisa melihat wajahwajah koruptor sebagaimana mereka berkunjung ke kebun binatang.
Tentu saja yang dimaksud bukan mengumpulkan koruptor dalam sebuah kandang raksasa, melainkan wajah para koruptor sebaiknya ditayangkan dan dipublikasikan secara terbuka kepada rakyat agar mendatangkan efek jera, mengingat selama ini kesannya justru dimanjakan. Mereka mesti dipermalukan dan dimiskinkan. Jika citra dan perilaku politisi tidak lagi memperoleh simpati dan kepercayaan rakyat, jangan heran jika sarjana dan putra-putra terbaik bangsa justru antipolitik.
Ini sungguh sebuah tragedi demokrasi dan tragedi sejarah bangsa karena yang akan mengurus negara adalah mereka yang niat utamanya untuk mencari kehidupan dari politik, bukan menghidupi politik.

Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat   
Jumat, 02 Desember 2011 09:15

0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
10:35 PM

Revolusi Sepeda Motor

Revolusi Sepeda Motor

Istilah “revolusi sepeda motor” saya kutip dari Dahlan Iskan, Menteri BUMN, ketika tampil sebagai pembicara dalam seminar yang diselenggarakan UIN Jakarta, pekan lalu, di Hotel Nikko dengan tema Prospek dan Peluang Indonesia 2012.
Mari kita amati sekilas saja betapa pengguna sepeda motor setiap waktu senantiasa bertambah. Diperkirakan setiap tahun terjual 9 juta sepeda motor. Sebuah angka yang sangat signifikan untuk meramaikan jalan raya dan kegiatan ekonomi masyarakat. Untuk warga Jakarta saja diperkirakan terdapat 7 juta sepeda motor. Rata-rata satu keluarga memiliki tiga sepeda motor. Apa artinya semua ini?
Banyak sudut pandang untuk melihat fenomena ini. Pertama, revolusi sepeda motor menunjukkan kegagalan sistem transportasi massal, terutama bus dan kereta api, sehingga sepeda motor dianggap sebagai alternatif paling praktis mengatasi kemacetan lalu lintas kota besar semacam Jakarta. Kedua, harga sepeda motor terjangkau masyarakat bawah meski dengan jalan mencicil. Mereka merasa lebih praktis dengan sepeda motor ketimbang angkutan kota untuk pergi ke tempat kerja.
Ketiga, sepeda motor multiguna. Sebelum menuju tempat kerja bisa mengantarkan anaknya ke sekolah atau mengantar keluarga berbelanja. Sepulang kantor pun bisa saja untuk ngojek cari tambahan pemasukan buat beli bensin. Keempat, biaya perawatan motor termasuk murah asalkan hati-hati menggunakannya serta rajin merawatnya.

