Beberapa jam yang lalu banyak sekali ide-ide yang mengapung di kepalanya, tapi dia menunda untuk menuliskan ide-ide itu karena PC yang sering dia pakai sekarang dalam proses penginstalan. Dia menunggu PC itu selesai dan membiarkan ide-ide itu mengawang-ngawang di pikirannya. Dalam imajinasinya, dia akan menuliskan semua ide ini nanti ketika PC saya sudah selesai terinstal.
Namun setelah saatnya tiba, dia baru sadar kalau semua ide-ide itu yang tadinya bebas berkeliaran di pikirannya hilang entah kemana. Dia berusaha untuk mengingat-ngingat semua ide-ide itu dan hasilnya nihil. Dia terus mencari dan mencoba menemukan kemana perginya ide-ide itu, dia mencari kesemua sudut yang ada diantara partikel-pertikel otaknya namun hasilnya sama, tidak ketemu. Sampai akhirnya dia pun tertidur karena kecapean mencari ide itu.
ketika terbangun bukannya dia ingat ide-ide itu, malah dia lupa kalau yang menyebabkan dia tertidur adalah karena kelelahan mencari ide-ide itu. sebelum dia mencuci muka, seperti biasa dia langsung nongkrong di depan PCnya, [entah kenapa akhir-akhir ini nongkrong di depan PC merupakan tempat nongkrong yang paling indah baginya] dia baru sadar kalau tadi dia sedang mencari ide-ide yang hilang, karena bekas tulisannya masih ada di PC itu dan ternyata PC itu pun juga tertidur (sleep) karena kelamaan menunggu.
Akhirnya dia memutuskan untuk menulis apa saja yang masih tersisa didalam pikirannya, dan jadilah tulisan ini. Dia akhirnya sadar kalau ternyata tidak ada ide itupun merupakan suatu ide. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak menulis.
Yang terakhir, alangkah lebih baiknya kalau dia menulis saat itu juga ketika ide itu muncul. Karena menurut seseorang yang tidak mau disebutkan identitasnya dan lebih senang dikenal tanpa nama, menurutnya ide itu seperti kentut yang ingin keluar kapan dan dimana saja seenaknya dia. Tidak memandang kalau kita sedang ada di tempat yang ramai, bersama pacar, bersama atasan, kalau dia mau keluar ya kita harus menurutinya. kalau ditahan pun setengah mati dan akan menjadi penyakit. Kentut tidak memandang situasi dan kondisi, begitulah ide.