Mempelajari bahasa harus mengikutkan rasa, bukan cuma makanan yang bisa dirasakan tapi bahasa juga harus dirasakan. karena ada beberapa kata yang jika ingin diartikan tidak memiliki arti yang pas dalam bahasa yang bisa kita pahami.
seperti dalam mempelajari bahasa Inggris, contohnya penggunaan kata “been” dalam kalimat “We had been chatting for two hours when you knocked at our door last night”. dalam bahasa Indonesia kata been ini sulit di artikan/dibahasakan, namun kita bisa memahaminya. tapi kalau kita ingin mencari arti yang tepat untuk been dalam kalimat ini maka akan sulit. been dalam kalimat tersebut hanya sebagai tanda, yang menandakan bahwa kalimat itu adalah lampau. kita harus melibatkan rasa dalam memahami kalimat itu.
begitupun dengan bahasa lain di dunia ini yang tidak memiliki arti yang pas jika di artikan ke dalam bahasa Indonesia. termasuk bahasa daerah yang ada di Nusantara ini jika ingin diartikan kedalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar maka akan sulit. seperti halnya jika saya berbicara dengan orang sedaerah saya menggunakan bahasa indonesia ala daerah saya [Sul-Sel], maka orang dari daerah lain jika mendengarkan percakapan saya maka sulit untuk memahaminya walaupun sebenarnya bahasa yang saya gunakan itu bahasa indonesia.
makanya jika ingin mempelajari banyak bahasa maka kita harus merasakan bahasa itu tidak heran jika orang yang menguasai banyak bahasa memiliki banyak kawan, relasi, dan mudah bergaul karena dia bisa mengerti dan merasakan tentang segala hal.