Mobilitas Ekonomi Kelas Bawah
Pengalaman mengesankan tentang membeludaknya sepeda motor adalah ketika saya berkunjung ke Vietnam sekitar lima tahun lalu. Ketika kendaraan berhenti di lampu merah, gerombolan sepeda motor bagaikan laron mengelilingi cahaya lampu. Sedemikian banyaknya memenuhi jalanan. Hanya saja uniknya di sana relatif kecil tingkat kecelakaan karena mesinnya sudah diatur sedemikian rupa sehingga tidak bisa lari di atas 40 km/jam.
Sekarang lorong-lorong Jakarta pun penuh dengan sepeda motor sebagai respons masyarakat bawah yang tidak mampu membeli mobil dan kecewa dengan layanan transportasi umum. Naik mobil pribadi maupun umum sama-sama tidak enak karena macet. Yang paling praktis adalah sepeda motor. Fenomena ini sekaligus juga menunjukkan dinamika ekonomi kelas menengah ke bawah.
Sepeda motor begitu lincah memasuki lorong- lorong kecil dan tempat parkir pun mudah. Secara psikologis, mereka terpacu bekerja lebih giat lagi untuk melunasi kreditnya ataupun agar bisa membeli sepeda motor yang lebih bagus mengingat kualitas dan harga sepeda motor sangat bervariasi. Bahkan mereka yang sudah punya mobil pun masih memerlukan sepeda motor di rumahnya.
Tidak asing lagi, pembantu rumah tangga saat ini sudah akrab dengan sepeda motor dan telepon genggam. Ini sebuah perubahan perilaku ekonomi, komunikasi, dan mental di kalangan masyarakat bawah. Hubungan ”majikan” dan ”pembantu” tidak sehierarkis zaman dahulu. Sekarang cenderung egaliter, bisa berkomunikasi melalui telepon.
Dibandingkan semasa zaman Orde Baru, jumlah kepemilikan televisi, sepeda motor, dan telepon genggam hari ini jauh lebih banyak dan melonjak. Oleh karena itu,di balik komentar yang suram tentang panggung politik, potensi dan perkembangan ekonomi Indonesia relatif stabil. Persoalannya hanyalah tingkat korupsi yang kian membengkak dan merata serta kesejahteraan rakyat yang timpang.
Sementara itu, kondisi sosial yang menyedihkan adalah semakin meningkatnya mental konsumtif masyarakat. Diperkirakan gaji seorang pembantu rumah tangga, seperempat atau bahkan lebih, dibelanjakan untuk membeli pulsa hanya untuk mengobrol atau bergosip dengan temannya. Jadi, di samping terjadi revolusi sepeda motor yang mengindikasikan mobilitas ekonomi dan gaya hidup masyarakat bawah, mental konsumtif juga naik tajam.
Dalam kaitan ini peran iklan di televisi sangat besar pengaruhnya. Sajian televisi bagaikan panggung campursari, silih berganti antara berita kecelakaan, korupsi, banjir, ceramah agama, musik, lawak, dan sebagainya. Semua itu tidak akan tersaji tanpa dukungan iklan dan setiap iklan bertujuan menggerakkan tangan pemirsa agar antusias merogoh koceknya untuk berbelanja apa yang dijajakan dalam televisi.
Salah satunya adalah membeli sepeda motor dengan segala turunannya. Memang ada beberapa keluhan dari orang tua, anak-anaknya yang masih sekolah di tingkat SMP dan SMU bersikeras minta dibelikan sepeda motor. Padahal, ekonomi orangtua sangat berat, lagi pula dengan memiliki sepeda motor tidak menjamin prestasi belajar anak-anak semakin meningkat. Bahkan bisa sebaliknya yang terjadi.

Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat   
Jumat, 09 Desember 2011 08:42

0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
10:34 PM

Menakar Kasih Ibu

Menakar Kasih Ibu

Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali, bagaikan surya menyinari dunia.
Bait nyanyian di atas sangat populer dan selalu dikumandangkan oleh anak-anak sejak di TK (taman kanak-kanak). Kalimatnya sederhana,namun maknanya sangat dalam. Kucuran kasih ibu kepada kita bagaikan sang surya yang setiap saat melimpahkan cahayanya untuk memberikan kesegaran penduduk bumi, namun tak pernah minta balasan apa pun dari kita.Ada lagi pepatah klasik yang menyatakan: Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan.
Kasih dan perhatian ibu kepada anakanak tak ada putusnya, ibarat jalan yang tidak mengenal ujung. Sementara perhatian anak pada ibu sungguh tak sebanding. Ingin membuktikan? Coba disurvei, berapa jam sehari anak memikirkan ibunya, dan berapa jam sang ibu memikirkan anaknya? Berapa kali sang ibu mendoakan anak-anaknya, dan berapa kali sang anak mendoakan ibunya? Sedemikian tulus dan mulianya sosok ibu sehingga bumi ini juga dinisbatkan sebagai ibu (mother earth).Bumi senantiasa memberi pada manusia.
Semuanya diberikan.Tanpa dukungan dan kebaikan bumi, manusia akan sengsara. Sayang, manusia sombong dan tidak tahu berbalas kasih, ibu pertiwi dikhianati dan disakiti. Ujung-ujungnya pasti manusia yang akan sengsara. Nasihat agar anak memuliakan ibu juga sangat populer diceritakan secara turun-temurun di Sumatera Barat melalui legenda Malin Kundang yang kemudian berubah menjadi batu menangis karena menyesali perbuatannya menyakiti hati sang ibu. Di zaman Rasulullah SAW juga ada pemuda bernama Alqomah yang sakit keras dan saat mau meninggal sangat tersiksa karena ibunya masih sakit hati atas kelakuannya.
Baru setelah sang ibu memaafkan, Alqomah menghembuskan nafas terakhirnya. Mengingat peran utama ibu tak lain adalah mengasihi dan membesarkan putra-putrinya agar kelak tumbuh pintar, dewasa, dan mandiri. Sifat yang mulia ini juga dilekatkan pada lembaga pendidikan atau sekolah yang kita sebut ”almamater”. Dari bahasa Latin, almamater artinya ibu yang mengasihi dan memberikan makanan bergizi agar para siswa tumbuh sehat. Makanya sekolah sering disebut sebagai rumah kedua (second home) atau ibu kedua (second mother).
Di dalam Alquran dan Hadits pun ditegaskan,betapa mulianya sosok ibu sehingga anakanak Adam wajib mencintai, menghormati, dan merawatnya, terlebih ketika mereka sudah masuk usia lanjut. Makanya dalam ajaran Islam tidak dikenal pembangunan rumah jompo sebagai tempat penitipan orang tua.Orang tua itu pembuka pintu langit yang akan menurunkan berkah tak terhingga bagi anak-anaknya yang merawat dan mencintai, sabda Rasulullah SAW.
Ketika ditanya oleh seorang pemuda, siapa yang paling berhak memperoleh penghormatan dalam hidup ini? Rasulullah SAW menjawab: ”Ibumu!” Siapa lagi? ”Ibumu.” Siapa lagi? ”Ibumu.” Siapa lagi? ”Ayahmu.” Jadi jelas sekali bagaimana ajaran Rasulullah SAW dalam menghormati sosok ibu. Lalu ada seorang pemuda yang menangis, dia sedih sekali tidak lagi memiliki ibu karena sudah meninggal, lalu bertanya pada Rasulullah SAW: Saya ingin sekali membalas budi ibuku,tapi sudah meninggal.Apa yang sebaiknya saya lakukan?
Rasulullah SAW menjawab: Doakan almarhumah ibumu, dan hormati serta sayangi ibu-ibu yang kamu jumpai di mana pun, nilainya akan sama dengan berbakti kepada ibu kandungmu. Dalam kajian psikologi perkembangan anak dikatakan, pendidik yang paling hebat adalah ibu. Dalam teori dan praktik hypnoparenting misalnya penanaman nilai dan sugesti yang paling efektif adalah dilakukan ibu di saat anak hendak tidur atau sambil bermain.
Makanya sangat dianjurkan ketika ibu tengah menyusui anaknya atau meninabobo mengantarkan tidur, momen itu sangat bagus untuk membisikkan doa dan cerita-cerita sehingga anak-anak memiliki rekaman kuat di bawah sadar tentang nilai-nilai luhur dan memiliki mimpi besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa single parentyang dilakukan seorang ibu bagi anakanaknya jauh lebih sukses ketimbang single parent oleh seorang ayah. Doa, kasih sayang, dan kerja keras seorang ibu yang dilihat dan terekam dalam bawah sadar anak-anaknya bagaikan humus atau pupuk bagi pertumbuhan jiwa anak untuk tumbuh menjadi pohon besar yang kuat terterpa angin.
Demikianlah, pantas sekali kita berterima kasih dan senantiasa hormat serta mencintai ibu-ibu kita.Namun,ada satu sosok ibu yang menimbulkan keprihatinan kita semua yaitu ”Ibu Kota Jakarta” yang tidak bisa menjadi teladan kota- kota lain di Indonesia serta tidak memberikan rasa aman dan nyaman.

Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat   
Jumat, 23 Desember 2011 09:35

0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
9:13 AM

Ketika Kata Kehilangan Makna

Ketika Kata Kehilangan Makna

Mari sejenak kita perhatikan bayi yang belum bisa berbicara. Jika merasa sakit,bahasa yang digunakan adalah menangis dan gerak tubuhnya. Kalau senang, dia tidur pulas, diam atau tersenyum.
Dia belum bisa berkomunikasi dengan menggunakan ungkapan verbal.Yang primer dan penuh makna adalah bahasa tubuh untuk mengungkapkan perasaan yang disampaikan dengan jujur, lugas, apa adanya. Dalam masyarakat primitif yang kosa katanya terbatas–– mirip pertumbuhan anak kecil––, mereka berkomunikasi tidak menggunakan kosa kata sebanyak masyarakat modern. Atau perhatikan komunikasi dalam rumah tangga. Ada kalanya bahasa tubuh lebih menonjol dan efektif ketimbang ungkapan verbal.
Misalnya pelukan, senyuman, anggukan kepala, tatapan mata, semuanya itu lebih sampai pesannya dan langsung mengena dibandingkan bahasa pidato para politisi atau pejabat negara. Dengan perkembangan teknologi komunikasi yang lazim digunakan sebagai media sosial, baik media cetak maupun elektronik, berbagai statemen verbal dan tertulis berhamburan memenuhi ruang angkasa dan membanjiri serta menyerbu ruang batin kita melalui pintumatadantelinga.
Dimanapun berada, kita dihadapkan dengan kata-kata. Begitu bangun tidur, pesawat televisi sudah siap menemani dan menyajikan sarapan kata-kata.Tinggal pilih saluran televisi yang mana dan menu apa yang diminati. Di mobil pun siaran radio selalu setia bersama Anda. Demikian seterusnya dari bangun tidur sampai hendak tidur lagi, kata-kata bagaikan lalat atau tawon yang mengejar Anda. Mengapa lalat atau tawon? Karena kata-kata kadang menimbulkan rasa risih dan bising.
Sulit menemukan ruang yang hening untuk mendengarkan suara hati.Tentu saja tidak mungkin kita membalikkan jarum sejarah. Perkembangan jumlah kata dan mesin cetak telah membuat loncatan peradaban manusia. Penyebaran ilmu pengetahuan berkembang pesat. Coba saja ambil dan kumpulkan kamus-kamus bahasa di dunia. Sungguh fantastik jumlah perbendaharaan kata-kata yang digunakan oleh manusia. Hal ini menunjukkan bahwa dunia manusia itu memang beragam.
Di dalam kata dan bahasa terkandung nila-inilai dan adat-istiadat. Kedua, prestasi manusia sangat mengagumkan dalam membangun dunia simbol berupa kata-kata. Melalui kata-kata yang dirangkai menjadi kalimat, paragraf, dan buku, sebuah bangsa menyimpan dan meneruskan informasi prestasi peradabannya kepada generasi berikutnya ataupun disampaikan kepada bangsa lain melalui terjemahan.
Tapi yang menjadi catatan dan keprihatinan kita saat ini adalah ketika kata-kata telah kehilangan makna dan wibawa. Langit wacana politik Indonesia bagaikan mendung dengan wajah muram. Wacana dan perdebatan politik serta hukum berlangsung tanpa nurani dan kejujuran. Saya sendiri sering ragu ketika mendengar statemen politik dan perdebatan hukum seputar pemberantasan korupsi.
Saya mulai hafal wajah-wajah aktor yang produktif mengeluarkan statemen politik dan perdebatan pasal KUHP. Ungkapan-ungkapannya pun mulai terasa klise. Apakah mereka berbicara tulus dan lugas seperti anak kecil mengekpsresikan perasaannya ataukah sebuah akrobat logika dan kata-kata semata mengabdi pada keuntungan uang dan permainan panggung? Kita sadar betul, dalam kehidupan demokrasi politik dan hukum sangat vital perannya. Tidak mungkin berdemokrasi tanpa aktor politik dan ahli hukum.
Tapi politik dan hukum tanpa integritas justru akan menambah subur korupsi karena telah terjadi manipulasi dan penipuan terhadap kebenaran untuk mengelabui rakyat dan negara.Jadi, ketika terjadi korupsi lalu proses penyelesaiannya melibatkan pejabat negara dan ahli hukum yang juga korup, yang terjadi adalah pelembagaan dan perlindungan korupsi. Dalam kehidupan sosial sehari- hari,jika kata tak lagi bisa dipercaya, ambruklah bangunan peradaban. Seseorang pun akan kehilangan teman.
Pintu rezeki akan tertutup. Dan sungguh ironis ketika kebohongan itu dilakukan justru dalam ranah negara yang tugas utamanya adalah mendidik dan melindungi warganya. Kebohongan itu berlindung di balik institusi dan sistem sehingga rakyat sulit untuk menunjuk langsung pelakunya. Hanya saja, akibatnya sangat terasa, kata-kata lalu kehilangan makna dan wibawa.
Jika dalam komunitas kecil, komunikasi warga bisa langsung dan personal layaknya dalam sebuah keluarga.Tetapi dalam kehidupan bernegara dan masyarakat modern, komunikasi sosial berlangsung dalam panggung virtual lewat media massa. Realitas sosial yang dipoles dan ditampilkan dalam media massa melalui gambar dan kata-kata sudah melalui proses seleksi dan seleksi bisa juga terjadi manipulasi.
Di situlah terletak kelebihan dan kelemahan dunia virtual. Dalam tayangan visual apa yang buruk bisa dipoles dan disulap jadi indah. Atau sebaliknya. Makanya tidak mengherankan kalau sebagian masyarakat sudah tak lagi percaya pada kata-kata dan otentisitas gambar yang disajikan dalam media massa. Dan sungguh merupakan malapetaka sebuah bangsa ketika kata-kata dan sabda para pemimpin, pejabat, politisi, dan penegak hukum telah kehilangan wibawa dan dianggap kurang bermakna di mata masyarakat.


Ditulis oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat   
Jumat, 23 Desember 2011 09:35
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
9:12 AM

12/4/11

Ketergantungan

Ketergantungan

Bangun tidur
ambil BB
buka facebook
update status
komen-komen
mandi
makan, BB di samping piring
ke kampus/kantor
pasang headset
setel lagu
buka facebook lagi
update lagi
komen lagi
ngetik-ngetik
jalan sambil nunduk
mata ga lepas dari BB
ada teman lewat ga di sapa
ada yang ngajak bicara, di cuekin
senyum-senyum sendiri
nyebrang hampir ketabrak becak.
ada yang manggil ga di dengar
nyampe ruangan ngecas
tugas belum selesai
pulang juga sama
pasang headset
setel lagu
tidak peduli sekeliling
sampe rumah
lempar sana-sini
main BB lagi
cape
tidur
bsoknya bangun, gitu lagi.
yang saya heran itu, kenapa sekarang kebanyakan orang sudah bergantung dengan kotak elips yang super canggih itu. seakan dunia ini sudah tidak nyata lagi, dunia nyata ini sudah diambil alih oleh dunia maya/kotak itu, sampai-sampai saat ada diskon setengah harga untuk barang itu orang rela berdesak-desakan untuk bisa memilikinya sampai-sampai petugas kewalahan menangani antusias masyarakat yang begitu luar biasa demi sebuah teknologi yang begitu canggihnya.
maka manfaatkanlah teknologi sebaik mungkin sesuai konteksnya karena sayang juga kalau kita tidak bisa mengikuti perkembangan zaman, kita akan tersisih terpinggirkan atau kata Tukul “Ndeso”. tapi jangan berlebihan seperti kronologi di atas karena ketika kita mendapat sebuah musibah (mudah-mudahan ga) BB yang kita bawa itu ga bakalan bisa menolong, mustahil juga kalau minta  tolong di BB, kita keburu mati duluan baru ada orang yang nolongin.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
erig
6:15 PM
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Comments (Atom)
Find Us :

Entri Populer

  • Kode Etik Jurnalistik
    Kode etik jurnalistik sangat penting bagi wartawan untuk mengatur etika-etika sang wartawan dan menentukan yang mana harus dilakukan dan ya...
  • TV ONLINE
    blog free download
  • Embun Pagi
    Ketika Jendela Terbuka Sinar Matahari Mencubit Manja Kulit Wajahku Membelai Halus Selembar Nyawaku Setetes Embun Ku Jilat Sejuk Mera...
  • PUTRA NABABAN SANG JURNALIS BERPRESTASI
    Putra Nababan mengawali karirnya di Koran Merdeka yang berubah nama menjadi Rakyat Merdeka, kemudian pindah ke Metro tv dan ke RCTI. Pria ...

Arsip Blog

  • ►  2013 (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2012 (27)
    • ►  November (1)
    • ►  May (7)
    • ►  April (5)
    • ►  March (5)
    • ►  February (2)
    • ►  January (7)
  • ▼  2011 (74)
    • ▼  December (9)
      • banner
      • Garis Batas
      • Pornografi di Medan Perang
      • Metamorfosis Beragama
      • Kembalikan Martabat Politik
      • Revolusi Sepeda Motor
      • Menakar Kasih Ibu
      • Ketika Kata Kehilangan Makna
      • Ketergantungan
    • ►  November (3)
    • ►  October (6)
    • ►  September (8)
    • ►  August (11)
    • ►  July (8)
    • ►  June (6)
    • ►  May (9)
    • ►  April (7)
    • ►  March (5)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2010 (27)
    • ►  December (10)
    • ►  November (1)
    • ►  October (3)
    • ►  September (3)
    • ►  August (10)

Pages

  • BERANDA
  • RADIO STREAMING
  • TV ONLINE
  • VIDEO
  • PICTURE

Pages

  • Home
ar_mutajalli. Powered by Blogger.
Copyright 2013 Blog Keywords - All Rights Reserved
Design by Mas Sugeng - Published by Evo Templates